
Tangerang, Petrominer – Produk yang dihasilkan menggunakan energi bersih berpeluang memperoleh nilai lebih tinggi dan semakin diminati pasar global dibandingkan produk berbasis energi fosil. Tren ini mendorong pemerintah menjadikan transisi energi sebagai bagian dari strategi industrialisasi dan peningkatan daya saing produk nasional.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal tersebut saat mewakili Presiden RI Prabowo Subianto membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10).
“Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil,” ujar Bahlil.
Salah satu langkah pemerintah, menurutnya, tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 42,6 GW atau 61 persen direncanakan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT), dengan potensi investasi mencapai Rp 2.967,4 triliun.
Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang terintegrasi dengan jaringan listrik dan sistem penyimpanan energi. Selain itu, pengembangan ekosistem baterai dan bioenergi melalui penerapan B50 dan E20 diarahkan untuk menekan impor energi serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Pengembangan energi bersih juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi. Energi surya diperkirakan menghasilkan penghematan sekitar Rp 73,9 triliun per tahun dan membuka 5,5 juta lapangan kerja, sedangkan bioenergi berpotensi menghemat devisa Rp 170 triliun dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
“Kalau ini mampu kita lakukan, Bapak-Ibu semua, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia,” kata Bahlil.
Pemerintah berharap integrasi hilirisasi dan energi bersih dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Dengan pasokan energi yang andal dan rendah emisi, industri nasional diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang lebih kompetitif di pasar internasional.








Tinggalkan Balasan