Jakarta, Petrominer – PT Pertamina EP menyatakan telah menerapkan metode metode Enhanced Oil Recovery (EOR) sebagai salah satu strategi meningkatkan produksi minyak dan gas bumi. Ini merupakan upaya mendukung pencapaian target produksi migas yang telah ditetapkan induk usahanya, PT Pertamina (Persero)

“Pertamina EP telah memulai implementasi chemical EOR berupa polymer di Lapangan Tanjung bulan Desember 2018 lalu,” ujar Presiden Direktur Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, di sela-sela acara Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association ke-43 Tahun 2019 (IPA Convex 2019), Kamis (5/9).

Nanang menjelaskan, sebelum menerapkan metode EOR ini, Pertamina EP telah melakukan kajian pada tahun 2016 dengan bantuan pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung. Teknologi injeksi polymer merupakan teknologi yang telah terbukti dan telah diimplentasi lebih dari 30 tahun di berbagai lapangan minyak di dunia dengan rata-rata peningkatan Recovery Factor (RF) sebesar 5-10 persen terhadap OOIP.

Menurutnya, pengembangan lapangan minyak akan selalu melalui tiga tahapan yaitu primary, secondary, dan tertiary. Lapangan-lapangan Pertamina EP telah melalui proses primary dan sekarang sedang menuju proses secondary dan tertiary. Dengan minyak tersisa sebesar 8.2 BSTB, implementasi pattern waterflood dan EOR akan mengoptimalkan produksi minyak dan penambahan cadangan.

“Pertamina EP sangat optimis melakukan waterflood dan EOR. Berdasarkan perkiraan produksi, produksi kumulatif minyak diharapkan sebesar 245 MMSTB melalui waterflood dengan puncak produksi sebesar 60.000 bopd pada tahun 2026 sedangkan tahap tertiary akan menghasilkan produksi kumulatif sebesar 133 MMSTB dengan puncak produksi sebesar 30.000 bopd pada tahun 2030,” jelas Nanang.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, ada beberapa lapangan di dunia yang sudah melakukan proyek polymer flooding diantaranya adalah Venezuela (2017), Brazil (2017), dan Suriname (2014-2016). Di Indonesia, terdapat empat KKKS yang sudah menerapkan chemical EOR yaitu Chevron, Medco, CNOOC, dan Pertamina.

“Dalam waktu 5 tahun ke depan, Pertamina EP akan melakukan pilot dan full scale chemical EOR di 5 struktur, yaitu Tanjung, Sago, Rantau, Jirak dan Limau, dan CO2 flooding di 3 struktur, yaitu Sukowati, Jatibarang dan Ramba,” tegas Nanang.

Presiden Direktur Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, ketika meresmikan proyek chemical EOR berupa polymer di Lapangan Tanjung bulan Desember 2018 lalu.

Project Tanjung Polymer Field Trial di Lapangan Tanjung ini dimaksudkan untuk meningkatkan produksi Lapangan Tanjung melalui tahap secondary recovery dari optimisasi waterflood serta tertiary recovery dengan teknologi chemical EOR baik dari fase pilot maupun full scale. Adanya optimisasi waterflood diproyeksikan mampu menaikkan recovery factor lapangan Tanjung dari 24,05 persen menjadi 27,25 persen pada tahun 2035.

Metode injeksi polimer di Pattern 12 Lapangan Tanjung diharapkan diperoleh oil gain sampai dengan 45 MSTB pada tahun 2021 dan penurunan water cut sumur-sumur monitor sebesar 5 persen. Desain injeksi dibuat dengan kebutuhan polymer sebanyak 70 ton, volume larutan polymer yang diinjeksikan adalah 200 ribu barrel dengan konsentrasi 2000 ppm dan laju injeksi sebesar 1000 barrel per hari.

Tanjung Field dipilih dengan menggunakan polymer karena karakter low recovery faktor dan high level dari cadangan heterogen. Saat ini, Tanjung Polymer Field Trial telah memasuki fase ketiga.

“Diharapkan dengan adanya Polymer ini , dalam jangka waktu dua tahun akan dapat diperoleh penambahan minyak sebesar 45.000 BOPD,” ujar Nanang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here