Timika, Petrominer — PT Freeport Indonesia (PTFI) memberikan fasilitas pelayanan penerbangan ke wilayah pedalaman Papua bagi karyawan asli Papua asal 7 (tujuh) Suku beserta keluarga mereka. Ke-7 suku itu adalah suku Amungme, Kamoro, Damal, Dani, Nduga, Mee dan Moni.
“Penerbangan ini dimaksudkan untuk membantu aktivitas mereka yang hendak menjalani cuti ke kampung halamannya maupun yang hendak bepergian dari kampung mereka menuju kota Timika,” ujar VP Strategic Business & Transportation PTFI, William Rising, usai meresmikan layanan penerbangan itu di Terminal Perintis Bandara Mozes Kilangin, Timika, Jum’at (24/6).
William menyatakan, program ini diharapkan dapat membantu karyawan yang akan pulang berlibur maupun yang akan kembali ke Timika menggunakan penerbangan ini.
Prosesi peresmian penerbangan ditandai dengan pemukulan tifa oleh Sudiro, Ketua PUK SP – KEP SPSI PTFI yang didampingi William Rising, VP Strategic Business & Transportation PTFI, Ferdinand Deda, Head of IR Stakeholder bersama para tamu undangan lainnya. Setelah prosesi pemukulan tifa, seluruh undangan diberi kesempatan melihat langsung dan berfoto bersama armada pesawat yang akan digunakan untuk melayani rute penerbangan ini.
Maskapai yang melayani penerbangan ini adalah Airfast Indonesia, Jhon Lin Air, dan MAF yang menggunakan armada pesawat jenis Twin Otter dan Grand Caravan yang akan melayani penerbangan hingga ke pedalaman di area Pegunungan.
Saat ini, ada sekitar 4.321 pekerja Papua (sekitar 39%-nya adalah karyawan Papua asal 7 Suku) yang bekerja di perusahaan tambang Freeport Indonesia di Mimika, Papua. Program penerbangan ini merupakan hasil dari kerjasama manajemen Freeport Indonesia bersama Organisasi Serikat Pekerja PUK SP-KEP SPSI PTFI, yang dituangkan dalam perjanjian kerja bersama (PKB) PTFI ke- XIX tahun 2015-2017.
Sebagai tahap awal, penerbangan khusus karyawan Papua asal 7 Suku ini akan melayani penerbangan ke-7 daerah tujuan di wilayah pegunungan yakni Ilaga, Beoga, Wamena, Paniai (Enarotali), Deiyai (Waghete), Dogiyai (Moanemani) dan Intan Jaya (Sugapa).
Selama ini, para karyawan harus menempuh perjalanan lebih jauh ke Jayapura jika hendak berlibur ke kampung halaman mereka di pedalaman Papua maupun saat kembali ke Timika. Pasalnya, tidak ada penerbangan yang melayani secara regular dari Timika menuju daerah asal mereka.








Tinggalkan Balasan