, ,

Pabrik Baru Lotte Chemical Kian Perkuat Industri Kimia Nasional

Posted by

Cilegon, Petrominer – Kementerian Perindustrian terus berupaya mempercepat transformasi dan penguatan industri kimia nasional. Ini menjadi bagian dari agenda pemerintah dalam memperkuat struktur industri nasional agar semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi bahan baku dan percepatan industrialisasi, serta perluasan investasi strategis di sektor petrokimia. Terkini, peresmian pabrik baru PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten. Fasilitas baru ini merupakan investasi jangka panjang dari Lotte Group dan menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim industri di Indonesia.

“Pembangunan pabrik ini menunjukkan Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, terutama industri kimia dasar,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangannya setelah acara peresmian pabrik LCI oleh Presiden Prabowo Subianto, Kamis (6/11).

Keberadaan pabrik baru ini diharapkan semakin memperkuat sektor industri kimia, terutama petrokimia hulu yang menjadi tulang punggung bagi berbagai industri hilir seperti farmasi, makanan dan minuman, elektronik, hingga otomotif. 

“Industri kimia berperan strategis sebagai penyedia bahan baku esensial bagi berbagai sektor industri. Karena itu, penguatan kapasitas produksinya menjadi prioritas nasional,” ungkap Menperin.

Kebutuhan bahan kimia nasional tahun 2024 mencapai lebih dari 53 juta ton per tahun, dengan 72 persen di antaranya berbasis migas dan batubara. Namun, kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut, sehingga impor petrokimia masih mendekati US$ 11 miliar per tahun dan naik sekitar 10 persen setiap tahunnya.

Karena itulah, menurut Menperin, pembangunan pabrik Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan impor bahan kimia dasar. Dengan nilai investasi hampir Rp 60 triliun, proyek LINE menjadi salah satu investasi terbesar di Indonesia sekaligus menghadirkan fasilitas Nafta Cracker kedua di tanah air setelah lebih dari 30 tahun.

Selain memberikan multiplier effect bagi industri nasional, pabrik baru LCI juga membuka peluang bagi bertumbuhnya industri turunan baru berbasis produk aromatik dan olefin. Investasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing industri kimia Indonesia di pasar global.

“Pengembangan industri kimia sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita, khususnya dalam memperkuat struktur industri, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperluas potensi ekspor,” tegas Menperin.

Pabrik Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) di Cilegon, Banten. (BPMI Setpres)

Kemitraan Korea-Indonesia

Sementara itu, Chairman LOTTE Group, Shin Dong-bin, mengatakan pembangungan pabrik baru ini menjadi simbol kemitraan kuat antara Korea Selatan dan Indonesia, serta landasan penting bagi penguatan industri petrokimia nasional. Dari pabrik baru ini, LCI diproyeksikan menciptakan nilai ekonomi sekitar US$ 2 miliar per tahun, memperkuat rantai pasok industri hilir, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan berkelanjutan.

“Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar perusahaan Korea di Indonesia, melambangkan kemitraan yang kuat antara kedua negara, serta menjadi fondasi penting untuk memperkuat industri petrokimia Indonesia dan daya saing nasionalnya,” ungkap Shin Dong-bin.

Pabrik seluas 110 hektar ini memiliki kapasitas produksi naphtha cracker  3 juta ton per tahun, menghasilkan 1 juta ton etilena, 520 ribu ton propilena, 350 ribu ton polipropilena, 140 ribu ton butadiena, dan 400 ribu ton BTX (benzena, toluena, xilena) setiap tahun.

Fasilitas ini mulai beroperasi secara komersial Oktober 2025 dan terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450 ribu ton yang telah beroperasi sebelumnya. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi rantai produksi.

Dengan teknologi desain mutakhir dari Korea, pabrik baru ini menggabungkan efisiensi energi tinggi dan sistem rendah karbon. Fasilitas ini juga dirancang untuk menggunakan 50 persen LPG selain naphtha sebagai bahan baku utama, yang memungkinkan efisiensi biaya dan operasional yang signifikan.

“Selain itu, implementasi sistem digital Asset Information Management (AIM) berbasis model 3D juga memperkuat integrasi data dan pemeliharaan preventif, meningkatkan keandalan dan produktivitas fasilitas,” ungkap Shing Dong-bin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *