Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) terus aktif berkontribusi mendukung komitmen Pemerintah Indonesia menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030. Kali ini, direalisasikan dengan melakukan penerapan Carbon Capture, Utilization and Storage and Enhanced Gas Recovery (CCUS/EGR) pada proyek pengembangan migasnya.
Komitmen ini juga sejalan dengan penerapan prinsip Environment, Social and Governance (ESG) Pertamina. Hal ini kembali dipertegas dengan menggandeng Jepang Group yakni JANUS, JGC Corporation, J-Power, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Kesepakatan Kerjasama Studi (Joint Study Agreement) untuk mengkaji penerapan CCUS/EGR pada proyek lapangan Gundih di Cepu, Jawa Tengah.
Penandatanganan JSA tersebut dilakukan secara virtual, Juma’t (18/6). Ditandatangani oleh Chief Executive Officer (CEO) Subholding Power and New & Renewable Energy Pertamina, Dannif Danusaputro, bersama Kazuhiko Chikamoto, Representative Director and President of JAPAN NUS Co., Ltd, Yutaka Yamazaki Representative Director, President of JGC Corporation, Sugiyama Hiroyasu Director & Executive Vice President of Electric Power Development Co., Ltd (J-POWER) dan I Gede Wenten sebagai Wakil Rektor Bidang Research & Innovation ITB.
Kesepakatan para pihak pada proyek JSA CCUS/EGR di lapangan Gundih ini akan menjadi tonggak salah satu inisiatif Pertamina untuk mengurangi emisi karbon. Dari proyek ini, ada potensi pengurangan CO2 sebanyak 300.000 ton CO2 per tahun dari total 3 juta ton CO2 selama 10 tahun, yang sekaligus berpotensi berkontribusi pada peningkatan produksi gas.
CO2 ini akan tersimpan di subsurface formation dan akan memberikan benefit Enhance Gas Recovery. CO2 yang tersimpan akan dinyatakan sebagai carbon credit yang akan di-share antara pihak Pemerintah Indonesia dan Jepang
Saat ini, menurut Dannif, Pertamina sedang menyusun Roadmap Dekarbonisasi untuk mendukung pengendalian perubahan iklim global dan CCUS tersebut dan akan menjadi salah satu inisiatif yang dapat berdampak pada pengurangan karbon secara signifikan. Kerjasama studi kelayakan akan berlangsung dari Juni 2021 hingga Februari 2022. Selanjutnya akan dilaksanakan FEED dan EPC pada periode 2022-2024 dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2026.
Representative Director and President of JAPAN NUS Co., Ltd, Kazuhiko Chikamoto, menyebutkan bahwa dekarbonisasi adalah keharusan bagi pemerintah dan swasta di seluruh dunia. Pemerintah Jepang telah menetapkan target ambisius untuk pengurangan emisi CO2 sebesar 46 persen pada tahun 2030. Sehingga dilakukan perubahan bersama untuk mewujudkan tujuan aspirasi tersebut.
Dalam konteks ini, CCUS di Lapangan Gundih bukan hanya proyek dekarbonisasi, tetapi juga model praktik terbaik proyek dekarbonisasi di kawasan Asia. Ini merupakan model yang sangat inovatif yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam waktu dekat.








Tinggalkan Balasan