Jakarta, Petrominer – Setelah diakusisi PT Pertamina (Persero) akhir tahun 2019, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) langsung tancap gas mengembangkan Proyek Revamping Platforming dan Aromatik senilai US$ 180 juta.
“Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Platforming Unit dari 50.000 barel per hari menjadi 55.000 barel per hari dan kapasitas produksi Paraxylene 600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun,” ujar Presiden Komisaris TPPI, Ardhy N. Mokobombang, usai mendampingi Direksi TPPI melaporkan progress proyek tersebut ke Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Rabu (23/9).
Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur TPPI Yulian Dekri, melaporkan bahwa pekerjaan Basic Engineering Design Package (BEDP) yang sedang dikerjakan oleh UOP telah dimulai 27 Maret 2020 dan akan selesai akhir September 2020. Sementara pembangunan lima tangki masih berjalan dan diperkirakan secara keseluruhan akan selesai pertengahan Desember 2021.
Menurut Yulian, pekerjaan revamping ini akan dilaksanakan awal tahun 2022 bersamaan dengan pelaksanaan Turn Around. Dengan begitu, kilang ini sudah bisa beroperasi secara penuh pada kuartal I-2022 mendatang.
“Sementara terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi produk impor Paraxylene, TPPI sudah mulai mengoperasikan unit produksi Paraxylene sejak Agustus 2020 secara dual mode yang menghasilan produk petrokimia dan produk BBM, dan akan ditingkatkan secara bertahap,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Pemasaran TPPI, Darius Darwis. Menurutnya, kebutuhan domestik Paraxylene saat ini sebesar 1 juta ton per tahun, sedangkan pemasok dari dalam negeri selain TPPI adalah hanya Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 200.000 ton per tahun.
“Dengan demikian, selama TPPI tidak berproduksi, terdapat impor Paraxylene sekitar 800.000 ton per tahun,” jelas Darius.
Untuk mengurangi impor Paraxylene pada tahun 2021, TPPI rencananya akan memproduksi Paraxylene sebesar 280 ribu ton per tahun, sehingga total produksi Paraxylene dalam negeri menjadi 500 ribu ton per tahun.
“Hal ini dapat mengurangi impor sejumlah 50 persen dari kebutuhan dalam negeri dan menurunkan current account deficit sejalan dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo saat mengadakan kunjungan ke TPPI tahun lalu,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyambut baik dan mendukung TPPI dalam melaksanakan proyek Revamping ini. Apalagi, produk-produk Petrokimia khususnya produk Aromatik ini sangat dibutuhkan di dalam negeri dan diimpor oleh berbagai perusahaan di Indonesia.
“Dengan memenuhi kebutuhan impor Paraxylene tersebut, peran TPPI dalam mengurangi impor dan current deficit account Indonesia menjadi sangat significant, dan ini sangat baik untuk membangkitkan perekonomian Indonesia,” ujar Agus.








Tinggalkan Balasan