Pembangunan infrastruktur pipa minyak Blok Rokan dimulai yang ditandai dengan first welding (pengelasan perdana) yang digelar Pertagas di Kelurahan Kandis Kota, Kandis, Kabupaten Siak, Riau, Rabu (9/9).

Jakarta, Petrominer – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui PT Pertamina Gas (Pertagas) bersama Holding Migas Grup berkomitmen untuk mengawal dan menyelesaikan pembangunan Pipa Minyak Rokan sesuai target waktu yang telah ditentukan. Ini dilakukan dalam rangka mendukung upaya efisiensi program strategis nasional dan Holding Migas PT Pertamina (Persero).

Direktur Utama PGN, Suko Hartono, menjelaskan bahwa Pertagas melaksanakan first welding atau pengelasan perdana Rabu pekan lalu (9/9). Ini meupakan langkah awal dalam percepatan penyelesaian tahapan konstruksi. Proyek ini juga menandai awal dimulainya alih kelola blok Rokan kepada Pertamina tahun 2021 mendatang.

“Infrastruktur pipa minyak ini dibangun untuk mendukung program strategis nasional yang diemban Holding Migas Pertamina dalam menjaga ketahanan produksi energi setelah alih kelola Blok Rokan Hulu dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) tahun 2021,” ujar Suko, Senin (14/9).

Dia mengungkapkan bahwa proyek strategis dengan nilai Capex US$ 300 juta ini, mengoptimasi efisiensi capex yang pada awalnya sebesar US$ 450 juta, sehingga besaran penghematannya sebesar US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Efisiensi biaya ini diperoleh dari optimasi pada tahapan penetapan Final Investment Decision (FID) dan proses procurement.

“Hal ini merupakan upaya bersama dewan pengawas dan manajemen PGN dalam mengawal proyek pipanisasi minyak Rokan Hulu dapat berjalan efektif dan efisien di tengah tantangan ekonomi global dan pandemi,” jelas Suko.

Pada sisi pelaksanaan kontruksi, PGN Solution (PGASOL) selaku anak perusahaan PGN dan PT Pertamina Patra Drilling Contractor (PDC) berkolaborasi mengoptimalkan utilisasi fasilitas eksisting yang sudah ada di sana. Dengan demikian, sinergi berkelanjutan dalam keluarga besar Holding Migas ini dapat memberikan manfaat dan optimisme dalam menekan biaya operasional dan investasi proyek pipa minyak Rokan.

Tidak hanya itu, paparnya, upaya sinergi BUMN juga ditunjukkan dengan menggandeng PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dalam pengadaan material Pipa Minyak Blok Rokan. Sinergi ini merupakan bentuk nyata simbiosis mutualisme di mana Krakatau Steel sebagai salah satu pelanggan PGN yang menggunakan gas bumi PGN dapat menyediakan kebutuhan pipa baja yang bermutu dan berdaya saing.

“Hal ini merupakan manfaat nyata efisiensi penggunaan gas bumi bagi pemanfaatan produk TKDN yang bisa menghemat biaya pengadaan material sebesar 16 persen,” tegas Suko.

Upaya efisiensi dan kolaboratif juga ditunjukkan dengan menggandeng SDM lokal agar bisa menggerakkan potensi daerah dan tentunya multiplier effect secara ekonomi melalui pembangunan proyek Rokan bagi wilayah dan masyarakat sekitar.

“Transfer knowledge merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan SDM dan tentunya penguasaan aspek pemahaman teknologi maupun komersial dalam pembangunan proyek bagi anak bangsa, sehingga pelaksanaan proyek bisa berjalan intensif namun tetap efektif,” jelasnya.

Dengan panjang kurang lebih 367 kilometer (km), Pipa Minyak Rokan berdiameter 4-24 inchi ini akan melintas di lima Kabupaten/Kota di Provinsi Riau, Dumai, Bengkalis, Siak, Kampar, dan Rokan Hilir. Pipa ini berpotensi mengangkut minyak kurang lebih 200.000 – 265.000 barrel oil per day (BOPD).

“Setelah dilakukan koordinasi dengan Pertamina Hulu Rokan (PHR), direncanakan akan dilakukan commissiong partial Blok Utara terlebih dahulu pada kuartal III-2021, yaitu Koridor Balam-Bangko-Dumai. Kemudian disusul Blok Selatan yakni Minas-Duri yang ditargetkan on stream pada kuartal I-2022,” imbuh Suko.

Dia juga menegaskan PGN grup berkomitmen mengupayakan dukungan terbaik untuk Holding Migas Pertamina agar proses transisi pengelolaan Blok Rokan berjalan lancar dan dapat meningkatkan pencapaian efisiensi pembiyaan dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

“Proyek Pipanisasi Minyak Rokan menjadi upaya untuk mendorong efisiensi hulu migas di Indonesia, seiring dengan upaya pemerintah untuk mengurangi impor minyak. Pengerjaan pipa ini, juga dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan wilayah, bernilai lebih bagi industri baja dalam negeri, serta diharapkan nantinya mampu berkontribusi secara nyata bagi pergerakan roda perekonomian nasional,” ujar Suko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here