
Jakarta, Petrominer – Secangkir kopi biasanya hanya menyisakan aroma dan rasa. Namun secangkir kopi Canaya membawa cerita yang jauh lebih panjang, yakni tentang panas bumi dari perut Gunung Kamojang, petani yang menggantungkan hidup dari kebun kopi, dan sebuah upaya mengubah energi bersih menjadi nilai ekonomi.
Kopi Canaya ini bukan sekadar minuman. Biji kopi Arabika dari Kamojang tersebut melewati proses pengeringan dengan memanfaatkan panas bumi. Teknologi yang dikembangkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) bersama Koperasi Pemasaran Bersama Kanyaah Kamojang (KOPBASHKA) itu mempertemukan dua hal yang selama ini seolah berada di jalur berbeda, yakni energi bersih dan kesejahteraan petani.
Canaya diperkenalkan PGE di RECHARGE – Green Brew Space, ruang kolaborasi yang berada di kantor Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Dari ruang itu, kisah di kaki Gunung Kamojang dibawa lebih dekat kepada masyarakat.
Pemanfaatan Langsung
Selama ini, panas bumi lebih dikenal sebagai sumber pembangkit listrik. Di Kamojang, PGE mencoba memperluas pemanfaatannya melalui konsep direct use geothermal.
Panas dari pembangkit listrik Kamojang disalurkan melalui sistem heat exchanger untuk menghasilkan energi panas yang digunakan dalam proses pengeringan kopi. Teknologi tersebut dikenal sebagai Geothermal Coffee Process (GCP).
Perubahannya cukup sederhana untuk dipahami, tetapi besar dampaknya bagi petani. Proses pengeringan yang sebelumnya membutuhkan sekitar 30–40 hari karena bergantung pada cuaca, kini dapat dipangkas menjadi 3–10 hari saja.
Suhu dan kelembapan juga dapat dikendalikan selama 24 jam. Hasilnya, biji kopi menjadi lebih bersih dan seragam, dengan risiko cacat rasa yang lebih rendah, sementara karakter manis buah dan keasaman khas Arabika Kamojang tetap terjaga.
General Manager PGE Area Kamojang A. Novi Purwono mengatakan inovasi tersebut menunjukkan panas bumi dapat memberikan manfaat yang melampaui penyediaan listrik.
“PGE tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri,” ujar Novi.
Menurutnya, Canaya merupakan produk Geothermal Coffee Process yang memanfaatkan panas bumi untuk proses pengeringan kopi. Inovasi tersebut sekaligus menjadi contoh pemanfaatan langsung energi panas bumi untuk meningkatkan daya saing komoditas lokal.
Nilainya Kembali ke Petani
Di balik perubahan proses produksi itu terdapat persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan petani, yakni harga jual hasil kebun.
Dengan kapasitas produksi mencapai 6–8 ton ceri kopi per siklus, efisiensi proses pengeringan membuat koperasi dapat meningkatkan harga pembelian ceri kopi dari petani menjadi Rp17.000–Rp18.000 per kilogram.
Sebelumnya, harga pembelian berada di kisaran Rp16.000 per kilogram.
Selisih tersebut mungkin terlihat sederhana jika dihitung per kilogram. Namun bagi petani yang menggantungkan penghasilan dari kebun, tambahan nilai pada hasil panen menjadi bagian penting dari keberlanjutan usaha.
Saat ini, lebih dari 300 petani kopi di wilayah Kamojang telah merasakan manfaat program tersebut.
Dampaknya bahkan tidak berhenti di pasar domestik. Kopi Canaya telah menembus pasar ekspor ke Jerman dan Jepang. Produk yang tumbuh dari kebun di kaki Gunung Kamojang itu kini memiliki kesempatan bersaing di pasar internasional.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan pemanfaatan panas bumi harus mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Melalui inovasi seperti Geothermal Coffee Process, kami ingin menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal,” ujar Ahmad Yani.

Energi Bersih, Ekonomi Sirkular
Bagi PGE, Geothermal Coffee Process merupakan bagian dari upaya mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat. Energi yang tersedia di sekitar wilayah operasi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga dimanfaatkan kembali untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Pendekatan tersebut juga membawa manfaat lingkungan. Pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan kopi mengurangi ketergantungan pada alat pengering berbahan bakar fosil sehingga turut mendukung upaya dekarbonisasi.
Atas inovasi tersebut, PGE Area Kamojang meraih penghargaan ASEAN Renewable Energy Project Awards 2024.
Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi mengatakan kehadiran RECHARGE – Green Brew Space menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa pengembangan energi baru dan terbarukan dapat berjalan bersama program pemberdayaan masyarakat.
Di tempat itu, pengunjung tidak hanya disuguhi kopi. Mereka juga diperkenalkan pada sebuah rantai cerita: panas bumi menjadi energi, energi membantu mengeringkan kopi, kopi memberi nilai tambah bagi koperasi, dan nilai tambah tersebut kembali kepada petani.
Canaya akhirnya menjadi lebih dari sekadar produk kopi. Kehadirannya memperlihatkan bahwa transisi energi tidak selalu berbicara tentang pembangkit, turbin, atau angka kapasitas listrik.
Di Kamojang, energi bersih menemukan bentuk lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Panas bumi menyentuh proses produksi, mempercepat pengeringan, membantu menjaga kualitas, membuka pasar, dan memberi ruang bagi petani untuk memperoleh nilai lebih dari hasil kebunnya.
Dari kebun-kebun kopi Kamojang hingga meja konsumen di Jerman dan Jepang, perjalanan Canaya menunjukkan bahwa energi bersih dapat memiliki cerita yang sangat manusiawi. Sebuah cerita yang mungkin cukup dimulai dari secangkir kopi.









Tinggalkan Balasan