Pekerja sedang melakukan proses pemurnian di Smelter Feronikel milik ANTAM di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer – Anggota Komisi VI DPR RI, Amin Ak, mendesak Kementerian Perindustrian untuk lebih serius terhadap hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA). Upaya memaksimalkan peningkatan nilai tambah SDA di dalam negeri ini diyakini bisa mendongkrak kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

“Kebijakan hilirisasi ini dinilai akan memperkuat daya saing dan struktur industri nasional, memperbesar penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan penerimaan devisa negara,” ujar Amin, Selasa (10/12).

Wakil rakyat dari Fraksi PKS ini juga meyatakan yakin hilirisasi industri berbasis SDA bakal mampu meminimalisir laju pelambatan ekonomi nasional. Jika pelambatan itu terus berlangsung, dikhawatirkan Indonesia akan terkena imbas resesi yang bakal melanda dunia.

Bank Indonesia mencatat, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Indonesia selama periode Januari-Oktober 2019 mengalami defisit hingga US$ 1,79 miliar atau lebih dari Rp 25 triliun. Selama periode tersebut, total ekspor mencapai US$ 139,1 miliar, sementara impor masih lebih tinggi yakni US$ 140,89 miliar. Sehingga terjadi selisih sebesar US$ 1,78 miliar.

Sementara itu, Bank Indonesia juga mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III 2019 sebesar US$ 7,7 miliar, atau 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Lebih rendah dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 8,2 miliar (2,9 persen dari PDB).

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak.

“Ada beberapa sektor industri berbasis SDA, seperti industri agro, maritim, kreatif dan digital, pertambangan, serta industri pariwisata yang bisa menjadi prioritas. Dengan potensi SDA dan SDM yang dimiliki Indonesia, jika industrinya kuat maka kita bisa bersaing di tingkat global,” tegas Amin.

Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap perekonomian nasional akan jauh meningkat jika hilirisasi industri agro dan maritim betul-betul digarap serius. Dengan begitu, ekspor dari ketiga sektor tersebut didominasi oleh ekspor pengolahan seperti hilirisasi industri pengolahan kakao, karet, dan sawit, mapun pengolahan pangan.

Amin juga meminta Kemenperin betul-betul merealisasikan hilirisasi industri pertambangan mineral dan batubara melalui industri pengolahan dan pemurnian (smelter). Fasilitas ini merupakan industri padat energi dan padat modal, serta mampu menyerap banyak tenaga kerja.

“Penguatan inovasi dan teknologi serta hilirisasi industri berbasis SDA yang merupakan keunggulan komparatif Indonesia adalah kunci kebangkitan ekonomi nasional,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here