Jakarta, Petrominer – Dengan komitmen untuk mencapai emisi nol karbon bersih tahun 2050, Petroliam Nasional Berhad (Petronas) menyadari pentingnya stabilitas fasilitas operasi untuk mencapai tujuan keberlanjutannya. Divisi teknik perusahaan migas asal Malaysia ini ingin mengoptimalkan kinerja peralatannya untuk meningkatkan keandalan pabrik dan mengurangi waktu henti.
Custodian (Rotating Equipment) Petronas, Salim Sumormo, mengatakan bahwa PI System dari AVEVA telah menjadi platform data standar perusahaan selama bertahun-tahun.
“Kami ingin menambah nilai lebih lanjut pada data yang dikumpulkan untuk mengoptimalkan operasi fasilitas di seluruh lini bisnis. Kami memilih AVEVA Predictive Analytics yang berbasis cloud bukan hanya karena kemampuannya untuk memprediksi kegagalan peralatan secara akurat, tetapi juga karena mudah diintegrasikan dengan PI System, serta karena tampilan dan nuansa intuitifnya yang membantu tim kami dengan cepat,” ujar Salim, Jum’at (3/12).
Petronas berhasil menghemat biaya operasional sebesar US$ 17,4 juta di tahun pertama sejak mengoptimalkan Predictive Analytics, solusi Manajemen Kinerja Aset dari AVEVA. Teknologi ini memberikan pemberitahuan peringatan dini dan diagnosis masalah peralatan berhari-hari hingga berbulan-bulan sebelum terjadi kegagalan. Perangkat solusi tersebut menghasilkan 51 peringatan dan 12 di antaranya dianggap beresiko tinggi sehingga bisa mengurangi waktu henti (downtime).
Bahkan, Petronas yang memproduksi 2,4 juta barel minyak per hari (BOPD) ini juga berhasil meningkatkan Return of Investment (ROI) sebanyak 14 kali dalam tahun pertama sejak menggunakan PI System dari OSIsoft milik AVEVA. Di mana, sistem ini mengumpulkan data dari aset-aset penting di fasilitas operasi.
PI System mengumpulkan dan menyusun data ini untuk historisasi dan analisis. Data tersebut digunakan oleh model AVEVA Predictive Analytics berbasis AI untuk menyoroti setiap anomali, tren, potensi insiden atau kegagalan, dan memungkinkan tim untuk melakukan peningkatan sesuai kebutuhan.
Data yang dikumpulkan oleh sensor dalam instrumentasi dan peralatan menunjukkan dengan tepat penyimpangan terkecil yang telah dilatih AI oleh perangkat lunak untuk dianggap sebagai ‘perilaku baik yang diketahui’. Ini lebih efektif ketimbang ambang batas tinggi dan rendah yang memicu alarm ketika tercapai. Karena pada saat itu operasi telah lepas kendali.
Solusi AVEVA Predictive Analytics yang diterapkan Petronas menemukan masalah saat masalah tersebut tumbuh jauh dari ‘perilaku baik yang diketahui’ sebelum mengarah pada kegagalan besar.
Solusi AVEVA tidak hanya memberikan deteksi dini anomali dan kegagalan, tetapi juga memungkinkan pengarsipan pengalaman pengoperasian mesin selama bertahun-tahun ke dalam platform digital.
“Kami telah mengintegrasikan metodologi mode kegagalan dan analisis efek Petronas ke dalam AVEVA Predictive Analytics, dan solusinya menentukan tindakan korektif setiap kali anomali dipicu. Ini menghilangkan kebutuhan untuk penyelidikan manual yang memakan waktu dan keputusan dapat dibuat dengan cepat, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas,” tutur Principal (Rotating Equipment), Azizol Kamaruddin.
Semua organisasi industri yang mengoperasikan mesin secara alami perlu mempertimbangkan strategi dan aktivitas pemeliharaan untuk memastikan semua peralatan beroperasi dengan lancar guna menghindari waktu henti (downtime) yang tidak direncanakan. Pasalnya, kondisi ini dapat mengakibatkan penghentian seluruh fasilitas dan menyebabkan konsekuensi bencana.
Sebagai produsen energi terkemuka di dunia, Petronas menyadari bahwa memiliki wawasan tentang kegagalan peralatan yang akan datang melalui solusi APM akan memungkinkan operator pabrik untuk secara proaktif menanggapi masalah dan memperbaiki peralatan sebelum masalah yang lebih besar terjadi.
Teknisi pemeliharaan di Petronas menggunakan AVEVA Predictive Analytics untuk memantau aset di seluruh lokasi. Semua level memiliki visibilitas sistem, mulai dari teknisi hingga manajer serta tim manajemen.
Dengan kemampuan ini di cloud, Petronas dapat menghilangkan silo dan membangun cara kerja baru dan lebih kolaboratif. Dalam meningkatkan kelancaran digital kepada orang-orangnya, Petronas mengharapkan program percontohan yang sukses ini menjadi sejarah dalam perjalanan digitalisasinya. Pendekatannya bukan tentang meyakinkan karyawan, melainkan membenamkan mereka dalam cara-cara baru bekerja melalui solusi digital.
“Transformasi digital adalah cara inovatif menggabungkan informasi dengan teknologi untuk meningkatkan kinerja manusia dan mesin. Pada akhirnya, kami ingin digital mengakar dalam cara kami bekerja, secara intuitif menggunakan alat seperti yang kami lakukan dalam kehidupan pribadi kami,” ungkap Chief Digital Officer Petronas, Wan Shamilah Saidi.









Tinggalkan Balasan