Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi.

Ciloto, Petrominer – Peningkatan investasi di industri hulu minyak dan gas bumi (migas) sangat dipengaruhi oleh besarnya cadangan yang bisa diproduksikan. Karena itulah, diperlukan penemuan cadangan raksasa (giant discovery) migas baru untuk dapat meningkatkan investasi sekaligus menjaga kelangsungan industri hulu migas.

Hal itu disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, dalam perbincangan santai dengan para wartawan di Lembah Hijau, Ciloto, Jawa Barat, Kamis (8/11).

Menurut Amien, untuk bisa menemukan cadangan baru migas diperlukan kegiatan eksplorasi yang masif. Pemerintah pun sudah menyusun strategi untuk mendorong kegiatan eksplorasi, terutama di cekungan-cekungan migas yang selama ini belum banyak digarap.

“Dalam menyiasati kebutuhan investasi eksplorasi yang berkelanjutan, Pemerintah menetapkan Komitmen Kerja Pasti (KKP) yang harus dikeluarkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk kegiatan eksplorasi,” paparnya.

Ketentuan baru tersebut, jelas Amien, sudah diberlakukan kepada KKKS yang baru saja menandatangani perpanjangan kontrak. Komitmen ini harus dipenuhi oleh Kontraktor dalam jangka waktu lima tahun, dan apabila tidak direalisasikan, dananya harus disetorkan kepada Pemerintah.

“Nilai kumulatif komitmen yang ditetapkan untuk perpanjangan kontrak dari tahun 2019 hingga 2026 sebesar US$ 1,3 miliar. Nilai ini cukup besar dan diharapkan bisa mendorong kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru,” ujarnya.

Berdasarkan Komitmen Kerja Pasti itu, Kontraktor akan melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi di wilayah kerjanya dan juga di area terbuka. Untuk memastikan realisasi program tersebut, SKK Migas akan memonitor dan mengevaluasinya.

Investasi 2018 Naik

Dalam kesempatan itu, Amien juga menyampaikan bahwa investasi hulu migas sudah mencapai US$ 8,7 miliar hingga akhir Oktober 2018. Angka ini baru mencapai 61 persen dari target investasi tahun 2018 yang dipatok US$ 14,2 miliar.

Sementara dalam rencana program dan anggaran (WP&B) hingga akhir tahun 2018, investasi diperkirakan mencapai US$ 11,2 miliar dengan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$ 69,8.

“Nilai tersebut meningkat dari realisasi tahun 2017 yang sebesar US$ 10,2 miliar karena beberapa proyek yang sudah mulai membangun fasilitas produksi,” jelasnya.

Sementara capaian penerimaan negara dari hulu migas hingga Oktober 2018 sebesar US$ 14,6 milliar, atau 123 persen dari target APBN 2018 sebesar US$ 11,9 milliar. Dengan kondisi seperti saat ini, penerimaan negara hingga akhir tahun 2018 diperkirakan mencapai US$ 17,5 miliar, atau 147 persen.

“Ada dua hal yang menjadi parameter utama sebuah perusahaan akan berinvestasi di proyek hulu migas, pertama adalah persentase internal rate of return (IRR) yang baik dan certainty kelangsungan proyek,” ucap Amien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here