Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di acara Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12).

Jakarta, Petrominer – Guna mendorong pengembangan industri otomotif atau kendaraaan bermotor roda empat atau lebih yang menggunakan listrik sebagai penggeraknya dan juga pengembangan kendaraan hibrida, Pemerintah akan mendorong industri di dalam negeri untuk mempersiapkan standarnya. Salah satu adalah penggunaaan standar emisi berbasis Euro 4.

Pasalnya, jika masih menggunakan basis standar emisi Euro 2 seperti yang saat ini masih umum di Indonesia, akan tidak sesuai dan masih jauh dari upaya pemerintah mendorong penggunaan kendaraan mobil berbasis listrik yang menggunakan standar Euro 4. Hal tersebut berkaitan dengan kualitas penggunaan BBM yang berhubungan juga dengan penggunaan teknologi pada mesin kendaraan.

Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam acara Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12),

“Jadi Euro 4 itu harus diimplementasi terlebih dulu. supaya kita jangan lari ke industri electric vehicle, tetapi masih memakai standar emisi Euro 2. Implementasi Euro 4 harus di-push, supaya produk ekspor kendaraan bermotor kita pada akhirnya juga dapat meningkat,” papar Airlangga.

Saat ini, tegasnya, Indonesia juga sedang mempersiapkan agar program yang termasuk salah satu pekerjaan rumah yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini bisa selekasnya dibahas oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Dengan begitu, bisa memperoleh insentif fiskal. Selain itu, penerapan kebijakan ini diharapkan juga masuk dalam kebijakan yang penerapannya dapat memperoleh fasilitas insentif. Apalagi, industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berorientasi ekspor.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution disaksikan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani di sela acara Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12).

Tumbuh 5,6 Persen

Industri otomotif termasuk pada kategori industri alat angkut, sebagai salah satu industri yang akan dipacu pertumbuhannya tahun 2018. Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas ini tahun 2018 mencapai 5,67 persen.

Menurut Airlangga, capaian ini akan dipacu oleh semua subsektor terutama industri logam dasar, makanan dan minuman, alat angkutan, mesin dan perlengkapan, farmasi, kimia, serta elektronika. Selain itu didukung pula pembangunan kawasan industri di berbagai daerah di Indonesia.

“Kami optimistis, industri Indonesia akan dapat bertumbuh lebih tinggi. Untuk itu, diperlukan kerja bersama dengan seluruh stakeholders guna menjalankan langkah-langkah strategis dalam mencapai target pertumbuhan industri tersebut,” katanya.

Menperin juga menegaskan, berbagai potensi dan peluang untuk mengakselerasi pertumbuhan industri perlu juga dimanfaatkan secara optimal. Tujuannya, agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas dan berkesinambungan. Optimisme dunia usaha dan konsumen dapat menjadi peluang dan kesempatan memacu pertumbuhan industri nasional, ujarnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian bersama pemangku kepentingan terkait bersinergi untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi di sektor industri. Antara lain melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif dan kepastian hukum, penggunaan teknologi terkini untuk mendorong peningkatan mutu, efisiensi dan produktivitas. Selanjutnya, didukung dengan ketersediaan bahan baku, harga energi yang kompetitif, sumber daya manusia (SDM) kompeten, serta kemudahan akses pasar dan pembiayaan.

Pertumbuhan konsumsi juga perlu dijaga dan kembali ditingkatkan agar permintaan terhadap produk-produk industri semakin meningkat. Selain itu, stimulus fiskal dari dana desa dan belanja pemerintah terus kita dukung, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, imbuhnya.

Hingga saat ini, berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah telah membuahkan hasil positif untuk perkembangan industri nasional. Mulai dari indeks daya saing yang semakin meningkat, jumlah investasi di sektor industri yang terus bertambah, sehingga berdampak terhadap peningkatan populasi industri dan penyerapan tenaga kerja, capaian hilirisasi industri yang semakin baik, hingga peningkatan jumlah industri kecil dan menengah yang telah mengaplikasikan ekonomi digital.

Pada triwulan III tahun 2017, pertumbuhan industri pengolahan non-migas Indonesia mencapai 5,49 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,06 persen. Cabang industri yang menopang kinerja manufaktur tersebut, antara lain industri logam dasar yang bertumbuh 10,6 persen, diikuti industri makanan dan minuman 9,49 persen, industri mesin dan perlengkapan 6,35 persen, serta industri alat transportasi 5,63 persen.

Industri masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Pada kuartal tiga tahun ini, menyumbang 17,76 persen atau tertinggi dibanding sektor lainnya, ungkap Airlangga. Kinerja penyerapan tenaga kerja di sektor industri pun menunjukkan peningkatan, dari 15,54 juta orang tahun 2016 menjadi 17,01 juta orang pada 2017.

Hingga saat ini, geliat industri nasional masih menunjukkan tren yang positif. Pasalnya, kinerja dari beberapa sektor manufaktur mampu melampaui pertumbuhan ekonomi seperti industri logam dasar, makanan dan minuman, alat angkutan, mesin dan perlengkapan, serta kimia dan farmasi.

Hal ini memperkuat asumsi masih tingginya market confidence dan apa yang dilakukan Pemerintah Jokowi sudah berada pada track yang benar, ujarnya.

“Apabila dilihat dari kontribusinya, industri memberikan sumbangan terbesar terhadap PDB nasonal. Kalau digabung dengan turunannya, kontribusinya lebih dari 30 persen. Dari segi penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan mendekati 1,5 juta orang yang terjadi tahun 2016-2017,” imbuh Airlangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here