Jakarta, Petrominer – Dewan Energi Nasional (DEN) mengisyaratkan untuk menunda pelaksanaan mandatori pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN/biodiesel) 30 persen (B30) pada tahun 2020. Alasannya, masih banyak kendala yang dihadapi.

Demikian salah satu hasil sidang anggota DEN yang dipimpin langsung oleh Ketua Harian DEN sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Kamis (12/10). Sidang tersebut digelar di Kementerian ESDM.

B30 merupakan istilah untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan BBN yang ditingkatkan menjadi 30 persen. Pada tahun 2015, mandatori Biodiesel ditingkatkan dari 15 persen (B15) dan ditambah lagi menjadi 20 persen atau B20 pada tahun 2016. Sementara mandatori B30 rencananya mulai dilaksanakan tahun 2020.

Namun rencana tersebut menghadapi tantangan utama, yakni disparitas harga yang cukup besar antara solar dengan Biodiesel karena turunnya harga minyak dunia disertai dengan tidak tersedianya alokasi subsidi Biodiesel melalui APBN.

Menurut anggota DEN Syamsir Abduh, sebelum B30 diterapkan, DEN merekomendasikan untuk dibuatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau metode blending dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau standar lain yang harus diikuti. Tidak hanya itu, pelaksanaan B30 juga ditunda dan tidak jadi mulai tahun 2020 mendatang.

Anggota DEN lainnya, Rinaldy Dalimi, menambahkan, penundaan mandatori B30 bukan berarti dihentikan. Hal ini masih dalam diskusi bersama dalam sidang DEN kali ini, di mana masih ada hambatan penerapan B30 yang harus diselesaikan.

“Itu tujuan penerapan untuk mencapai target bauran energi kita yang sudah kita tetapkan. Jadi itu belum dalam konteks berupa keputusan. Baru jika hambatan tidak bisa diselesaikan, kemungkinan pada 2020, B30 bisa ditunda. Tapi usaha untuk menghilangkan itu masih tiga tahun lagi. Idealnya seharusnya tidak ditunda,” tegas Rinaldy.

Sebelumnya, DEN juga pernah menyampaikan bahwa penerapan B20 masih banyak menemudi kendala. Di antaranya ada beberapa mesin kendaraan yang disasar menggunakan B20 ternyata tidak cocok.

Mulanya, penerapan B20 menyasar segala jenis kendaraan. Namun untuk mesin alat berat, lokomotif kereta, dan alutsista ternyata tidak cocok menggunakan B20.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here