Singapura, Petrominer – SUN Energy menjadi perusahaan pengembang panel surya asal Indonesia pertama yang mengakuisisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Australia Barat. Keberhasilan ini menjadikannya sebagai salah satu perusahaan pengembang proyek tenaga surya dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia sejak tahun 2016.
Dalam waktu setengah dekade, SUN Energy berhasil melampaui rekor proyeknya sendiri hingga lebih dari 200 MWp dan memiliki lintasan pertumbuhan yang kuat menuju pertumbuhan hingga tahun 2025. Setelah memperkuat pondasi bisnis energi surya di Indonesia, SUN Energy kini mengejar pertumbuhan melalui ekspansi anorganik. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan akuisisi regional proyek pemasangan PLTS di Taiwan dan Thailand.
“Pada tahun ini, SUN Energy dengan bangga mengumumkan ekspansi globalnya ke Australia melalui akuisisi Merredin Solar Farm dari perusahaan pengembang teknologi surya global, Risen Energy,” ujar Chief Executive Officer SUN Energy, Philip Lee, dalam acara Asset Sale Agreement Signing Ceremony yang digelar secara virtual, Kamis (28/10).
Menurut Lee, pasar Australia adalah kunci bagi setiap perusahaan energi surya, mengingat potensi jangka panjangnya untuk pemanfaatan energi surya dan letak geografisnya. PLTS Merredin Solar Farm berkapasitas 132 MWp/100 MWac dengan total 354.452 panel terpasang dan kapasitas output listrik 274 GWh per tahun.
Selain melistriki sekitar 42.000 rumah di Australia Barat, Merredin Solar Farm juga berkontribusi untuk melistriki dua fasilitas milik BHP, perusahaan tambang Australia. BHP telah menandatangani perjanjian bahwa 50 persen listrik yang dihasilkan dari Merredin Solar Farm akan digunakan untuk smelter Nickel West Kwinana dan smelter pertambangan Kalgoorlie. Kontrak pembelian listrik energi terbarukan ini membuat BHP dapat berkontribusi mengurangi emisi dari penggunaan listrik di kedua fasilitas ini sebesar 30-50 persen.
Proyek pembangunan PLTS ini pun memiliki perjanjian dengan Sunshot Energy untuk sertifikat pembangkit skala besar yang dihasilkan oleh Merredin. Usai akuisisi, Risen Energy akan tetap menjadi kontraktor O&M untuk Merredin Solar Farm.
“Sebagai pengembang proyek tenaga surya yang kini berpusat di Singapura, SUN Energy telah memperluas portofolio penggunaan energi terbarukan dengan cepat di Asia-Pasifik. Pasar Australia adalah kunci bagi kami, mengingat potensi jangka panjangnya untuk penggunaan energi terbarukan dan letak geografisnya. Akuisisi ini mendukung strategi kami untuk menjadi salah satu perusahaan energi terbarukan terkemuka di Asia-Pasifik melalui kombinasi pengembangan proyek baru dan akuisisi selektif,” ungkap Lee.

Merredin Solar Farm awalnya dibangun dan dioperasikan oleh Risen Energy sejak tahun 2020. Memiliki misi yang sama dengan SUN Energy, Risen Energy bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan energi hijau di seluruh dunia dan berkembang secara internasional melalui ekspansi cabang dan jaringan penjualan di berbagai negara. Sejak tahun 1986 hingga sekarang, Risen Energy telah mencapai kapasitas produksi modul hingga 19,1 GWp.
“Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan SUN Energy untuk Merredin Solar Farm. PLTS ini merupakan ladang panel surya terbesar kedua yang dikembangkan oleh Risen Energy di Australia, dan kami berharap dapat memberikan lebih banyak proyek energi terbarukan ke Australia di tahun-tahun mendatang,” ujar Chief Executive Officer Risen Energy Australia, Archie Chen.
Selama proses akuisisi, SUN Energy bermitra dengan Voltiq (keuangan) dan DLA Piper (hukum) dalam hal transaksi, sedangkan Risen Energy bermitra dengan Holding Redlich (hukum). Melalui akuisisi ini, SUN Energy berhasil meningkatkan posisinya sebagai salah satu perusahaan energi terbarukan yang paling berkembang dari Indonesia di kawasan Asia-Pasifik, melalui kombinasi investasi untuk pengembangan proyek baru dan akuisisi selektif.








Tinggalkan Balasan