@Fachry Latief
Ilustrasi. (Petrominer/ Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer — Potensi industri minyak dan gas bumi (migas) harus dijaga dan dimaksimalkan. Sektor ini penting untuk ketahanan energi nasional, dilihat dari semua potensi yang ada dan kemampuan dalam menghasilkan nilai tambah sebagai katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Saya kira sektor migas masih menjadi sektor yang strategis bagi Indonesia,” ungkap Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, dalam acara diskusi bertema “Potret Indonesia Tanpa Industri Minyak dan Gas Bumi,” yang digelar pekan lalu.

Komaidi menegaskan, industri migas berperan penting dan berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Jika tidak ada sektor ini, Indonesia terancam kehilangan investasi sebesar Rp 180-300 triliun setiap tahunnya. Angka ini hampir setengah dari realisasi investasi yang tercatat di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sepanjang tahun 2016 lalu yang mencapai Rp 612,8 triliun. Tidak hanya itu, Indonesia juga akan kehilangan penerimaan negara (APBN) dari pajak dan PNBP sekitar Rp 90 triliun hingga Rp 350 triliun.

“Setiap Rp 1 triliun investasi sektor hulu migas dapat menyerap 13.670 tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui gaji sebesar Rp 473,76 miliar. Karena itu, kami meminta pemerintah menaruh perhatian terhadap sektor migas,” katanya.

Mengenai Wacana pemerintah untuk memenuhi kebutuhan migas melalui impor, menurut Komaidi, ketahanan energi dan ketahanan ekonomi Indonesia menjadi sangat rentan. Indonesia pun akan sangat bergantung dengan negara lain. Tidak hanya itu, penciptaan nilai tambah ekonomi terhadap sektor pendukung dan pengguna migas akan berkurang signifikan.

“Kita perlu merubah paradigma dalam melihat peran industri migas bagi Indonesia. Saat ini, industri migas sangat penting untuk pengembangan dan penggerak pertumbuhan ekonomi serta penguat sendi-sendi ketahanan nasional,” tandas Komaidi.

Penggerak Sektor Lain

Dalam kesempatan yang sama, pelaku industri migas senior TN Machmud memaparkan bahwa di periode awal pembangunan, Indonesia membutuhkan banyak dana untuk membangun negeri. Sektor migas waktu itu adalah penyumbang terbesar untuk negara. Manfaat yang didapatkan sangat besar dan luas, yang dirasakan di berbagai aspek kehidupan masyarakat melalui pembangunan.

“Peran sektor migas saat ini, memiliki relevansi yang berbeda, tidak lagi sebagai penghasil utama pendapatan negara, namun sebagai sektor penggerak pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sektor migas beserta semua sektor pendukungnya dapat memberikan kontribusi hingga sebesar 62,67% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini disebabkan karena industri migas tidak berdiri sendiri, banyak industri penunjang yang ikut bergerak, seperti pengadaan barang atau jasa, konstruksi dan bidang lainnya. Satu dolar investasi di sektor hulu migas, dapat memberikan manfaat ekonomi sebesar 5,2 kali dari investasi awal.

Sektor migas juga berpotensi memberikan kontribusi sebesar 3-4% terhadap pertumbuhan PDB Indonesia. Pemerintah menargetkan pertumbuhan Indonesia sebesar 7%, sedangkan tahun ini PDB Indonesia diperkirakan hanya mencapai 4.6-5%.

“Pemerintah harus bisa melihat industri ini bukan hanya sekedar penyumbang PDB bagi negara, tetapi juga sebagai katalis penggerak ekonomi berbagai sector lain. Melihat kondisi ini, pemerintah sebaiknya tidak mengesampingkan sektor usaha strategis yang berpotensi memberikan kontribusi tinggi bagi pembangunan Indonesia,” tegas Machmud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here