Jakarta, Petrominer – Korea Selatan awal tahun ini telah memperkenalkan the 9th Basic Plan for Long-Term Electricity Demand and Supply 2020-2034. Target utama rencana ini adalah meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energinya, dari saat ini 15,1 persen menjadi 40 persen pada tahun 2034.
Menurut GlobalData, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu atau angin laut (PLTB laut) akan memainkan peran penting dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mencapai target penurunan iklim (climate goals).
Dalam laporan terbarunya berjudul “South Korea Power Market Size, Trends, Regulations, Competitive Landscape and Forecast, 2022-2035,” perusahaan data dan analisa terkemuka ini mengungkapkan bahwa PLTU menyumbang 64,4 persen sementara pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) menyumbang 26,2 persen dari total listrik yang diproduksi Korsel sepanjang tahun 2021. Sekitar 24 reaktor PLTN digunakan untuk memenuhi hampir sepertiga dari konsumsi listriknya, dengan permintaan mencapai puncaknya selama pertengahan musim panas ketika pelanggan perumahan menggunakan perangkat pendingin rumah.
“Kemampuan Korsel untuk menangani permintaan listrik domestik secara efektif berasal dari PLTU dan PLTN-nya yang besar. PLTN diperkirakan bakal terus memenuhi sekitar 21,8 persen dari kebutuhan listrik (dalam hal pembangkitan tahunan) hingga tahun 2035,” ungkap Power Analyst GlobalData, Attaurrahman Ojindaram Saibasan.
Menurut Saibasan, salah satu peluang pertumbuhan PLTN Korsel adalah dalam bentuk ekspor teknologi. Pasalnya, Korsel baru-baru ini mendapat kontrak proyek PLTN di Uni Emirat Arab (UEA), yang jika berhasil akan menjadikan Korsel sebagai eksportir terkemuka teknologi PLTN.
“Peluang pertumbuhan lainnya di sektor energi terbarukan secara khusus tersedia dalam PLTS dan PLTB laut. Hampir 40 persen dari proyek yang ada saat ini adalah tenaga angin laut,” paparnya.

Korsel berencana membangun PLTB laut terbesar di dunia pada tahun 2030, dengan kapasitas sekitar 8,2 gigawatt (GW). Proyek ini bertujuan untuk menjadi salah satu pemimpin di bidang ini dan negara itu mulai mengadopsi teknologi dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan ekonominya.
“Porsi PLTS dalam total pembangkit listrik diharapkan meningkat dari 4,1 persen pada tahun 2021 menjadi 8,4 persen pada tahun 2035. Pada Oktober 2020, Korsel telah mengumumkan tujuannya untuk mencapai net-zero emissions pada tahun 2050. Sejalan dengan tujuan ini, Pemerintah Korsel bermaksud membangun PLTB laut dengan kapasitas 12 GW dan PLTS berkapasitas 34 GW pada tahun 2030,” ungkap Saibasan.









Tinggalkan Balasan