Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, didampingi Wakil Dirut Darmawan Prasodjo dan jajaran Direksi PLN saat Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (28/1).

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) terus maksimalkan upaya penggunaan minyak sawit pada sejumlah pembangkit listrik. Hal ini direalisasikan dengan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemanfaatan bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar nabati (BBN) pada pembangkit listrik miliknya.

Pada tahun 2018, penggunaan biodiesel 20 persen (B20) dan B30 di pembangkit PLN mencapai 1,641 ribu kiloliter (KL). Sementara tahun 2019, meningkat menjadi 2,158 KL.

“Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan pemanfaatan B20 dan B30 yang terus kami optimalkan pemanfaatannya,” ungkap Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (28/1).

Menurut Zulkifli, penggunaan B20 dan B30 untuk pembangkit listrik ini sejalan dengan amanah Pemerintah terkait kebijakan untuk memperluas penggunaan B20 dan B30 di sektor industri guna. Langkah ini juga dalam rangka menekan konsumsi BBM nasional yang selama ini harus diimpor sehingga membebani keuangan negara.

Bahan bakar B20 dan B30 yang digunakan oleh PLN didapat melalui proses kimiawi yang disebut esterifikasi dari minyak nabati seperti CPO dan dicampur dengan minyak solar HSD (High Speed Diesel). Penerapan B20/B30 dalam pembangkit diesel PLN sudah berjalan baik, yang ditandai dengan peningkatan penggunaannya dari tahun ke tahun.

Untuk tahap selanjutnya, PLN tengah mengembangkan penggunaan minyak nabati seperti CPO tanpa proses esterifikasi, sehingga seluruh CPO dapat digunakan untuk mesin pembangkit tanpa melalui proses kimiawi yang memerlukan proses dan biaya produksi tambahan. Penelitian ini sekarang telah diujicobakan pada pembangkit diesel. Namun masih menemui kendala, yakni tingginya emisi yang dihasilkan dan timbulnya kerak pada mesin pembangkit.

“PLN terus mengembangkan penelitian ini dan mencari jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi residu yang berlebih. Jadi, PLN tidak menyerah atas penggunaan minyak nabati untuk kebutuhan PLTD,” jelasnya.

Menurut Zulkifli, jika CPO dapat digunakan langsung pada mesin-mesin pembangkit diesel PLN,  maka dapat mengurangi penggunaan BBM secara signifikan dan memangkas proses esterifikasi.

Karena itu, PLN akan terus melakukan riset lebih mendalam, dan mengujicobakan berbagai kemungkinan, sampai dihasilkan titik optimum dan efisiensi yang lebih tinggi.

“Kami yakin akan menemukan cara paling optimal dan efisien untuk dapat diterapkan pada pembangkit-pembangkit yang menyuplai listrik bagi masyarakat luas,” ujarnya dengan optimis.

PLN terus memaksimalkan penggunaan minyak kelapa sawit (CPO) sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik miliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here