Pembuatan pakan ikan dari limbah rumput laut oleh nelayan binaan PT Pertamina EP di Karawang, Jawa Barat.

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina EP dinilai paling konsisten dalam menerapkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di sekitar wilayah operasionalnya. Kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) ini juga dianggap punya komitmen tinggi dalam merealisasikan program pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran, Risna Resnawaty, menilai Pertamina EP telah berhasil dalam mengimplementasikan TJSL. Keberhasilan tersebut berkat pemilihan programnya yang selalu inovatif.

“Saya melihat keunggulan program TJSL Pertamina EP itu ada tiga faktor, yaitu inovasi dan keunggulan jenis program, sumber daya pelaksana, dan pelaporan yang baik,” ujar Risna, Selasa (24/3).

Risna mengakui bahwa peran Pertamina EP dalam pelaksanaan pembangunan saat ini sangat terlihat. Hal itu bisa dilihat dari kuantitas maupun kualitas TJSL yang memiliki dampak positif terhadap peningkatan hidup masyarakat. Selain itu, Pertamina EP juga memiliki divisi khusus yang menangani urusan TJSL.

“Dapat dikatakan, jika perusahaan lain masih menjadikan TJSL sebagai kegiatan pendukung, Pertamina EP justru menjalankan program ini sama seriusnya dengan ketika menjalankan bisnisn di hulu migas,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Pertamina EP memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan program TJSL bagi masyarakat di sekitar operasi. Hal itu dibuktikan melalui lebih dari 300 program berjalan per tahunnya, dengan nilai kurang lebih Rp 40 miliar. Sebagian besar program fokus untuk lingkungan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan infrastruktur.

Atas komitmen dan implementasi program TJSL itu, tak heran bila Pertamina EP mendapat begitu banyak penghargaan. Paling mutakhir adalah ketika anak usaha PT Pertamina (Persero) ini mendapatkan Best Indonesia Green Awards 2020 pada beberapa hari lalu.

Dalam forum tersebut, mayoritas field yang dikelola Pertamina EP mendapat penghargaan untuk enam kategori, yaitu kategori penanganan sampah plastik, penyelamatan sumber daya air, rekayasa teknologi dalam menghemat energi, pengembangan keanekaragaman hayati, memelopori pencegahan polusi, dan mengembangkan pengolahan terpadu.

PROPER Emas

Pakar manajemen lingkungan sekaligus, Sudharto P Hadi, juga menilai komitmen Pertamina EP dalam pengelolaan lingkungan dan kepedulian sosial sangat tinggi. Perusahaan ini juga disebutnya telah menjadikan triple bottom line (profit, people dan planet) sebagai pilar-pilar pedoman dalam mewujudkan keberlanjutan perusahaan (corporate sustainability). Hal tersebut terinternalisasi dalam kebijakan, strategi dan operasi perusahaan, diwujudkan dalam key performance indicator (KPI) pimpinan dan staf.

“Setiap tahun mereka menetapkan target berapa lapangan yang harus memperoleh peringkat hijau dan emas,” ujar Anggota Dewan Dewan PROPER Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) ini.

Dengan menjadikan triple bottom line sebagai pedoman, jelas Sudharto, perusahaan akan memperoleh manfaat baik tangible: efisiensi energi, konsumsi air, mengurangi timbulan limbah dan emisi dan intangible seperti citra baik, hubungan harmonis dengan stakeholder dan warga masyarakat.

“Di samping itu juga memperoleh akses terhadap lembaga keuangan seperti Bank, OJK serta harga saham yang meningkat,” ungkap mantan Rektor Universitas Diponegoro periode 2010-2014.

Buktinya, Pertamina EP berhasil memperoleh empat PROPER Emas dalam dua tahun berturut, belum termasuk belasan PROPER Hijau yang diperoleh unit bisnisnya. Keempat PROPER Emas tersebut adalah, tahun 2018 melalui Asset 1 Rantau Field, Asset 3 Subang Field dan Tambun Field, serta Asset 5 Tarakan Field. Sementara tahun 2019, diraih melalui tiga unit bisnis yang sama, kecuali Tarakan Field yang digantikan oleh Asset 1 Jambi Field.

Menurut Sudharto, banyak perusahaan mengucurkan dana puluhan miliar rupiah namun tidak berhasil meraih PROPER Emas. Pasalnya, dana yang besar namun tidak dibarengi dengan pengorganisasian yang baik, justru bisa menjadi bumerang serta menciptakan warga masyarakat menjadi tergantung (dependent) dan tidak mandiri (self-sufficient community).

“Yang terpenting adalah komitmen dan pengorganisasian yang baik. Membangun sistem mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penilaian peringkat Emas titik beratnya pada pelaksanaan community development. Itu kelebihan Pertamina EP,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pengamat CSR dari Universitas Gadjah Mada, Krisdyatmiko. Menurutnya, perusahaan yang memperoleh PROPER Emas berarti telah menunjukkan keunggulan dalam pengelolaan lingkungan, plus memiliki program-program pengembangan masyarakat demi mewujudkan tanggung jawab sosialnya. Selain itu, perusahaan juga mampu mengembangkan potensi lokal untuk menjawab kebutuhan dan masalah sosial yang akhirnya memberi kontribusi secara sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Oleh sebab itu, PROPER menekankan juga sistem tata kelola dalam CSR, program harus didasarkan pemetaan sosial (social mapping); direncanakan, dilaksanakan dan monitoring dan evaluasi secara partisipatif; berbasis potensi setempat dan berorientasi pada kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan untuk kesejahteraannya,” ujar Krisdyatmiko.

Jungle track ekowisata Mangrover yang dibangun sebagai bagian dari program CSR PT Pertamina EP di kawasan hutan Mangrove di Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here