Jakarta, Petrominer – Sebagai karya produk yang menjadi ikon negara berskala nasional dan telah diakui dunia, perkembangan batik sebagai warisan budaya tak benda wajib untuk dikawal. Selain itu, ada keindahan, keanggunan, dan komitmen untuk bercerita tentang kekayaan budaya lewat alur ulasannya.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT PLN (Persero), Sripeni Inten Cahyani, mengatakan batik tidak hanya menggambarkan sehelai kain. Namun lebih banyak menggambarkan warisan dari pikiran besar para leluhur, serta menggambarkan kebijaksanaan sebagai pedoman tentang cinta, kesabaran, kedamaian, dan kehidupan.
“Ada proses idealisme dalam membatik sebagai keagungan budaya bangsa Indonesia. Inilah legacy untuk generasi ke depan,“ ujar Sripeni dalam acara bertajuk “The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy“, Rabu (4/11).
Ada dua hal yang ditekankan dalam acara hasil kerjasama antara Gallery Amandari Batik dengan PLN ini. Pertama, untuk kalangan milenial di mana adanya transformasi dalam membatik, dan kedua tentang bagaimana membawa batik ke pasar global.
Karena alasan itulah, tegas Sripeni, PLN menghadirkan satu transformasi dengan mengajak kaum millenial yang budayanya adalah serba instan untuk ikut membatik dengan menggunakan canting listrik. Apalagi, penggunaan canting listrik (elektrik) ini bisa menciptakan efisiensi hingga 63 persen.
Canting Listrik
Pemilik Gallery Amandari Batik, Uti Rahardjo, mengatakan batik bisa dimanfaatkan sebagai salah satu jembatan komunikasi. Pasalnya, batik sudah melekat pada semua kalangan, mulai dari kaum sosialita, pengusaha, pemerhati budaya, maupun fashionpreneur dengan jaringan internasional.
Menurut Uti, batik memiliki tiga unsur yang terangkum dalam tema besar acara tersebut, yakni legacy, investment, dan diplomacy. Tidak hanya hasil budaya, namun dari hasil proses pembuatannya, batik juga harus bisa berinovasi dan bertransformasi, sehingga bisa terus dilestarikan.
Dia memaparkan bahwa dinamika dunia ini berubah sungguh cepat, di mana ada adaptasi yang harus dilakukan sesuai dengan zamannya. Batik bukanlah sekadar hasil printing, karena masih ada idealisme batik yang ditulis secara tradisional.
“PLN memiliki visi dan misi yang ingin memelihara legacy, melalui proses membatik sebagai suatu aktifitas yang lebih praktis, bersih, dan aman,” tegas Uti.

Alternatif atau transformasinya adalah membatik menggunakan kompor listrik, sepaket dengan canting listrik (elektrik). PLN memiliki alat inovasi membatik ini. Dengan canting elektrik ini, pengrajin atau pembatik tidak perlu lagi meniup cucuk canting sebelum menggoreskan motif. Alhasil, proses dalam pembuatan pola pun lebih cepat selesai.
Artinya, dengan alat yang inovatif tersebut, pengrajin tidak perlu lagi sibuk mengecek tingkat panasnya. Sehingga pengrajin bisa lebih fokus membuat batik. “Kalau lebih fokus, harapannya proses pembatikan bisa lebih cepat, dan secara ekonomis lebih naik,” ujar Uti berharap.
Nilai Jual Tinggi
Batik dari segi investasi memiliki nilai cukup tinggi. Karena sebuah batik yang unik, seperti sebuah lukisan yang hanya ada satu di dunia, sebagai collectible investment.
Sebagai investasi lain, sekarang semua orang sudah mencintai batik, bahkan sudah banyak desainer luar memakai bahan batik sebagai bahan dasar desain mereka. Di era digital seperti sekarang, pembatik bisa lebih mudah memasarkan batiknya ke luar negeri.
“Jadi investasi di sini juga menggambarkan market-nya yang semakin luas,” jelas Uti.
Tidak hanya itu, target lainnya yakni berkomunikasi dengan SEC: high end. “Karena PLN identik dengan kredibilitas tinggi dengan high end & international network, sehingga pemasaran PLN ke depan, sebaiknya menyasar pada pengambil keputusan di korporasi yang ada pada SEC ini,” paparnya.
Setelah event ini, Batik Amandari akan tetap menjalin kerja sama dengan PLN. Apalagi, ini menjadi bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN maupun Batik Amandari.
“Kami sebagai pengusaha juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang ingin merepresentasi,” tegas Uti.








Tinggalkan Balasan