Jakarta, Petrominer — Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Sudirman Said telah menandatangani revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Pesero) 2016-2025. Selanjutnya, RUPTL itu akan menjadi pedoman pembangunan sektor kelistrikan di Indonesia.

Sebelumnya revisi RUPTL ini termasuk alot untuk diselesaikan karena banyak poin yang tidak disetujui PLN. Pengesahan RUPTL PLN oleh Menteri ESDM pada pertengahan Juni 2016 itu juga sesuai komitmen Kementerian ESDM. Dengan begitu, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan segera dapat dilaksanakan, utamanya pelaksanaan Program 35.000 megawatt (MW).

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Kementerian ESDM, Sujatmiko, ada empat poin sebagai penyempurna RUPTL 2016-2025. Keempat poin itu sudah tercantum dalam revisi RUPTL 2016-2025 versi 19 Mei 2016.

Pertama, porsi batu bara ditetapkan sebesar 50 persen dari semula 55,5 persen. Sedangkan untuk menutup porsi EBT hanya mencapai 19,6 persen dari seharusnya 25 persen, akan ditutupi dengan gas. Sehingga porsi gas meningkat menjadi 29,4 persen. Padahal, semula porsi gas 24,3 persen.

Poin kedua, terkait proyek pembangunan jaringan transmisi High Voltage Direct Current (HVDC) Sumatera-Jawa dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 9 dan 10 dicantumkan. Semula poyek ini dihilangkan dalam RUPTL.

Ketiga, perubahan kapasitas PLTU Jambi kembali menjadi 2×600 megawatt (MW). Semula diusulkan 2×300 MW.

Keempat, terkait upaya untuk mengatasi kekurangan pasokan pada 2018. Pemerintah sepakat untuk mempercepat pembangunan pembangkit gas. Ditargetkan sertifikat layak operasi (commercial operating date/COD) di 2018.

Selengkapnya tentang RUPTL PLN 2016-2025 bisa didowload dari link berikut: http://www.djk.esdm.go.id/pdf/RUPTL/RUPTL%20PLN%202016-2025.pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here