Proses percampuran sawdust (limbah serbuk kayu) dengan batubara untuk bahan bakar PLTU.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong penggunaan teknologi berbasis energi bersih dalam pemanfaatan batubara Indonesia. Selain bisa mendapat hasil yang optimal, penggunaan teknologi ini juga sejalan dengan langkah menekan penurunan emisi gas rumah kaca yang berasal dari sektor energi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin, menyebutkan bahwa pihaknya terus mencari terobosan baru melalui penggunaan teknologi berbasis energi bersih agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan batubara di Indonesia.

“Salah satu upaya Pemerintah saat ini adalah mendorong agar batubara dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan lingkungan. Kita selalu berusaha menggunakan teknologi batubara dengan cara yang lebih bersih,” ujar Ridwan dalam webinar “Masa Depan Batubara dalam Bauran Energi Nasional”, Senin (26/7).

Dia mengakui dari total 1.262 Giga Ton emisi CO2 yang dihasilkan di Indonesia, sebanyak 35 persen berasal dari pembangkit listrik batubara. Di sisi lain, ini bisa menjadi potensi Indonesia dalam memproduksi metanol.

Menurut Ridwan, ada dua tantangan yang tengah dihadapi dalam, yaitu pengusaan teknologi dan menciptakan skala keekonomian. Tantangan ini besar sekali sehingga berbagai proyek hilirisasi batubara yang sudah dicanangkan belum sesuai ekspektasi.

“Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) diyakini akan mengurangi emisi CO2 akibat pembakaran batubara. Berdasarakan studi PLN dan World Bank tahun 2015, CCUS secara teknis layak untuk dikembangkan di Indonesia,” ungkapnya.

Cadangan Batubara

Dalam kesempatan itu, Ridwan juga mengemukakan bahwa cadangan batubara Indonesia saat ini mencapai 38,84 miliar ton. Dengan rata-rata produksi 600 juta ton per tahun, maka umur cadangan batubara masih 65 tahun apabila diasumsikan tidak ada temuan cadangan baru.

Selain cadangan, masih ada juga sumber daya batubara yang tercatat sebesar 143,7 miliar ton. Untuk itu, Pemerintah terus mendorong upaya pemanfaatan untuk memberikan kesejahteraan ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

“Batubara kita masih banyak. Kita punya 65 tahun umur cadangan. Sebagian besar ada di Kalimantan dan Sumatera,” tegasnya.

Kalimantan menyimpan 62,1 persen dari total potensi cadangan dan sumber daya batubara terbesar di Indonesia, yaitu 88,31 miliar ton sumber daya dan cadangan 25,84 miliar ton. Selanjutnya, Sumatera dengan 55,08 miliar ton (sumber daya) dan 12,96 miliar ton (cadangan).

Pada tahun 2021 ini, batubara ditargetkan mencapai produksi sebesar 625 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan batubara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) ditargetkan mencapai 137,5 juta ton. Sementara tahun 2020 lalu, realisasi produksi batubara Indonesia berada di angka 558 juta ton. Sekitar 134 juta ton dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Per 26 Juli 2021, menurut data Minerba One Data Indonesia (MODI), realisasi produksi batubara Indonesia sebesar 328,75 juta ton dengan rincian 96,81 juta ton (realisasi domestik), 161,99 juta ton (realisasi ekspor), dan 52,22 juta ton untuk DMO.

“Saat ini, 80 persen batubara untuk pembangkit listrik,” ungkap Ridwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here