Jakarta, Petrominer — PT PLN (Persero) menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) dan kontrak pembelian excess power dengan Pengembang Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tersebar di Regional Sumatera dengan total kapasitas 127,6 MW. Tidak hanya itu, BUMN itu juga menandatangani MOU pengembangan pembangkit EBT sebesar 21 MW.

“Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya PLN untuk meningkatkan pemanfaatan EBT, meningkatkan rasio elektrifikasi, serta mempercepat program melistriki desa yang belum berlistrik,” ujar Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN, Amir Rosyidin, usai acara penandatangan kesepakatan itu di kantor pusat PLN, Senin pagi (30/5).

Amir menjelaskan, langkah ini semakin menunjukkan komitmen PLN untuk terus mendorong pemanfaatan EBT dalam upaya meningkatkan rasio elektrifikasi dan melistriki desa yang belum berlistrik. Dengan begitu, target rasio elektrifikasi 98% pada tahun 2019 dan target porsi EBT 25% pada tahun 2025 dapat tercapai.

Amir mengaku, beban listrik regional Sumatera sampai saat ini sebesar 5250 MW. Sementara total kapasitas pembangkit EBT yang dapat berkontribusi dalam penyediaan pasokan listrik di wilayah Sumatera hingga Mei 2016 sekitar 115 MW, yang tersebar di 31 lokasi. Semuanya adalah Pembangkit Listrik Mini Hidro, dengan masing-masing kapasitas <10 MW.

“Pemanfaatan EBT di Sumatera akan bertambah lagi sampai 130 MW, di mana pembangkitnya tersebar di 18 lokasi dan baru memasuki fase konstruksi,” jelasnya.

Lokasi pembangkit EBT dan excess power yang PPA-nya ditandatangani tersebut adalah:

  1. Sumatera Utara: Pembangkit Mini Hidro dengan pengembang PT. Bakara Energi Lestari sebesar 10 MW terletak di desa Siunong-Unong Humbang Hasundutan, dan Pembangkit Listrik tenaga Biogass sebesar 1 MW dengan pengembang PT Siringo-ringo di Desa Sidomulyo, Labuhan Batu.
  2. Provinsi Riau: Pembangkit Biomass sebesar 15 MW dengan pengembang PT Riau Prima Energi berlokasi di Pangkalan Kerinci. Pembangkit berbahan bakar Biogas sebesar 1 MW juga akan dibangun di Pasir oleh pengembang PT Permata Hijau Sawit. Selain itu ada juga PLTMG (excess power) sebesar 25 MW di Pelalawan dengan pengembang PT Langgam Power. Provinsi.
  3. Sumatera Barat: PLTM 13,4 MW akan dibangun di Desa Pelangai Gadang, Pesisir Selatan oleh pengembang PT Dempo Sumber Energi.
  4. Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu: PLTMH dengan total daya sebesar 21,2 MW akan dibangun tersebar di Kota Agung Lahat, Banding Agung-OKU Selatan, Muara Kisam-OKU Selatan, Padang Guci Hulu-Seluma, Kepahiang, Rejang Lebong dan Bengkulu Utara yang akan dibangun oleh pengembang PT Green Lahat, PT Nusantara Indah Energindo, PT Midigio, PT Sahung Brantas Energy, PT Malaka Guna Energi, PT Tropisindo Sumber Energi dan PT Klaai Dendan Lestari.
  5. Provinsi Bangka Belitung: Pembangkit Biomass dan Biogas dengan total daya sebesar 14 MW akan tersebar di desa Cengkong Abang sebesar 2 MW yang dikembangkan oleh PT Bangka Biogas Sinergy, di Desa Mempaya Bangka sebesar 7 MW dikembangkan oleh Belitung Energy dan di Desa Tempilang Belitung sebesar 5 MW dikembangkan oleh Listrindo Kencana.
  6. Provinsi Lampung: PLTM yang dikembangkan oleh PT Uway Energy Perdana sebesar 7 MW akan dibangun di Desa Kemu, Kab Way Kanan. Selain itu Pembangkit Biomass juga akan dibangun sebesar 3 MW di desa Gunung Batin Lampung Tengah oleh PT Gunung Madu Plantations. Excess Power PLTU sebesar 17 MW dari PLTU Pelabuhan Tarahan sebesar 10 MW dan PLTU PT. Budi Starch & Sweetener Tbk sebesar 7 MW juga akan menambah daya di Lampung.
  7. Ada juga pembangkit di Pulau Simuleu Aceh. Pembangkit ini akan menggunakan bahan bakar CPO dengan kapasitas sebesar 5 MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here