,

Peranan Listrik Dalam Menopang Pertumbuhan Coffee Shop

Posted by

Jakarta, Petrominer – Coffee shop saat ini termasuk salah satu industri yang sedang booming. Mengingat semua mesin yang dipergunakan di warung kopi modern ini menggunakan listrik, pasokan listrik yang andal pun ikut mendukung perkembangan ekonomi kreatif tersebut.

Di bidang usaha coffee shop, daya listrik setiap jenis mesin berbeda-beda. Bervariasi antara 1.200 watt sampai 1.300 watt, di luar daya boiler. Biasanya setiap venue memiliki minimal 4 jenis mesin dan pendingin ruangan (AC), sehingga untuk menyediakan daya listrik beserta spare daya, perlu disiapkan sekitar 10.000 watt.

Ketua Penyelenggara Festival Kopi, Pambudi Prasetyo, mengatakan bahwa masifnya penggunaan listrik sudah dimulai sejak kopi tersebut ditanam sampai siap diminum. Proses penanaman kopi tidak hanya membutuhkan energi secara intensif, baik digarap dengan sistem tanam sederhana maupun yang menggunakan mesin.

“Faktanya, hampir 60 persen energi yang dipergunakan untuk menghasilkan secangkir kopi terletak pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing) kopi,” jelas Pambudi di sela-sela acara Festival Kopi di Nusa Dua, Bali, Minggu (18/8).

Mesin roasting beroperasi pada suhu temperatur 550 derajat Fahrenheit, dan setiap satu jam menghabiskan sekitar 1 juta BTU (British Thermal Unit). Namun dari semua proses itu, penyeduhan kopi lah yang membutuhkan energi paling besar.

“Menggabungkan antara panas dari energi listrik itulah yang masuk dalam seni dan energi penyediaan kopi, termasuk berbagai mesin penyeduhnya. Secara total energi yang dipergunakan untuk menghasilkan 100 mililiter kopi setara dengan 1,94 megajoules, atau setengah KwH,” paparnya.

Tidak hanya untuk peralatan mesin, pertumbuhan coffee shop di sejumlah kota juga kerap ditunjang oleh menariknya tampilan interior dan eksterior bangunan yang bersifat kekinian. Tentunya, peranan listrik ikut menopang penampilan tersebut.

Ketua Indonesian Barista Association (IBA) Bali, Nyoman Suweca, menyatakan bahwa untuk mendirikan coffee shop kekinian dengan penampilan frame mural yang menarik diperlukan investasi awal berkisar antara Rp 100 – 150 juta. Ini sudah termasuk investasi untuk lampu, meja dan kursi, serta 4 jenis mesin pembuat kopi. Selain itu, biasanya satu coffee shop minimal mempekerjakan 4 -5 orang, termasuk barista dan waiter (pramusaji).

“Investasi terbesar adalah pada harga mesin-mesin seperti coffee grinder (mesin giling kopi), mesin espresso, french press (alat penghilang ampas kopi), milk steamer, dan kulkas untuk menyimpan susu dan campuran bahan kopi lainnya (chest freezer),” ujar Nyoman.

Menurutnya, harga satu jenis mesin saja sekitar Rp 35 – 50 juta. Kemudian juga jenis kopi yang banyak disukai saat ini adalah jenis kopi premium, yakni specialty coffee atau jenis kopi khusus yang tumbuh di daerah tertentu.

Semua mesin yang dipergunakan di warung kopi modern ini menggunakan listrik.

Festival Kopi

Acara Festival Kopi berlangsung 16–18 Agustus 2019. Kegiatan ini menampilkan sejumlah acara, seperti perbincangan dan pengetahuan tentang kopi, serta pameran kopi yang menampilkan potensi kopi dari seluruh Indonesia. Selama acara berlangsung, para pengunjung dan investor dapat saling mingle ataupun berkomunikasi langsung dengan para petani atau pemilik kebun kopi, melihat demo sangrai (roasting) kopi dan menyaksikan langsung buyer’s cupping.

Acara yang diikuti 48 booth ini menampilkan wakil dari pemerintahan, market place, lembaga pembiayaan dan perbankan, serta para pemain di industri perkopian.

PT PLN (Persero) mengisi salah satu stand. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini juga mendukung bertumbuhnya industri kopi di Indonesia, melalui pemberian pelatihan dan penanaman kopi lewat anak perusahaannya Unit Pembangkit Mrica PT Indonesia Power di Desa Pengundungan dan Desa Krinjing, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *