Serah terima program agroforestry berbasis kawasan hutan bersama masyarakat kepada para petani penggarap lahan hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutran (LMDH) RimbaTani di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur.

Bojonegoro, Petrominer – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) melakukan serah terima program agroforestry berbasis kawasan hutan bersama masyarakat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur. Selanjutnya, lahan tanaman tersebut akan dikelola oleh para petani penggarap lahan hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutran (LMDH) RimbaTani Desa Bandungrejo.

Officer Community Relation & CSR PEPC, Edi Arto, menjelaskan bahwa program agroforestry merupakan program yang memiliki multipotensi dalam jangka panjang. Selain produktivitas pohon yang jelas memberikan hasil ekonomi, program agroforestry juga memiliki manfaat lain yang mendukung pelestarian ekosistem bagi lingkungan sekitar.

“Pohon ini selain berpotensi menghasilkan buah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pemeliharaan lingkungan. Akar dari pohon tegakan ini akan mampu melindungi badan sungai di sepanjang lahan KPS dari erosi dan longsor,” ungkap Edi, Sabtu (1/5).

Program ini diinisiasi oleh PEPC sejak tahun 2019 bekerja sama dengan LSM IDFoS Indonesia. Ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dari PEPC yang telah disetujui oleh SKK Migas.

Serah terima program tersebut dilakukan di aula Kecamatan Ngasem, Selasa lalu (27/4). Dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarkat Desa (DPMD) Kabupaten Bojonegoro, Mahmudin, Wakil kepala Administratur KPH Bojonegoro, Juwanto, dan Camat Ngasem, Waji.

Menurut Mahmudin, program ini memiliki potensi Agrowisata yang bagus. Terlebih lagi jika program agroforestry ini dapat terkoneksi dengan potensi lain yang ada di sekitarnya.

Dia juga menegaskan bahwa penguatan kelembagaan LMDH adalah salah satu aspek yang sangat penting. Dengan begitu, LMDH memiliki kemampuan sebagai pendorong ekonomi masyarakat desa di sekitar hutan. Apalagi, hampir 60 persen lahan pertanian di Bojonegoro adalah di wilayah hutan.

Sementara Camat Ngasem menyebutkan, dengan diserahterimakannya program agroforestry ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan ekonomi bagi masyarakat desa hutan di masa mendatang. Pasalnya, jika dikelola dengan benar budidaya buah kelengkeng ini memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan.

Dia pun berharap agar para pesanggem memiliki rasa “andarbeni” atau rasa memiliki terhadap program ini. “Sejumlah 2.200 pohon kelengkeng yang telah tertanam ini bila dikelola dengan baik hingga dapat menghasilkan buah secara maksimal,” ungkap Waji.

Program agroforestry tahap ke-2 ini berlangsung sejak tahun 2020 hingga awal tahun 2021. Fokus program adalah pada perawatan dan penambahan tanaman. Sedangkan pada tahap pertama yang dilaksanakan tahun 2019 telah tertanam 1.500 pohon kelengkeng. Hingga tahun 2021 ini, terdapat 2.200 pohon kelengkeng yang telah berhasil ditanam dan tumbuh di lahan kawasan perlindungan setempat (KPS) Perhutani BKPH Clangap Petak 53, 54, 50 dan 42.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here