Melalui penyediaan PLTS di SPBU, Pertamina NRE tancap gas untuk mendukung transisi energi di internal Pertamina.

Paris, Petrominer – Renewables 2022 Global Status Report (GSR 2022) mengirimkan peringatan yang jelas bahwa transisi energi terbarukan global tidak terjadi meski banyak janji untuk melakukan pemulihan dengan cara hijau setelah pandemi Covid-19. Malahan, kondisi tersebut disebutnya telah membuat dunia tidak mungkin dapat memenuhi target iklim pada dekade ini.

“Meskipun energi terbarukan terbukti sebagai sumber energi yang paling terjangkau untuk meningkatkan ketangguhan dan mendukung dekarbonisasi, pemerintah dunia masih terus memberikan subsidi energi fosil. Gap antara ambisi dan tindakan ini memberi peringatan yang jelas bahwa transisi energi global tidak terjadi,” kata Direktur Eksekutif REN21, Rana Adib, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Rabu (15/6).

Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) pada November 2021 lalu, tercatat 135 negara berjanji mencapai nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050. Namun, hanya 84 negara yang punya target menambah porsi energi terbarukan dan hanya 36 negara yang menargetkan 100 persen energi terbarukan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah KTT Iklim PBB, deklarasi COP26 menyebutkan perlu mengurangi penggunaan batubara, tetapi gagal menyerukan target pengurangan batubara maupun bahan bakar fosil. Pasalnya, sebagian besar peningkatan penggunaan energi global tahun 2021 masih dipenuhi oleh bahan bakar fosil. Kondisi ini menghasilkan lonjakan emisi karbon dioksida terbesar dalam sejarah, naik lebih dari 2 miliar ton di seluruh dunia.

Di sisi lain, meskipun sektor ketenagalistrikan mencatat rekor penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 314,5 giga watt, naik 17 persen dibandingkan tahun 2020 dan pembangkitan (7.793 terawatt-jam), namun catatan itu tidak mampu memenuhi peningkatan konsumsi listrik 6 persen secara keseluruhan. GSR 2022 memperjelas bahwa pemenuhan target iklim akan membutuhkan upaya besar-besaran dan momentum terkait Covid-19 telah berlalu tanpa dimanfaatkan.

Runtuhnya Tatanan Energi Lama

Laporan tersebut juga menyebutkan tahun 2021 menandai berakhirnya era bahan bakar fosil murah, dengan lonjakan harga energi terbesar sejak krisis minyak tahun 1973. Pada akhir tahun, harga gas mencapai 10 kali lipat dari harga tahun 2020 di Eropa dan Asia, dan bahkan tiga kali lipat di AS, yang menyebabkan lonjakan harga listrik di pasar utama pada akhir tahun 2021.

Paruh kedua tahun 2021 menunjukkan sebuah awal dari krisis energi terbesar dalam sejarah modern. Kondisi ini diperburuk dengan invasi Rusia ke Ukraina pada awal tahun 2022.

Invasi Rusia ke Ukraina kian memperburuk krisis energi yang sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan gelombang kejutan komoditas yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat membebani pertumbuhan ekonomi global, ketika mengguncang lebih dari 136 negara yang bergantung pada impor bahan bakar fosil.

“Kenyataannya, sebagai tanggapan terhadap krisis energi, sebagian besar negara kembali mencari sumber bahan bakar fosil baru dan membakar lebih banyak batubara, minyak dan gas alam,” ungkap Adib.

“Rezim energi lama runtuh di depan mata kita. Namun respons krisis dan tujuan iklim tidak boleh bertentangan. Energi terbarukan adalah solusi yang paling terjangkau dan terbaik untuk mengatasi fluktuasi harga energi. Kita harus meningkatkan pangsa energi terbarukan dan menjadikannya prioritas kebijakan ekonomi dan industri. Kita tidak bisa memadamkan api dengan lebih banyak api,” tegasnya.

Kesempatan untuk Keadilan dan Otonomi Energi

Di bagian lainnya, dokumen GSR 2022 mengungkapkan meskipun ada komitmen baru untuk aksi iklim, pemerintah masih memilih memberi subsidi untuk produksi bahan bakar fosil dan digunakan sebagai pilihan pertama untuk mengurangi dampak krisis energi. Antara tahun 2018 dan 2020, pemerintah menghabiskan US$ 18 triliun, atau 7 persen dari PDB global tahun 2020, untuk subsidi bahan bakar fosil. Malahan, dalam beberapa kasus sambil mengurangi dukungan untuk energi terbarukan, seperti di India.

Tren ini mengungkapkan kesenjangan yang mengkhawatirkan antara ambisi dan tindakan. Ini juga mengabaikan banyak peluang dan manfaat dari transisi ke ekonomi dan masyarakat berbasis terbarukan, termasuk kemampuan untuk mencapai tata kelola energi yang lebih beragam dan inklusif melalui pembangkitan energi lokal dan rantai nilai.

Negara-negara dengan pangsa energi terbarukan yang lebih tinggi dalam konsumsi energi totalnya menikmati kemandirian dan keamanan energi yang lebih besar.

“Ketimbang menganaktirikan energi terbarukan dan bergantung pada subsidi energi fosil untuk meringankan beban biaya tagihan listrik masyarakat, pemerintah seharusnya memberikan dukungan langsung untuk memasang sistem energi terbarukan di rumah-rumah yang rentan (secara ekonomi). Pada akhirnya jalur energi terbarukan akan terbukti lebih murah (dalam hal efektifitas anggaran) walaupun memerlukan investasi awal yang besar,” kata Adib.

“Kami menyerukan target serta rencana jangka pendek dan panjang untuk beralih ke energi terbarukan, ditambah dengan batas akhir yang jelas untuk bahan bakar fosil. Penyerapan energi terbarukan harus menjadi indikator kinerja utama di semua sektor ekonomi,” kata Presiden REN21, Arthouros Zervos.

“Transisi energi adalah garis hidup kami,” kata Wakil Presiden Spanyol dan Menteri untuk Transisi Ekologis dan Tantangan Demografi, Teresa Ribera.

Menurut Ribera, dengan investasi yang tepat dalam teknologi, energi terbarukan menjadi satu-satunya sumber energi yang menawarkan setiap negara di dunia kesempatan untuk otonomi dan keamanan energi yang lebih besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here