, ,

PGN Tidak Efisien, Holding Tak Bisa Ditawar

Posted by

Jakarta, Petrominer — Para pendukung pembentukan Holding BUMN Energi terus mendesak Pemerintah segera merealisasikan rencana tersebut. Kali ini, holding energi disebutnya sudah tidak bisa ditawar lagi. Alasannya, untuk menutupi inefisiensi yang terjadi selama ini di PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Anjloknya laba bersih PGN pada semester pertama 2016 menjadi salah satu indikator bahwa BUMN tersebut tidak efisien. Padahal pada saat bersamaan, pendapatannya justru mengalami peningkatan.

“Memang tidak efisien. Dan agar efisien, solusinya adalah melalui sinergi di mana PGN menjadi bagian dari holding BUMN di bawah PT Pertamina (Persero),” kata Direktur Center for Energy Policy, Kholid Syerazi, Sabtu (3/9).

Menurut Kholid, inefiensi terjadi karena PGN mempertahankan struktur distribusi bertingkat atau berlapis. Dalam hal ini, PGN tidak menjual langsung kepada end user, namun kepada trader-trader yang bertingkat sehingga harga jual bisa sangat mahal.

“Akibatnya, meski pendapatan PGN meningkat, namun sebenarnya banyak biaya yang dikeluarkan sehingga tidak efisien. Apalagi, trader itu bisa bisa sampai tiga lapis,” katanya.

Laba PGN pada semester pertama 2016 memang terjun bebas. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih hilang sampai sekitar US$ 7 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Anehnya, anjloknya laba terjadi ketika pendapatan PGN meningkat dari US$ 1,42 miliar menjadi US$ 1,44 miliar.

Inefisiensi itu sendiri berdampak pada mahalnya harga gas sehingga banyak industri dalam negeri menjerit. Hal inilah yang menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, sebagai faktor penting dalam konsolidasi PGN menjadi anak usaha Pertamina dalam rencana pembentukan Holding BUMN Energi.

“Kenapa sangat penting PGN itu menjadi anak usaha Pertamina. Salah satunya adalah cost untuk infrastruktur pengiriman gas menjadi terintegrasi, sehingga tidak ada double investment,” jelas Rini beberapa waktu lalu.

Menurut Rini, pemerintah saat ini tengah mendetilkan alur gas bumi di dalam negeri, mulai dari sumur hingga dialirkan lewat pipa ke pelanggan. Dari situ akan dipetakan berapa ongkos yang dikeluarkan. Jika rencana menjadikan PGN sebagai anak usaha Pertamina berhasil, Rini berencana untuk memangkas biaya distribusi gas, dari sumur gas ke pelanggan.

Sementara itu, Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia KADIN Indonesia, Ahmad Widjaya, membenarkan bahwa saat ini harga gas sangat mahal dan membebani dunia usaha. Dengan anjloknya laba bersih PGN, ditakutkan hal itu akan berpengaruh terhadap maintainance bagi industri.

“Kami sudah bayar gas sangat mahal, tentu semakin khawatir,” kata Widjaya.

Penurunan laba itu sendiri, menurutnya, karena PGN sudah melenceng dari bisnis inti yang dijalani selama ini. Jika sebelumnya mereka fokus pada sisi hilir, sekarang mereka sudah merambah pada sisi hulu yang membutuhkan banyak biaya.

Widjaya memberi contoh eksploitasi gas alam yang dilakukan anak usaha PGN, PT Saka Energi, kemudian membeli blok minyak, blok gas, dan bahkan FSRU Lampung yang sekarang bermasalah. “Itu kan butuh biaya besar yang bisa menurunkan laba, tetapi bukan merupakan bisnis inti mereka,” tegasnya.

Terkait itulah, Widjaya mendesak supaya pemberlakukan holding segera dilakukan. Tujuannya, agar PGN lebih fokus pada bisnis inti, lebih efisien, serta tidak terjadi tumpang tindih terkait infrastruktur seperti yang terjadi selama ini.

“Harusnya holding BUMN Energi dilakukan sejak era Presiden SBY. Penurunan laba PGN saat ini, bisa menjadi peringatan bagi pemerintah, bahwa holding tidak bisa ditawar-tawar lagi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *