Vice President AVEVA South East Asia, Sebastien Ory (kedua dari kiri).

Jakarta, Petrominer – Era Industri 4.0 dalam bentuk digitalisasi sudah diaplikasikan di sejumlah industri tanah air, termasuk industri minyak dan gas bumi (migas). Malahan, transformasi digital oleh PT Pertamina (Persero) berkontribusi besar terhadap nilai tambah perusahaan sebagai ujung tombak energi nasional.

Pertamina telah mengimplementasikan sejumlah inisiatif digitalisasi mulai dari sektor hulu hingga hilir. Salah satunya adalah implementasi aplikasi dalam penjadwalan pemeliharaan kilang yang sudah diterapkan di Kilang Balongan (Jawa Barat) dan Kilang Dumai (Riau). Bahkan ke depan, Pertamina akan memperluas aplikasi ini ke kilang-kilang lainnya, yaitu Kilang Cilacap (Jawa Tengah), Kilang Plaju (Sumatera Selatan) dan Kilang Balikpapan (Kalimantan Timur).

“Implementasi digitalisasi ini dapat mencegah unplanned shutdown kilang, sehingga meningkatkan kehandalan operasional dalam memenuhi kebutuhan energi nasional,” kata VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, di sela acara Pertamina Energy Forum (PEF) 2019, Rabu (27/11).

Selain itu, jelas Fajriyah, Pertamina juga sudah melakukan enam program utama digitalisasi yaitu Loyalty Program, Digital Refinery, Knowlegde Management & Best Practice in Upstream, Digital Procurement, Digitalisasi Korporat dan Digitalisasi SPBU & Terminal BBM.

Di sektor hulu, Pertamina telah melakukan transformasi digital dengan membangun Upstream Cloud dan Big Data Analytic. Ini merupakan bagian dari optimasi penggunaan aplikasi Petrotechnical yang tersentralisasi dan terintegrasi. Sementara di pengolahan, Pertamina tengah menyiapkan predictive maintenance yang terintegrasi melalui adopsi advanced analytics. Langkah ini juga diharapkan bisa meminimalisir terjadinya unplanned shutdown.

Di hilir, Pertamina terus melanjutkan program utamanya yakni digitalisasi SPBU & Terminal BBM. Dengan begitu, Pertamina bisa memonitor ketahanan stok dan distribusi BBM secara nasional. Begitu pula dalam proses pengadaan barang dan jasa, Pertamina telah menerapkan Digital Procurement yang diprediksi memberikan kontribusi efisiensi terbesar, yakni sekitar Rp 1,5-2 triliun per tahun.

Menurut Fajriyah, transformasi digital merupakan upaya Pertamina menjawab tantangan bisnis di masa mendatang dan cara Pertamina beradaptasi. Tujuan utama transformasi digital ini adalah meningkatkan layanan Pertamina baik untuk customer ataupun proses bisnis internal.

Manfaat digitalisasi ini juga diakui oleh Vice President AVEVA South East Asia, Sebastien Ory, dalam paparannya di PEF 2019, Selasa (26/11).

“Digitalisasi membantu mempercepat pengambilan keputusan sehingga operasional menjadi lebih cepat dan efisien. Sistem digital yang dipasang di aset-aset Pertamina juga dapat mengoptimalkan jadwal pemeliharaan yang bertujuan menghindari terjadi downtime. Performa keselamatan kerja di lapangan juga dapat lebih mudah dipantau melalui sistem digital ini,” jelas Sebastien.

Dia juga menegaskan bahwa digitalisasi bisa memberikan berbagai keuntungan bagi pelaku industri energi, di antaranya keandalan aset serta meningkatkan efisiensi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here