Proyek Sisi Nubi AOI Onstream, Gas Mengalir 20 MMSCFD

0
1152
Seorang pekerja PHM sedang melakukan pemeriksaan rutin di control room lapangan Sisi Nubi, wilayah kerja Mahakam, Kalimantan Timur.

Balikpapan, Petrominer – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) secara resmi melakukan onstream  Proyek Sisi Nubi Area of Interest 1-3-5 (Sisi Nubi AOI). Dari proyek strategis ini, ada tambahan produksi gas sebesar 20 MMsCFD (juta standar kaki kubik).

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan keberhasilan onstream proyek ini merupakan wujud komitmen PHM untuk terus mendukung keberlanjutan produksi migas dari Wilayah Kerja (WK) Mahakam yang berperan penting dalam penyediaan energi bagi masa depan Indonesia. Pencapaian ini merupakan hasil kerja sama seluruh pekerja PHM dan mitra kerja.

“Kami berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Ditjen Migas, SKK Migas dan perusahan mitra kerja untuk menerapkan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan kegiatan operasi dan bisnis hulu migas,” ujar Setyo, Jum’at (5/12).

Dia memaparkan, keberhasilan Proyek Sisi Nubi AOI ini ditandai oleh onstream sumur pertama yaitu SS-401 di platform WPS4 pada 4 Desember 2025 pukul 12:23 WITA dengan produksi 2,4 MMscfd (Adj Choke 24/64”). Ramp up sumur sampai choke 42/64” pada 5 Desember 2025 pukul 09.10 WITA, dengan produksi mencapai 10 MMscfd.

“Berdasarkan rencana, pada 6 Desember 2025 akan dibuka sumur SS-406 di platform yang sama sehingga pada 8 Desember 2025 produksi dari kedua sumur ditargetkan mencapai 20 MMscfd,” jelas Setyo.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa komitmen PHM dalam menerapkan inovasi dan teknologi di proyek ini sejalan dengan kebijakan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) sebagai induk usaha dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina. Penerapan inovasi dan tekonolgi ini diyakini sebagai langkah strategis dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, mempertahankan tingkat produksi, dan menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan.

Efisien dan Ramah Lingkungan

Proyek Sisi Nubi AOI mencakup pembangunan enam platform (anjungan) baru, tiga perpanjangan deck di fasilitas yang sudah ada, serta enam segmen pipa bawah laut sepanjang 22 kilometer dengan kedalaman laut 60-80 meter. Pembangunan ini menghubungkan anjungan baru dengan fasilitas yang sudah ada, serta 36 sumur development yang akan dilakukan pada 6 platform tersebut.

“Proyek ini menjadi contoh penerapan inovasi teknologi baik dari sisi subsurface, surface facility, operasi pengeboran, dan well interventionPenentuan target  subsurface pada proyek ini menggunakan metodologi seismic driven target berbasis machine learning,” jelas Setyo.

Metodologi ini, menurutnya, telah sukses membuka potensi mendapatkan hasil di atas ekspektasi melalui pengeboran dua sumur. Begitu pula di teknologi surface, proyek ini dikembangkan dengan penggunaan Suction Pile Foundation (SPF) yang merupakan terobosan baru dan pertama kali diterapkan di Indonesia. Tidahk hanya itu, metode ini memungkinkan instalasi struktur bawah laut lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan.

Di proyek ini, pengeboran sumur-sumur menerapkan metode New Concept-Sacrificial Casing, yakni sistem partisi terkini yang terbukti meningkatkan keandalan operasi sekaligus mempercepat durasi pekerjaan. Hasilnya, sumur SS-406 berhasil mencatat laju pengeboran (Rate of Penetration) tercepat dan aman di PHM. Pengeboran sumur ini juga menjadi sumur pertama di Indonesia yang mengimplementasikan pressure test dan fluid analysis langsung menggunakan rangkaian bor.

Selain itu, pekerjaan penyelesaian sumur juga menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk keberhasilan pemasangan peralatan completion berteknologi single-trip-multi-zones gravel pack sand control dan multi-zone packer isolation dengan ukuran tubular 9-5/8” dan 7”. Teknologi ini bertujuan untuk mengendalikan produksi pasir, mengisolasi beberapa zona reservoir untuk selective production dan persiapan future application of thru tubing screen, sehingga dapat mengoptimalkan produksi.

Setyo menambahkan, keberhasilan onstream sumur pengembangan di Platform WPS4 ini menjadi awal dari rangkaian produksi berikutnya. Saat ini, proyek Sisi Nubi AOI dilanjutkan pada tahap pengeboran development dengan menggunakan dua jack-up rig yang sedang beroperasi di dua platform yang berbeda.

“Saya optimis keberhasilan Proyek Sisi Nubi AOI dapat menjadi referensi bagi proyek-proyek hulu migas lainnya. Saya percaya bahwa kolaborasi yang kuat, integritas, dan semangat yang tinggi dapat memberikan hasil yang terbaik,” tegasnya.

Platform WPN7 di lapangan Sisi Nubi, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur.

Lapangan Mature

Dalam kunjungan dua hari sebelumnya ke PHM, Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyebutkan bahwa sebagian besar produksi minyak nasional berasal dari lapangan-lapangan mature yang dikelola PHE di berbagai wilayah Indonesia, seperti di WK Mahakam. Tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan tingkat produksi di tengah kondisi reservoir yang menurun secara alami.

Menurut Awang, inovasi dan teknologi merupakan salah satu pilar dalam keberhasilan pengelolaan lapangan mature. Meski begitu, faktor manusia tetap menjadi kunci.

“Keberhasilan strategi dan pelaksanaan proyek investasi hulu migas sangat bergantung pada kompetensi personel di lapangan. Kami terus mengembangkan kapabilitas pekerja, baik senior maupun generasi baru, agar adaptif, inovatif, dan mampu merespon tantangan industri,” jelasnya.

Sementara Direktur Utama PHI, Sunaryanto, mengatakan Proyek Sisi Nubi AOI bukan hanya tentang pembangunan fasilitas offshore, namun juga tentang semangat untuk terus maju di tengah tantangan operasional dan bisnis yang semakin tinggi. Dengan kapasitas desain rata-rata 20-25 MMSCFD per platform, proyek ini dapat meningkatkan produksi gas dan kondensat PHM yang akan berkontribusi kepada ketersediaan dan ketahanan energi nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here