Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN (Persero), Supangkat Iwan Santoso, dan Direktur Gas & Energi Baru PT Pertamina (Persero), Yeni Handayani, menandatangani Head of Agreement (HoA) pasokan gas bumi dari lapangan gas Jambaran Tiung-Biru untuk pembangkit listrik wilayah Gresik, Jawa Timur. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer — PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menandatangani Head of Agreement (HoA) pasokan gas bumi dari lapangan gas Jambaran Tiung-Biru untuk pembangkit listrik wilayah Gresik, Jawa Timur.

HoA tersebut ditandatangani oleh Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, Supangkat Iwan Santoso, dan Direktur Gas & Energi Baru Pertamina, Yeni Handayani, di Kementerian ESDM, Selasa (8/8). Penandatanganan kontrak awal kerjasama ini disaksikan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar.

Pengembangan lapangan Jambaran Tiung-Biru diperkirakan butuh investasi sekitar US$ 1,5 miliar, yang akan memproduksikan gas sebesar 330 MMSCFD dengan penjualan sebesar 172 MMSCFD selama 16 tahun (plateu). Dari 172 MMSCFD pemanfaatan gas tersebut, 100 MMSCFD akan disalurkan ke PLN Wilayah Gresik dengan harga US$ 7,6 per MMBTU flat selama masa kontrak, dan 72 MMSCFD untuk industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gas dari lapangan ini nantinya juga akan terkoneksi dengan pipa Gresik-Semarang sepanjang 267 km dengan diameter 28 inch. Pipa Gresik-Semarang dengan investasi sekitar US$ 515 juta direncanakan selesai akhir tahun 2017.

“Pengembangan lapangan gas bumi Jambaran Tiung-Biru (JTB) akhirnya membuahkan hasil setelah dicapainya beberapa keputusan penting, salah satunya harga jual ke PLN Wilayah Gresik. Dengan begitu, proyek tersebut dapat segera dieksekusi,” ujar Arcandra.

Tahun 2017 ini, jelasnya, proyek Jambaran Tiung Biru bisa segera dieksekusi. Beberapat keputusan penting telah diputuskan, diantaranya Relokasi gas JTB ke Pertamina, Penetapan harga gas JTB ke PLN Wilayah Gresik, Perubahan split kontrak bagi hasil Pertamina EP Cepu proyek JTB, dan alih kelola lapangan dari Exxon oleh Pertamina EP Cepu.

“Bahkan kami juga melakukan efisiensi capex atau biaya investasi dari US$ 2,1 miliar menjadi US$ 1,5 miliar. Ini capaian besar,” ungkap Arcandra.

Keputusan penting yang telah diputuskan pada tahun 2017, antara lain:

1. Relokasi gas JTB ke Pertamina melalui Surat Menteri ESDM Nomor 538/13/MEM.M/2017 tanggal 11 Januari 2017.

2. Penetapan harga gas JTB ke PLN Wilayah Gresik sebesar US$ 7,6 per MMBTU flat sepanjang kontrak, melalui Surat Menteri ESDM Nomor 5939/12/MEM.M/2017 tanggal 1 Agustus 2017.

3. Perubahan split kontrak bagi hasil Pertamina EP Cepu proyek JTB, melalui Surat Menteri Surat Menteri ESDM Nomor 5953/12/MEM.M/2017 tanggal 1 Agustus 2017

4. Alih kelola lapangan dari Exxon Cepu oleh Pertamina EP Cepu sehingga Pertamina menguasai 90% Participating Interest dan 10% selebihnya akan dikuasai Daerah.

5. Efisiensi capital expenditure (capex) atau biaya investasi dari US$ 2,1 miliar menjadi US$ 1,5 miliar sehingga penerimaan migas bagian negara dan kontraktor menjadi lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here