Jakarta, Petrominer – Masyakarat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menilai sebagai hal yang wajar atas rencana Pemerintah untuk melakukan evaluasi proyek listrik 35.000 megawatt (MW). MKI juga mendukung rencana langkah Pemerintah untuk lebih meningkatkan lagi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam proyek-proyek pembangkit listrik tersebut.

“Adanya evaluasi proyek 35.000 MW memang menjadi hal yang wajar mengingat adanya koreksi pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh pada tingkat permintaan listrik. Meski begitu, kami belum mendapatkan info dari PLN tentang rincian dari penundaan proyek-proyek dalam 35.000 MW tersebut,” ujar Wakil Ketua Umum MKI, Andri Doni, Kamis (30/8).

Menyusul kondisi ekonomi dewasa ini, di mana nilai tukar rupiah yang tak menentu dan persoalan current account deficit (CAD), telah memaksa Pemerintah berencana mengerem proyek infrastruktur yang tidak memenuhi syarat TKDN. Tetunya, proyek-proyek pembangkit listrik menjadi bagian yang paling disasar atas kebijakan tersebut.

Malahan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati secara khusus telah meminta PT PLN (Persero) untuk mengurangi bahan baku impornya. Ini secara tidak langsung sebagai instruksi agar BUMN tersebut menggunakan lebih banyak bahan baku dalam negeri.

Akibatnya, megaproyek 35.000 MW akan dievaluasi. Pasalnya, tingkat ketergantungan terhadap impor pada sejumlah komponen masih sangat tinggi. Memang diakui oleh PLN bahwa sejumlah produk untuk proyek kelistrikan masih banyak yang diimpor, seperti generator, turbin, dan boiler.

Menurut Andri, MKI menilai hal itu sebagai hal yang tak terhindarkan. Pasalnya, persentase TKDN memang belum begitu dominan pada sejumlah kelas pembangkit.

Dia memberi contoh dalam pembangunan PLTMG/PLTG/PLTU di atas 100 MW. Di proyek tersebut, rata-rata nilai TKDN masih di kisaran 32 persen. Sementara untuk kelas 100 MW ke bawah, TKDN sudah bisa terpenuhi lebih dari 50 persen.

“Kita mau 100 persen cuman kita akui untuk yang kelas-kelas yang tinggi itu emang teknologinya di dunia pun sangat terbatas. Jadi memang mau nggak mau, suka nggak suka kita harus impor,” tegas Andri.

Hari Listrik Nasional (HLN)

Atas dasar itulah, Andri memaparkan bahwa TKDN akan menjadi tema utama dalam rangkaian acara memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-73. Apalagi, saat ini merupakan momentum yang tepat dalam menjalankan langkah strategis pemenuhan TKDN guna mewujudkan ketenagalistrikan yang berkelanjutan.

Namun, dia mengingatkan bahwa yang paling penting dari pemenuhan TKDN bukan sekadar pembuatan barang dan pabrik-pabrik yang ada di Indonesia. Tapi, transfer teknologi juga menjadi kata kunci yang harus dikedepankan.

“Pemerintah itu harus mendukung program TKDN ini dengan jalan memaksa transfer teknologi. Karena ini tak bisa diminta tanpa adanya penekanan,” ucapnya.

Andri mencontohkan bagaimana China bisa memaksa perusahaan-perusahaan multinasional yang berinvestasi pada ketenagalistrikan di sana untuk melakukan transfer teknologi. Adanya proyek 35.000 MW ini menjadi momentum untuk bisa menarik investasi, dan transfer teknologi tersebut.

“Kita tiru China 40 tahun silam waktu membangun 50.000 MW, Amerika dan Eropa yang datang ke sana dipaksa memberikan teknologinya ke China. 40 tahun lalu China seperti kita. Kini China, Eropa dan Amerika bersaing di sini. Nanti mungkin 5 tahun lagi kita sudah punya teknologi. Kalau sekarang, target kita untuk bisa dapat 2×100 MW 100 persen,” tegasnya.

Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bekerja sama dengan PennWell akan menyelenggarakan “POWER-GEN Asia/Hari Listrik Nasional ke-73”, mulai 18 hingga 20 September 2018 di International Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan. Penyelenggaraan HLN ke-73 yang digabungkan dengan POWER-GEN Asia 2018 ini ditujukan untuk menjadi forum internasional bagi para pelaku industri tenaga listrik Asia, khususnya di Indonesia.

“Forum ini diharapkan bisa menjadi suatu wadah strategis di mana para ahli, regulator maupun pelaku usaha di industri ketenagalistrikan bisa bertemu dan membahas pertumbuhan industri ketenagalistrikan, terutama mengenai bagaimana peran TKDN dalam membantu mendorong pertumbuhan perekenomian nasional,” ungkap Andri.

Acara ini akan menghadirkan lebih dari 14 pembicara dari dalam dan luar negeri yang akan membahas berbagai macam topik, seperti misalnya “Penggunaan Energi Solar Untuk Ketenagalistrikan Daerah Pedesaan”, “Pemahaman Atas Nilai Sistem Penyimpanan Energi di Wilayah Asia Tenggara” dan “Faktor-Faktor Utama Pendorong Keputusan Atas Pengembangan Proyek-Proyek Energi Terbarukan di Wilayah Asia”. Di samping itu, akan ada juga pameran yang akan diikuti oleh 230 perusahaan dan asosiasi ketenagalistrikan, baik lokal maupun internasional. Rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, yang akan menyampaikan keynote speech pada acara pembukaan tanggal 18 September 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here