, , ,

Migas masih Jadi Tumpuan Usaha MedcoEnergi

Posted by

Jakarta, Petrominer – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) menghadapi tantangan luar biasa akibat pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 lalu. Akibatnya, sektor ini pun terpukul karena rendahnya harga dan permintaan minyak dunia.

Meski begitu, sebagian besar perusahaan migas mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah untuk terus menghasilkan energi yang aman dan terjangkau. Seperti yang dilalui PT Medco Energi Internasional Tbk. (MedcoEnergi) usai mengalami dampak cukup signifikan sepanjang tahun lalu.

Meski bisa meraih laba bersih sebesar US$ 9 juta pada kuartal terakhir 2020, namun pundi-pundi tersebut tidak bisa menutupi kerugian sepanjang tahun lalu. Rendahnya permintaan energi akibat pandemi sangat berdampak signifikan terhadap kinerjan Medcoenergi.

Menyikapi keadaan luar biasa tersebut, perusahaan migas nasional ini pun segera melakukan adaptasi. Tujuannya jelas, yakni melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja, mendukung masyarakat di sekitar operasi dan menjaga likuiditas.

Terbukti, memasuki tahun 2021, MedcoEnergi mulai melaporkan hasil yang positif. Contohnya kenaikan pendapatan pada Kuartal I-2021 atau periode yang berakhir pada 31 Maret 2021. Hal ini diraih berkat pulihnya harga komoditas, yakni minyak, gas bumi dan mineral.

Seolah tidak ingin melewatkan peluang yang ada, MedcoEnergi pun bakal menggelontorkan dana investasi (capital expenditure/capex) sebesar US$ 215 juta sampai akhir tahun 2021 ini. Porsi terbesar disisihkan untuk kegiatan pengembangan bisnis di hulu migas, yakni US$ 150 juta. Sementara sisanya sebesar US$ 65 juta, untuk pengembangan bisnis di sektor kelistrikan.

“Kami menganggarkan US$ 150 juta khusus untuk oil and gas. Kita akan giatkan eksplorasi pada tahun ini,” ujar VP Coorporate Planing and Investor Relations MedcoEnergi, Myrta S Utami, dalam pemaparan Company Update di virtual IPA Convex 2021, Rabu (1/9).

Myrta menjelaskan, capex tahun ini naik dibandingkan capex tahun lalu yang sebesar US$ 207 juta. Dengan alokasi, pengembangan bisnis migas US$ 144 juta dan listrik US$ 63 juta. Meski begitu, capex tahun ini bisa saja berubah jika ada permintaan.

Menurutnya, alokasi dana pengembangan migas tersebut sebagian besar bakal mengalir untuk kegiatan di blok B PSC di Natuna Selatan. Apalagi, sejak pertengahan tahun lalu, program pengeboran sumur di Kerisi telah berhasil meningkatkan produksi minyak dan kemampuan pengiriman gas.

Di blok migas tersebut, MedcoEnergi juga aktif melakukan pencarian cadangan migas baru. Terbukti, didapat penemuan gas hasil eksplorasi komersial di sumur Bronang-2, Kaci-2, West Belut-1 dan Terubuk-5. Rencananya, sumur-sumur ini akan dipercepat proses pengembangannya pada tahun 2021-2022, bersamaan dengan pengembangan sumur Hiu yang telah direncanakan sebelumnya.

“Saat ini, kami melihat cerahnya prospek pengembangan selanjutnya dari Natuna,” ungkap Myrta.

Selain fokus di dalam negeri, MedcoEnergi juga fokus melanjutkan operasional lapangan yang ada di beberapa negara. Apalagi, pasca akuisisi, aset Ophir semakin melengkapi portofolio MedcoEnergi, seperti di Meksiko, Timur Tengah, Tanzania, dan Asia Tenggara. Gabungan bisnis tersebut menjadikan MedcoEnergi sebagai pelaku usaha migas regional yang terkemuka di Asia Tenggara.

“Setalah akuisisi Ophir, maka pada hari ini MedcoEnergi merupakah salah satu perusahaan yang memiliki cadangan besar dan skala produksi cukup besar di Asia Tenggara,” tegasnya.

Perkembangan capex MedcoEnergi (dalam US$) dalam empat tahun terkahir.

Transisi Energi

Lebih lanjut, Myrta menjelaskan bahwa sebagian capex tahun ini dialokasikan untuk pengembangan bisnis di sektor kelistrikan, yakni sebesar US$ 65 juta. Mulai dari pengembangan pembangkit listrik tenaga gas IPP Riau berkapasitas 275 megawatt (MW), pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 26 MW peak di Sumbawa, Nusa Tenggara Timur serta pengembangan panasbumi di Ijen, Jawa Timur.

Dia menegaskan, kendati kondisi global tengah mengarah ke tren transisi energi hijau, MedcoEnergi masih mengkaji untuk mengubah portofolio bisnisnya. Meski begitu, perusahaan akan terus berkomitmen pada faktor environment, social, and governance (ESG) dalam operasinya.

“Apakah Medco akan masuk green investment? Mungkin saat ini kami masih akan kaji dulu ke arah sana atau tidak. Tapi kalau dilihat dari portofolio bisnis Medco, 60 persen masih fokus di gas, powernya juga kami tidak beroperasi di batubara, dan mining juga berupa copper mining. Jadi pathway-nya masih ke sana,” ungkap Myrta.

Menurutnya, langkah MedcoEnergi untuk tetap fokus mengeksplorasi dan memproduksi migas ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang akan tetap memperkuat posisi sektor hulu migas sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

Seperti disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif ketika membuka IPA Convex 2021 yang menekankan peningkatan produksi migas di tengah pemenuhan target penurunan emisi karbon.

Menurut Menteri ESDM, sebagai salah satu sektor kritikal, industri hulu migas masih menjadi penggerak perekonomian nasional dan mendorong munculnya aktivitas perekonomian lainnya. Di sisi lain, transisi energi tetap menjadi perhatian utama bagi Pemerintah.

Arifin pun menekankan kepada semua kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas untuk meningkatkan eksplorasi blok migas demi mencapai target produksi minyak sebesar 1 juta BOPD dan gas sebesar 12 BSCFD pada tahun 2030. Dia juga minta seluruh pelaku industri hulu migas dapat melaksanakan strategi-strategi yang harus dilakukan secara extraordinary.

“Kebijakan energi dunia saat ini adalah menuju energi bersih dan terbarukan, yang secara bertahap akan menggantikan energi fosil. Untuk itu diperlukan upaya proses peralihan yang terukur dan dalam masa transisi ini, peran migas masih strategis,” ungkapnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *