, ,

Perkuat Ekosistem Energi Bersih untuk Kemandirian Energi

Posted by

–

Jakarta, Petrominer – Kebutuhan energi yang terus berjalan berdampingan dengan tantangan rantai pasok global mendorong Pemerintah untuk memperkuat pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE). Bagi Pemerintah, penguatan EBTKE menjadi bagian dari agenda prioritas untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tandjung, menyampaikan bahwa dinamika geopolitik global dapat memengaruhi rantai pasok dan berdampak pada kenaikan harga energi, inflasi, biaya produksi, serta beban subsidi dan kompensasi energi.

“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” ujar Yuliot pada acara pembukaan IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9).

Untuk memperbesar kontribusi energi bersih, Pemerintah telah menetapkan peningkatan kapasitas pembangkit EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dari sekitar 70 gigawatt tambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan, sekitar 42,6 gigawatt berasal dari energi baru dan terbarukan.

Selain pengembangan pembangkit EBT, Pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati melalui implementasi B50. Upaya konservasi energi dilakukan melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG, serta peningkatan penggunaan sumber energi bersih lainnya.

Pengembangan energi dari sampah perkotaan juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Dari timbulan sampah nasional tahun 2025 sebesar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, baru sekitar 25 persen yang terkelola. Melalui teknologi waste to energy, sampah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, biomassa, maupun bahan bakar minyak terbarukan sekaligus mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Namun, pengembangan EBTKE masih menghadapi tantangan dalam membangun rantai pasok yang terintegrasi. Pemerintah menilai penguatan sumber bahan baku, manufaktur, teknologi, serta sumber daya manusia menjadi faktor penting agar pengembangan energi bersih tidak menciptakan ketergantungan baru terhadap teknologi impor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *