Kapal Geomarin III bersandar dan melakukan openship di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, setelah hampir satu bulan melakukan penelitian dan pengembangan prospek minyak dan gas bumi serta energi baru terbarukan di perairan Bali Utara. (Petrominer/Sony)

Denpasar, Petrominer — Pusat Penelitian dan Pengambangan Geologi Kelautan (PPPGL), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM menggelar Open Ship Kapal Riset Geomarin III di Pelabuhan Benoa, Bali, Sabtu (20/5).

Open ship ini merupakan pemaparan hasil peneIitian potensi gas biogenik di Cekungan Bali Utara dan persiapan survei OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di perairan Bali Utara.

Acara ini dihadiri perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Perikanan dan Kelautan, Bappennas, Ditjen Migas, Ditjen EBTKE. SKK Migas. PT Pertamina (Persero) dan Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali.

Survei menggunakan KapaI Riset Geomarin III, kapal riset bidang migas dengan peralatan seismik 2D, marine gravity meter dan geomagnete. Untuk pertama kalinya, Geomarin III dilengkapi peralatan lengkap seIain seismik 2D, yaitu: gravity meter, geomagnete dan echosounder multibeam.

Saat ini, belum ada kapal riset di Indonesia, yang dilengkapi peralatan sejenis dan peralatan pendukung lainnya. Alat tersebut untuk menentukan model dan dimensi cekungan migas, sehingga akan menambah pemahaman tentang sistem petroleum (petroleum system) yang merupakan konsep penting daIam bidang migas. Peralatan ini juga dapat menentukan tingkat keprospekan cekungan migas.

Besarnya potensi gas biogenik Indonesia mendorong Komite Ekspiorasi Nasional (KEN) merekomendasikan PPPGL untuk meneIiti gas biogenik di 10 cekungan Indonesia. Ke-10 cekungan itu adalah Sibolga, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Utara Jawa Barat, Utara Jawa Timur, Barito, Kutai, Tarakan, Sengkang dan Waipoga. Dari 10 cekungan itu, tujuh cekungan terbukti mengandung gas biogenik dan tiga cekungan di area cekungan frontier.

Semuia gas biogenik bukan target utama daIam eksplorasi minyak dan gas bumi. Kebanyakan ditemukan tidak sengaja saat pencarian target gas dan minyak konvensional (termogenik). Kedalamannya antara SOD-1.000 meter sehingga biaya eksplorasi, pengeboran dan produksi relatif murah. Sekitar 20-30% cadangan gas dunia adalah gas biogenik dan baru ditemukan 4 trillion cubic feet (TCF) dan sebagian diproduksi di Indonesia. Baru 3,8% dari total 104 TCF gas cadangan Indonesia yang ditemukan sebagai gas biogenik dan masih banyak yang beIum ditemukan di Indonesia.

Penelitian gas biogenik di Cekungan Bali Utara difokuskan pada identifikasi sebaran dan pelamparan keberadaan gas biogenik di Sumur Terang-1 dan identifikasi potensi gas biogenik pada Formasi Mundu sampai tenggara P. Kangean di Perairan Utara Bali, yang teridentifikasi pada sumur SGP-I. Potensi ini sudah teridentifikasi pada penampang seismik hasil penelitian PPPGL sebelumnya. Pada penelitian ini, lintasan seismik diupayakan lebih rapat sehingga akan terlihat pola dimensi lebih tepat dan akurat pada saat idenfikasi dan pemodelan.

Salah satu pemanfaatan gas biogenik di Indonesia di Lapangan Gas Kepodang, Blok Muriah (Cekungan Pati) sekitar 70 km di utara Iepas pantai Rembang Lapangan seluas wiIayah 2.778 km2 ini menghasiikan gas 354 juta MMSCFD. Gas tersebut dialirkan melalui pipa sejauh 207 km untuk memenuhi kebutuhan gas Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tambak Lorok di Semarang, Jawa Tengah.

Total Kapasitas PLTGU Tambak Lorok sebesar 1.000 MW, dan lapangan gas Kepodang akan menyumbangkan listrik 600 MW.

Potensi gas biogenik dan beberapa sumur telah berproduksi di Cekungan Utara Jawa Timur, berbatasan dengan Cekungan Bali di perairan Bali Utara. Sumur bor Terang-1 terdapat indikasi potensi gas biogenik pada Formasi Mundu dengan kisaran kedaiaman 600-700 meter di bawah permukaan dasar Iaut dan penyebarannya sampai ke bagian tenggara P. Kangean.

Hasil penelitian potensi gas biogenik ini menuniukkan adanya perangkap yang potensial sebagai target anaiisis ianiut untuk diusuikan sebagai kandidat wilayah kerja (WK) migas di masa mendatang. Besarnya potensi gas biogenik di Indonesia menjadi target penelitian Pusat Peneiitian dan Pengembangan Geologi Kelautan berikutnya, sehingga selain menambah lokasi WK migas, juga akan menambah sumber daya gas di Indonesia.

Temperatur Air Laut

OTEC merupakan bagian dari Energi Baru Terbarukan yang bersumber dari perbedaan temperatur air laut yang mudah ditemukan pada perairan laut tropis. Potensi OTEC di Indonesia merupakan terbesar di dunia, tersebar di pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Sulawesi, Maiuku Utara dan Bali. PPPGL telah mengkaji dan meneliti potensi OTEC pada 17 lokasi sebesar 41 GW.

Potensi energi panas laut di perairan Indonesia diprediksi menghasiikan daya sekitar 240.000 MW. Indonesia bagian timur memiliki nilai AT Iebih besar dari Indonesia bagian barat, seperti perairan Bali Utara, karena temperatur Iaut di lapisan daiam di bagian barat Indonesia dengan kedalaman sama, Iebih tinggi dari di bagian timur.

Pemanfaatan OTEC berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. Energi ini bernilai ekonomi Iebih tinggi dibanding sumber energi Iainnya. Energi ini menghasiikan listrik dan air murni akibat penguapan air laut. Penggunaan OTEC di bidang perikanan memberikan nutrisi pada biota laut di permukaan laut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here