Makasar, Petrominer — PT Pertamina (Persero) terus berupaya mencapai target produksi minyak dan gas bumi (migas) 2.045 ribu barrel oil eqivalen per day (BOEPD) dan panasbumi sebesar 2.300 megawatt (MW) tahun 2030 mendatang. Salah satunya dengan menciptakan sinergi di sektor hulu, melalui gelaran Forum Sharing Teknologi Hulu (FSHT).
Ini merupakan gelaran pertemuan tahun keempat. Forum ilmiah ini digelar untuk menghasilkan temuan baru di bidang teknologi hulu, yang akan dimplementasikan secara praktis di wilayah kerja migas dan panasbumi Pertamina. Pertemuan ini juga sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi kebijakan dan rencana implementasi aspirasi hulu Pertamina tahun 2030.
Ketika membuka FSHT ke-4 di Makasar, Selasa pagi (25/7), Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menyampaikan harapannya agar FSHT dapat mendukung peningkatan produksi dan cadangan migas. Tentunya, dengan menciptakan sinergi Direktorat Hulu, Anak Perusahaan Hulu (APH) serta Direktorat lainnya untuk mewujudkan visi dan misi Pertamina menjadi perusahaan energi nasional berkelas dunia.
“Forum semacam ini akan mempercepat peningkatan kemampuan dalam penerapan teknologi yang efektif dan efisien, baik dalam bisnis Migas maupun energi alternatif lainnya,” ujar Massa Manik.
Dia juga berharap FSTH bisa dijadikan sebagai muara dari seluruh aktivitas kegiatan eksplorasi dan produksi migas, energi baru dan terbarukan serta panasbumi. Untuk itu, paparnya, perlu dibangun sinergi dan kolaborasi antara anak usaha di Direktorat Hulu, yang terdiri dari 8 APH, dan didukung oleh Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan, HSSE, Universitas Pertamina serta perusahaan-perusahaan kelas dunia dalam bidang teknologi.
Forum Sharing Teknologi Hulu ini sangat relevan dilaksanakan di tengah harga minyak yang belum kembali normal. Banyak lapangan-lapangan di Indonesia cenderung sudah matang, sehingga membutuhkan teknologi yang tepat guna agar bisa dioperasionalkan untuk optimalisasi produksi migas dan panasbumi.
FSTH yang mengambil tema: ‘Let’s Make Upstream Rising Up to Secure National Energy: Broader, Further and Deeper’ dimaksudkan untuk mendukung peningkatan poduksi dan cadangan migas dan panasbumi. Forum yang diselenggarakan Upstream Technology Center Pertamina sejak 2010 ini dilaksanakan secara berkala setiap dua tahun sekali. Pada tahun 2017 merupakan pelaksanaan FSHT yang ke-4 yang dilaksanakan di Makassar 24 s/d 28 Juli 2017.
Dari forum semacam ini telah dihasilkan beberapa temuan teknologi, antara lain UTC yang kini sedang dipatenkan sebagai teknologi Pertabocsy, suatu teknologi untuk mengidentifikasi keberadaan Hidrokarbon secara langsung dari Thermal Anomaly. Selain itu, ada beberapa temuan di bidang passive seismic, Drilling Mobile Apps yang berupa aplikasi engineering bidang pemboran dalam format aplikasi mobile yang sudah dipakai di seluruh dunia, Dream well berupa drilling data base, sentralisasi data (PUDC) yang sudah memperoleh ISO 27001, pendirian Lab EOR, menerbitkan Pedoman Geohazard, Pedoman Keteknikan Reservoir dan Produksi serta Pedoman Operasi Drilling.
Pemboran Eksplorasi
Sementara itu, Direktur Hulu Syamsu Alam menjelaskan, angka cadangan P1 migas sampai tahun 2016 sebesar 2.7 BBOE. Sementara pada awal tahun 2017, kegiatan eksplorasi Pertamina Hulu berhasil menemukan cadangan baru dari sumur Parang-1 (PHE Nunukan) sebesar 126 MMBOE (2C), dan Haur Gheulis dari Sumur Haur Gede-1 dengan estimasi cadangan 14 MMBO (2C).
Selain eksplorasi yang terbukti menghasilkan hidrokarbon pada tahun 2017, masih akan dibor lagi tujuh sumur oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Ketujuh sumur tersebut adalah KKX-1 (ONWJ), N-7 (WMO), Kumis-2 (Siak), Kotalama-3 (Siak), Karunia-1 (Abar), SE Sembakung-1 (Simenggaris), dan NEB Ext-1 (Jabung), dengan total perolehan 59 MMBOE (2C).
Sementara anak usaha Pertamina lainnya, yakni PT Pertamina EP, masih akan membor enam sumur eksplorasi. Dan diperkirakan, empat sumur selesai dengan estimasi 80 MMBOE (2C).
“Beberapa kegiatan eksplorasi telah ditindaklanjuti menjadi plan of development (POD), seperti di Badik dan West Badik (PHE Nunukan). Sementara PHE Randugunting sudah beralih dari fase eksplorasi ke development,” jelas Syamsu Alam.
Produksi Naik
Dalam kesempatan itu, Syamsul Alam juga melaporkan bahwa realisasi produksi migas dari 2014 s/d 2016 meningkat. Tahun 2014, produksi migas sebesar 549 ribu BOEPD naik 11 persen menjadi 607 ribu BOEPD. Di tahun 2016, produksi kembali naik 7 persen menjadi 650 ribu BOEPD.
Sementara realisasi produksi migas pada semester pertama 2017 mencapai 692 ribu BOEPD, naik lebih dari 8 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Tahun ini, produksi melebihi target RKAP sebesar 685 ribu BOEPD. Ini menunjukkan, Pertamina berkomitmen memenuhi target produksi migas nasional,” katanya.
Untuk realisasi kapasitas terpasang panasbumi, dari 2014 s/d 2016 juga naik 15 persen. Tahun 2014, sebesar 402 MW. Menjadi 437 MW tahun 2015 dan naik lagi menjadi 532 MW tahun 2016. Namun sayang, realisasi kapasitas terpasang panasbumi pada tahun 2017 mencapai 587 MW. Ini lebih rendah dari RKAP tahun 2017, yang dipatok sebesar 617 MW.









Tinggalkan Balasan