
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) mengklaim sebagai land rig owner terbesar di Asia Tenggara. Dengan kapasitas tersebut, PDSI menyatakan siap mendukung berbagai kebutuhan pengeboran dan layanan pendukung, baik untuk Pertamina Group maupun perusahaan lainnya.
Vice President Corporate Secretary & Legal Counsel PDSI, Himawan Djatmiko, mengatakan sebagai salah satu penyedia jasa upstream terkemuka di Indonesia, PDSI siap menghadirkan solusi pengeboran terintegrasi melalui layanan one stop drilling solution. Saat ini, anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini mengelola total 58 unit rig, baik onshore maupun offshore, serta didukung oleh lebih dari 110 layanan pendukung (associated drilling dan non-rig services) untuk memastikan efisiensi dan keandalan operasional.
“Kami adalah land rig owner terbesar di Asia Tenggara, dengan 53 unit rig onshore berkapasitas 150 HP hingga 2.000 HP yang siap mendukung berbagai kebutuhan pengeboran,” ungkap Himawan, Rabu (22/7).
Dia merinci, armada PDSI mencakup 53 unit land rig dengan kapasitas 150–2.000 HP, 3 unit jack-up rig melalui strategic alliance, serta 2 unit offshore workover rig berkapasitas 550 HP. Tentunya, kapasitas ini memperkuat komitmen PDSI dalam mendukung kebutuhan energi nasional secara efisien, andal, dan berkelanjutan.
Cakupan operasional PDSI membentang di lima regional Subholding Upstream Pertamina (Pertamina Hulu Rokan, Pertamina EP, Pertamina Hulu Indonesia, Pertamina EP Cepu), lalu juga ada di Pertamina Geothermal Energy dan Kilang Pertamina Balikpapan. PDSI juga melayani klien non-captive seperti ExxonMobil dan Petronas, serta operasi internasional bersama UZMA di Malaysia dan Drilling Consultant di Timor Leste. Bahkan, Indonesia Drilling Training Center (IDTC) milik PDSI melayani klien dari Tanzania, Namibia, Timor Leste, hingga Medco Energi, dan menjadi satu-satunya drilling training center di Indonesia yang memiliki real rig berkapasitas 150 HP untuk dijadikan simulator.
“Di luar layanan rig, kami punya portofolio associated drilling lengkap: directional drilling, cementing, fishing, mud logging, fracturing dan stimulation, drilling completion fluid services, hingga plug and abandonment,” papar Himawan.

Rencana Bisnis
Lebih lanjut, dia menyampaikan kinerja keuangan yang kuat dan konsisten dari tahun 2020 hingga 2025. Pendapatan tumbuh dari US$ 221,1 juta (2020) menjadi US$ 435,7 juta (2025). Kinerja ini hampir 2 kali lipat, dengan CAGR sekitar 14,5 persen.
Berkat pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih melonjak dari US$ 6,43 juta (2020) menjadi US$ 29,61 juta (2025). Kenaikan ini sekitar 4,6 kali lipat, dengan CAGR sekitar 36 persen.
“Non-Productive Time kami di 2025 hanya 1,29 persen, sekitar 6 kali lebih rendah dibanding rata-rata kontraktor rig di Indonesia yang mencapai 8,19 persen. Sementara rig productivity kami di 2025 mencapai 70,15 persen, didorong modernisasi peralatan dan digitalisasi,” jelas Himawan.
Menurutnya, beberapa pendorong pertumbuhan utama PDSI adalah ekspansi dan investasi aset, IPM yang menawarkan solusi proyek end-to-end, diversifikasi ke offshore dan panas bumi, pengembangan bisnis terkait pengeboran menjadi recurring revenue, mengubah cost center menjadi profit center, strategic alliances, serta penguatan PDC sebagai EPC dan HTE Champion.
Ke depan, PDSI menyatakan telah menyiapkan beberapa langkah strategis. Di antanya, menjadi enabler strategis dalam sinergi proyek CCS dan CCUS melalui skema ICESS (Integrated CCS/CCUS Engineering Supervisory and Services). Kemudian memperluas jejak di pasar pengeboran panas bumi melalui IPM, serta terlibat dalam proyek deepwater sebagai supporting services pada tahun 2029, dan proyek barge untuk pembelian tambahan.
“Ke depan, arah strategis kami mengikuti enam tahap: HSSE excellence sebagai fondasi, fokus pada End-to-End Well Construction Business, mengubah cost center menjadi profit center, membangun bisnis dan operasi hijau, peningkatan portofolio aset termasuk aksi korporasi, dan optimalisasi serta sinergi bisnis,” ungkap Himawan.








Tinggalkan Balasan