Jakarta, Petrominer – Indonesian Petroleum Association (IPA) mengajak generasi muda untuk lebih memahami pentingnya industri hulu minyak dan gas bumi (migas) bagi perekonomian nasional. Mereka juga diajak untuk mengambil peluang di industri yang menjadi tulang punggung penerimaan negara ini.

“Masih besar peluang bagi generasi muda yang bukan berlatang belakang pendidikan teknik, baik perminyakan maupun teknik lainnya, untuk terlibat dalam pengembangan industri migas ke depannya,” ujar IPA Board Director, Tenny Wibowo, dalam acara “Ngobrol Bareng: Peluang Generasi Muda Pada Industri Hulu Migas” yang digelar di Jakarta, Kamis (28/2).

IPA menggelar kegiatan diskusi ini dengan tujuan memberikan gambaran kepada generasi muda perihal industri hulu migas bagi perekonomian nasional dan peluang generasi muda untuk terlibat di dalamnya. Selain Tenny, tampil juga sebagai pembicara Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu P. Taher, dan CEO Big Java, Ruli Harjowidianto.

Menurut Tenny, industri migas menimbulkan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor lainnya, seperti information technology, transportasi, kuliner, perhotelan, dan sebagainya. Industri ini juga menciptakan lapangan kerja bagi lulusan non-teknik perminyakan. Di perusahaan migas sendiri, ada sebanyak 20-40 persen karyawan yang berlatar belakang non-teknik perminyakan.

Berdasarkan studi yang dilakukan SKK Migas dan Universitas Indonesia pada 2015, diketahui bahwa setiap investasi sebesar Rp 1 Miliar pada sektor hulu migas akan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja sebanyak 100 orang dan peningkatan PDB sebesar Rp 700 Juta.

“Banyak sekali kesempatan SDM di industri migas. Kita membutuhkan karyawan untuk HRD, legal, dan itu banyak berlatar belakang non-teknik,” ujar Presiden Direktur Ophir Energy ini.

Sementara itu, Wisnu Taher memamparkan tentang proses kerja pada industri hulu migas, mulai dari masa eksplorasi hingga eksploitasi, serta penjelasan mengenai regulasi dan kebijakan Pemerintah yang terkait pada industri migas. SKK Migas merupakan regulator untuk kegiatan usaha hulu migas di Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, Wisnu menegaskan bahwa masih ada 1.000 lapangan potensi migas yang bisa dikembangkan dan membuka lapangan kerja. Saat ini juga ada tranformasi di industri migas untuk mempertahankan dan menunjang ketahanan energi nasional hingga ke depan.

Terakhir, Ruli Hajowidianto dari Bigjava memaparkan tentang big data yang dapat menunjang kerja industri hulu migas di Indonesia. Big data merupakan kumpulan data yang begitu besar dan kompleks.

Bagi industri migas, data merupakan hal yang sangat penting dalam proses kerja baik pada masa eksplorasi, produksi, bahkan hingga pasca produksi. Big data sangat diperlukan untuk menunjang berjalannya proses bisnis lebih efektif dan efisien dan termasuk dalam pengambilan kebijakan.

Sejumlah perusahaan migas multinasional seperti Total, BP, dan Chevron diketahui telah mengadopsi penggunaan teknologi digital dalam mendukung kegiatan operasionalnya.

“Big data dapat menghemat biaya karena bisa digunakan mulai dari eksplorasi hingga pasca produksi dengan tingkat akurasi yang tinggi. Data diambil dan dianalisis alogaritmanya untuk menentukan langkah ke depannya. Diharapkan ke depan akan ada data mengenai sumur, data eksplorasi, dan sebagainya untuk mempermudah analisis,” papar Ruli.

Acara Ngobrol Bareng ini merupakan bagian dari rangkaian acara pre-event Pameran dan Konvensi IPA ke-43 yang akan diselenggarakan pada 4–6 September 2019 mendatang di Jakarta Convention Center. Melalui diskusi ini, diharapkan dapat terlihat adanya peluang bagi generasi muda yang dekat dengan teknologi untuk berpartisipasi dalam pengembangan sektor energi di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here