Pabrik pupuk Sriwidjaja di Palembang, Sumatera Selatan, salah satu anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Jakarta, Petrominer – PT Pupuk Indonesia (Persero) sepakat bersinergi dengan Pertamina Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) untuk menjajaki peluang pengembangan hydrogen dan penyediaan energi. Kerjasama ini sejalan dengan target net zero emission yang telah dicanangkan Pemerintah.

Rencana kerjasama itu dituangkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani secara virtual, Senin (2/8). Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman, dan Chief Executive Officer PNRE, Dannif Danusaputro.

Bakir menjelaskan, kerjasama ini tidak terbatas pada pengembangan hydrogen dan penyediaan energi saja. Sinergi ini juga akan memanfaatkan sarana dan peralatan teknologi serta komersialisasi green ammonia dan blue ammonia dengan menggunakan hydrogen sebagai bahan baku yang diproduksi oleh Pertamina Power Indonesia.

Hal ini, jelasnya, sejalan dengan upaya Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir yang tengah gencar mengkampanyekan pengurangan emisi karbon dalam rangka menciptakan industri yang lebih sustainable dan ramah lingkungan.

“Pupuk Indonesia Grup menaruh perhatian besar terhadap pengurangan emisi karbon dan kami sudah mengkaji pengembangan green ammonia dan juga blue ammonia,” ujar Bakir.

Amonia merupakan bahan baku utama untuk memproduksi pupuk. Sedangkan green ammonia dan blue ammonia merupakan amonia yang diproses dan dihasilkan dari sumber energi yang terbarukan. Amonia jenis ini memiliki kandungan karbon rendah, sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat menjadi bahan baku pupuk di masa depan.

Blue ammonia produksinya menggunakan blue hydrogen yang berasal dari sumber energi fosil. Karbon yang terbentuk dari proses produksi blue ammonia yaitu CO2 harus diinjeksikan kembali ke dalam perut bumi, dan terkait hal ini dikenal sebagai Carbon Capture Storage (CCS) Technology. Dari segi keekonomian, lebih efisien apabila CO2 dapat diinjeksikan ke dalam reservoir minyak ataupun gas yang sudah tidak digunakan lagi, dan lokasinya berdekatan dengan pabrik pupuk.

Sementara green ammonia produksinya menggunakan green hydrogen yang berasal dari sumber energi bersih, seperti energi panasbumi.

Saat ini, Pertamina tengah mengembangkan hydrogen sebagai energi baru, baik blue hydrogen maupun green hydrogen. Untuk green hydrogen, pengkajian dan uji coba dilakukan di wilayah kerja panasbumi Ulubelu yang dikelola Pertamina Geothermal Energy.

Pertamina PNRE beberapa waktu lalu juga telah menandatangani kerjasama dengan sejumlah pihak untuk mengembangkan teknologi Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) khususnya di Field Gundih dan Field Sukowati.

Selain itu, MoU tersebut juga mencakup sejumlah hal. Mulai dari kajian kebutuhan green ammonia dan blue ammonia oleh Pupuk Indonesia, kajian harga jual-beli bahan baku hidrogen oleh Pertamina Power Indonesia, hingga pemanfaatan sarana masing-masing perusahaan yang menunjang penerapan CCS.

Sinergi ini juga akan mengembangkan kompetensi personil dalam teknologi komersialisasi Energi Baru dan Terbarukan (EBT), dan kajian mengenai pengembangan secara strategis yang menguntungkan kedua belah pihak.

Net Zero Emission

Usai menyaksikan penandatangan MoU tersebut, Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury, mengatakan bahwa kerjasama yang dilakukan Pupuk Indonesia dengan Pertamina Power Indonesia itu sejalan dengan target net zero emission Indonesia.

“Ke depan BUMN perlu berupaya untuk mencapai target Indonesia menuju net zero emission sebelum tahun 2060, dan di tahun 2030 nanti yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa emisi karbon yang dimiliki oleh Indonesia atau yang dihasilkan oleh Indonesia akan mengalami penurunan sampai dengan 29 persen,” ujar Pahala.

Sementara Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan bahwa Pertamina tengah melakukan transisi energi yang sejalan dengan Grand Energy Strategy Indonesia, yaitu dari pengembangan yang didominasi energi berbasis fosil ke arah energi baru dan terbarukan.

“Sinergi BUMN antara Pertamina Power Indonesia sebagai Subholding PNRE dengan Pupuk Indonesia ini sesuai dengan target transisi energi Pertamina dalam 5 hingga 6 tahun ke depan untuk meningkatkan energy mix dari new and renewable energy sebesar 10 GW. Dengan rincian, 6 GW berbasis gas, 3 GW renewable energy, dan 1 GW new energy yang termasuk di dalamnya adalah hydrogen,” ungkap Nicke.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here