Jepara, Petrominer – Beragam cara telah dilakukan untuk memperbaiki ekosistem laut atau terumbu karang. Namun untuk pertama kalinya, upaya restorasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan Artificial Patch Reef (APR) dan transplantasi Lamun menggunakan metode jangkar.
Adalah PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkit (UIK) Tanjung Jati B (TJB) yang telah mulai menerapkan metode tersebut di perairan Pulau Panjang, Jepara, Jawa Tengah. PLN juga melakukan inovasi untuk merubah perilaku masyarakat atau nelayan dengan konservasi Rajungan menggunakan metode In Situ.
General Manager PLN UIK TJB, Rahmat Aszwin, menjelaskan bahwa perbaikan ekosistem laut Pulau Panjang merupakan bagian dari program Juara MIK Pantura atau Rajungan dan Karang Endemik Pantai Utara Jawa. Program ini dilatarbelakangi beberapa faktor seperti maraknya penambangan karang ilegal, overfishing rajungan dan penurunan luasan vegetasi lamun di perairan Pulau Panjang.
“Kerusakan karang di perairan Pulau Panjang mencapai 93 persen, overfishing rajungan dari tahun ke tahun dan penurunan luasan vegetasi lamun membuat kami merasa perlu memperbaiki ekosistem di sini,” kata Rahmat, Sabtu (23/11).
Program ini ditujukan juga untuk membantu edukasi masyarakat sekitar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
APR merupakan susunan modul melingkar bertingkat dari konkrit blok dengan diameter kurang lebih tiga meter. Sejak diterapkan tahun 2016, luas APR terus berkembang dari 14,1 meter persegi hingga menjadi 98,9 meter persegi di tahun 2019, dengan indeks keanekaragaman karang meningkat dari 0,2 menjadi 1,3.
“Melalui program APR, jumlah karang pun terus meningkat hingga saat ini mencapai lebih dari 3.800 koloni,” jelasnya.
Sementara transplantasi Lamun dengan metode jangkar, jelas Rahmat, telah meningkatkan jumlah jenis ikan karang dan megabenthos di wilayah pengembangan lamun. Luasan area pun berkembang dari 265 meter persegi pada tahun 2016 menjadi 2295 meter persegi di tahun 2019. Hasilnya, tutupan vegetasi meningkat dari 30,5 persen di 2016 menjadi 72,21 di tahun 2019.

Konservasi Rajungan
Selain inovasi APR dan Lamun, PLN UIK TJB juga membuat sebuah inovasi yang berdampak pada perubahn perilaku masyarakat sekitar, yaitu konservasi Rajungan dengan metode In Situ.
“Masyarakat setempat awalnya menangkap rajungan secara berlebihan dan membuat jumlah rajungan terus menurun drastis. Berdasarkan Permen KP No. 56/2016 tentang regulasi penangkapan rajungan, akhirnya kami bentuk program konservasi rajungan metode In Situ, tujuan utamanya mengedukasi masyarakat dalam membiakkan rajungan di sini,” jelas Rahmat.
Metode ini memiliki empat tahap. Pertama adalah pembibitan, rajungan yang bertelur ditangkap dan dikarantina 7 hari di crab box. Kedua adalah penebaran bibit yaitu mengambil larva rajungan dan melepaskan bibit tersebut dengan metode 75 persen dikembalikan ke laut lepas, sementara 25 persen di keramba untuk budidaya. Tahap ketiga adalah pemberian pakan 3 kali sehari, dan tahap terakhir dipanen secara parsial setelah mencapai ukuran tertentu.

Menurut Mustain, seorang Nelayan Rajungan setempat binaan CSR PLN Peduli UIK TJB, program restocking ini menjadi yang pertama di dunia.
“Alhamdulillah melalui PLN, saya dan teman teman nelayan di sini dapat merestocking dan melepaskan sebanyak 4,3 juta anakan rajungan di perairan Pulau Panjang,” tegasnya
Selain itu, dampak positif juga didapatkan para nelayan yaitu peningkatan pendapatan hingga di atas UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) Jepara. Pendapatan nelayan meningkat hingga Rp 4,7 juta per bulan, sementara UMK Jepara sebesar Rp 1,8 juta per bulan.
“Peningkatan ini didapat dari tambahan penjualan petis rajungan, kerupuk rajungan, nelayan penyebrangan wisata,” jelas Mustain.









Tinggalkan Balasan