Nias, Petrominer – PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menyelesaikan seluruh target pembangunan lembaga penyalur BBM Satu Harga yang ditugaskan Pemerintah. Dari 150 titik yang ditargetkan terbangun sampai tahun 2019, Pertamina sudah mengoperasikan 121 titik BBM Satu Harga hingga jelang tutup tahun 2018 ini.

Program BBM Satu Harga merupakan realisasi komitmen Pemerintah dan Pertamina untuk menyediakan bahan bakar minyak (BBM) dengan harga sama seperti wilayah lain di Indonesia. Ini merupakan visi Pemerintah untuk mewujudkan keadilan suplai energi bagi masyarakat Indonesia.

Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja meresmikan dua lembaga penyalur BBM Satu Harga di Kabupaten Nias Utara dan Kabuparen Nias Selatan, Kamis (6/12). Kedua lembaga penyalur itu adalah SPBU Kompak 16.228.521 di Distrik Sitolu Ori, Nias Utara dan SPBU Kompak 16.228.810 di Distrik Hibala, Nias Selatan.

“Kami sangat mengapresiasi Pertamina yang sudah menjalankan mandat ini dengan sangat baik, dan berkomitmen untuk mencapai target BBM Satu Harga 2018 di 67 titik sebelum akhir Desember 2018,” ujar Menteri ESDM, Ignatius Jonan, usai meresmikan kedua SPBU tersebut secara simbolis.

Kedua lembaga penyalur di Sumatera Utara ini merupakan titik BBM Satu Harga ke-47 dan 48 yang diresmikan oleh Pertamina tahun 2018. Bulan Desember ini, Pertamina telah melakukan uji operasi di 67 SPBU yang menjalankan BBM Satu Harga, sesuai target dan roadmap yang ditugaskan Pemerintah.

Dengan demikian, dari target 150 titik BBM Satu Harga yang diberikan ke Pertamina selama tiga tahun 2017-2019 sudah terealisasi 121 titik.

Lihat juga: Program BBM Satu Harga di Kalimantan

Menurut Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas’ud Khamid, Pertamina akan meningkatkan pelayanan di Nias. Tak hanya melalui program BBM Satu Harga, namun dalam waktu dekat akan memulai pembangunan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) dan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di sekitar Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias.

“Pada 31 Desember 2018, seluruh penugasan negara yang diberikan kepada Pertamina yakni program BBM Satu Harga dan konversi mitan akan selesai. Ini merupakan kebanggaan bagi kami, Pertamina,” paparnya.

Mas’ud menjelaskan, SPBU Kompak di Distrik Hibala akan menerima suplai BBM dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Gunung Sitoli. Distribusi dari TBBM Gunung Sitoli ke SPBU ini memakan waktu lebih dari 2 jam dengan moda perjalanan darat (sekitar 95 kilometer), atau lebih dari 6 jam apabila ditempuh melalui jalan laut (sejauh 64,3 km). Pada SPBU ini akan disediakan BBM jenis Premium dan Solar.

“Sebelum dilakukan program ini, harga Premium di Distrik Sitolu Ori mencapai Rp 12.000 per liter. Sedangkan, Biosolar Rp 9.000 per liter. Saat ini, masyarakat Distrik Sitolu Ori bisa menikmati harga Premium Rp 6.450 dan Rp 5.150 untuk Solar,” tegasnya.

Sementara SPBU Kompak di Distrik Sitolu Ori berjarak 41 kilometer dari TBBM Gunung Sitoli. Sebelum adanya BBM Satu Harga, masyarakat setidaknya membayar Rp 7.500 per liter untuk Premium dan Rp 7.000 per liter untuk Solar.

Penyerahan paket perdana Kompor dan LPG 3 Kg dalam rangka program Konversi Minyak Tanah ke LPG 3 kg di Pulau Nias, Sumatera Utara.

Konversi Minyak Tanah

Selain peresmian BBM Satu Harga, Menteri ESDM dan jajaran juga membagikan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) dan Konversi Minyak Tanah (Mitan) ke LPG 3 kg di Pulau Nias. Konversi mitan ke LPG 3 kg dilakukan oleh Pertamina melalui mitra PT Kogas Driyap Konsultan. Pada Desember 2018, direncanakan akan didistribusikan sebanyak 21.859 paket perdana di wilayah Kabupaten Nias Utara.

Melalui pemberian paket perdana LPG 3kg, masyarakat akan lebih hemat karena setiap satu liter mitan setara dengan penggunaan 0,5 kg LPG. Selain itu, pembakaran LPG lebih baik daripada mitan sehingga dapat memiliki nilai panas lebih tinggi dan pengalaman memasak lebih baik.

Secara nasional, Pertamina telah menjalankan program konversi mitan ke LPG sejak tahun 2007. Sejak saat itu hingga 3 Desember 2018, tercatat pendistribusian paket perdana sudah mencapai 57,29 juta paket. Estimasi potensi nilai penghematan Pemerintah dari awal berjalannya program ini hingga tahun 2018 diperkirakan mencapai lebih dari Rp 250 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here