Jakarta, Petrominer – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero), menyatakan siap menjadi partner bagi PT PLN (Persero) dalam program konversi BBM ke gas bagi pembangkit listrik. PGN akan menyediakan pasokan gas/LNG serta membangun dan menyediakan infrastruktur gas/LNG tersebut.

Realisasi komitmen pelaksanaan proyek strategis nasional tersebut dituangkan dalam Surat Perjanjian Induk Kerja Sama Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG di 52 lokasi pembangkit listrik PT PLN dengan PT PLN (Persero). Penandatanganan surat perjanjian tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PGN, Suko Hartono, dan Direktur Energy Primer PLN, Rudy Hendra Prastowo, Senin (5/10).

Seperti diketahui, PLN dan Pertamina mendapatkan penugasan dari Pemerintah untuk melaksanakan gasifikasi pembangkit PLN di 52 lokasi dengan estimasi kapasitas pembangkit ± 1,8 gigawatt (GW). Penugasan ini tertuang dalam Keputuran Menteri ESDM 13/2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, serta Konversi Penggunaan Bahan Bakar Minyak dengan LNG dalam Penyediaan Tenaga Listrik. Selanjutnya, PGN ditugaskan oleh Holding Migas PT Pertamina untuk menyediakan pasokan dan infrastruktur LNG bagi pembangkit listrik PLN tersebut.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menjelaskan bahwa proyek ini untuk kepentingan bersama, sebagaimana yang tertuang dalam Kepmen ESDM 13/2020 dalam rangka untuk mewujudkan ketahanan energi nasional. Selain itu, program ini juga untuk memperbaiki neraga perdagangan.

“Yang lebih penting lagi, melalui program ini adalah perwujudkan program konversi energi dari BBM ke gas bumi, apalagi gas domestik, maka ini jalan untuk kemandirian energi. Benefit bagi kedua belah pihak yaitu mewujudkan adanya gas yang lebih murah dibandingan dengan HSD,” ujar Rida.

Dengan adanya bahan bakar gas yang lebih murah, paparnya, diharapkan daya saing atau daya beli dari masyarakat dan PLN dapat mendorong perekonomian nasional. Semua itu merupakan langkah bersama sebagai anak bangsa untuk memperbaiki kondisi mulai dari lingkungan masing-masing.

Sementara Suko mengungkapkan bahwa sebagai Subholding Gas, dengan kapabilitas dan pengalaman dalam melayani dan mengelola pemanfaatan gas bumi nasional, PGN siap menjadi solusi dan partner bagi PLN dan Pemerintah dalam mendorong efisiensi produksi energi dan pemanfaatan di sisi hilir. Dengan begitu, gas bumi tidak lagi menjadi komoditas semata, namun secara nyata mampu menjadi pendorong perekonomian nasional dengan ketersediaan energi listrik yang bersaing dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaan proyek ini, menurutnya, PGN bertanggung jawab untuk menyediakan pasokan gas/LNG, membangun dan menyediakan infrastruktur gas/LNG meliputi jetty, fasilitas pembongkaran (unloading), fasilitas penyimpanan, regasifikasi, transportasi gas/LNG, pipa gas sampai ke titik serah yang disepakati, termasuk metering regulating system (MRS) pada pembangkit listrik terkait. Selanjutnya untuk transportasi LNG dari sumber pasokan atau fasilitas penghubung (HUB) LNG akan dihubungkan ke fasilitas pembongkaran (unloading) infrastruktur LNG, menggunakan Small Scale LNG Carrier.

“Kami akan mengupayakan pembangunan infrastruktur LNG dapat berjalan tepat waktu, dengan teknologi tepat guna dan efisiensi tinggi ditengah tantangan di masa pandemi. Peningkatan pemanfaatan TKDN juga optimalisasi peran anak perusahaan dan afiliasi, adalah salah satu pendekatan yang dilaksanakan agar proyek dapat berjalan secara efektif dan efisien,” jelas Suko.

Perjanjian tersebut juga untuk mengatur penyelarasan pasokan LNG dan gas dengan kontrak-kontrak penyediaan LNG dan gas milik PLN yang sudah ada, atau melalui kesepakatan lebih lanjut oleh para pihak untuk optimalisasi dan efisiensi penyerapan pasokan LNG dan gas pada sisi pembangkit tenaga listrik.

“Pada prinsipnya, pelaksanaan proyek ini dipriotaskan untuk efisiensi, efektifitas, serta keberlanjutan pemanfaatan gas dan ketersediaan tenaga listrik serta mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, sehingga dapat menghasilkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik di plant gate yang efisien,” ungkapnya.

Penandatangan Surat Perjanjian Induk Kerja Sama Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG di 52 lokasi pembangkit listrik PT PLN dengan PT PLN (Persero) dilakukan di masing-masing kantor dan terhubung secara virtual, Senin (5/10).

Quick Win

Untuk tahap awal, PGN dan PLN sepakat melaksanakan tahap Quick Win di PLTMG Sorong, PLTMG Tanjung Selor, dan PLTMG Nias. Tahap ini ditargetkan dapat menyediakan harga yang lebih rendah dari HSD di plant gate pembangkit listrik PLN.

“Tahap Quick Win dilaksanakan dan disepakati prioritas penyelesaian serta operasi komersial penyediaan pasokan dan infrastruktur LNG untuk pembangkit listrik PLN dalam bentuk koordinasi, penyelarasan kerja sama pemanfaatan fasilitas, percepatan gasifikasi, optimalisasi serta peningkatan produktivitas fasilitas yang ditargetkan dapat selesai pada tahun 2020,” ujar Suko.

Dia berharap, langkah strategis ini dapat memperkuat peran subholding gas dalam melayani kebutuhan gas bumi seluruh sektor, khususnya sektor kelistrikan. Langkah ini juga diharapkan bisa membantu Pemerintah untuk mencapai bauran energi nasional.

“Ke depan, PGN memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja sama dengan seluruh stakeholder agar dapat menjaga ketahanan energi domestik dan membangun infrastruktur gas bumi sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan gas bumi nasional. PGN sebagai Subholding Gas akan terus berkontribusi dalam pemulihan perekonomian pasca pandemi, peningkatan daya saing dan upaya menjaga ketahanan energi nasional,” ungkap Suko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here