Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

Semarang, Petrominer – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Mohamad Nasir, mendesak Kementerian dan stakeholder terkait duduk bersama terkait penyediaan gas bumi sebagai pengganti bahan bakar minyak. Dengan demikian akan tercipta captive market bagi gas bumi dalam negeri sekaligus mengurangi impor BBM.

Hal itu disampaikan menyusul keberhasilan uji coba teknologi konverter kit Diesel Dual Fuel (DDF) pada mesin kapal bertonase besar dan truk angkutan barang. Inovasi terbaru ciptaan peneliti nasional itu mencampur penggunaan BBM jenis solar dengan gas bumi sebagai bahan bakar kapal dan truk. Teknologi ini mampu mengurangi penggunaan BBM solar sampai 60 persen dan juga meningkatkan kinerja mesin.

“Saya mengapresiasi para peneliti yang telah menghasilkan inovasi baru, khususnya penggunaan bahan bakar kapal dan truk. Dengan dipasangi teknologi converter kit terbaru, mesin berbahan bakar solar yang dicampur dengan gas bisa menghemat biaya,” ujar Nasir dalam perbincangan dengan PETROMINER, Minggu (29/9).

Menurutnya, teknologi konverter kit yang mengubah mesin bensin atau solar menjadi mesin berbahan gas ini menghasilkan beberapa tipe/generasi konverter kit yang memiliki keunggulan sesuai fase pengembangannya. Alat DDF ini bisa menjadi solusi nyata. Alasannya, sistem ini tidak menghilangkan karakter mesin asli, artinya bahan bakar solar dan gas masih dapat digunakan secara bersamaan sehingga mesin tetap bisa berfungsi meskipun pada saat ketiadaan gas.

Berdasarkan uji laboratorium, hasil penghematan biaya dan kinerja mesin yang dicapai itu baru sebatas menggunakan gas yang dikompres (Compressed Natural Gas/CNG). Hasilnya bisa lebih optimal lagi jika menggunakan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG), yang harga belinya bisa lebih rendah dibandingkan CNG dan LPG (Liquefied Petroleum Gas)

“Penghematan ini luar biasa, bahkan jika sudah bisa total menggunakan CNG ataupun LNG, tanpa dicampur solar atau BBM lain. Apalagi, alatnya tidak begitu mahal dan terjangkau,” tegas Nasir.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menyaksikan uji laboratorium sistem kerja konverter kit diesel duel fuel (DDF) untuk mesin multisilinder kapal perikanan di Balai Besar Penangkapan Ikan (BPPI) Semarang, Jawa Tengah, Minggu (29/9).

Keterlibatan Sektor Lain

Menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia, jelasnya, beban biaya transportasi bagi pelaku dunia usaha dan nelayan saat ini pun kian terasa berat. Ibarat buah simalakama, semua ini harus ditanggung bersama karena jika tidak Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) bisa jebol tersedot untuk subsidi. Dampaknya, juga bisa menggerus kesempatan pembangunan di sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang sama pentingnya bagi rakyat.

Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya gas alam yang sangat melimpah, namun pemanfaatannya untuk sektor transportasi masih belum maksimal. Gas alam yang dimiliki baik dalam bentuk CNG maupun LNG memiliki harga yang relatif murah dibandingkan BBM solar. Dan yang paling utama, kandungan sulfur dan unsur polutannya sangat rendah.

“Di sinilah, Kementerian Ristekdikti bersama kementerian sektoral yang terkait terpanggil untuk menciptakan teknologi tepat guna dan tepat waktu untuk menjadi solusi bagi dunia usaha transportasi di darat dan laut,” tegas Nasir.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa konversi BBM ke gas sebenarnya program Pemerintah yang sudah berjalan lama. Dimulai dari konversi minyak tanah ke gas untuk rumah tangga, selanjutnya konversi diesel ke gas untuk pembangkit listrik di industri, dan konversi bbm ke gas untuk sektor transportasi yang terus berkembang hingga hari ini.

“Jika awalnya fokus konversi gas masih bergantung pada gas LPG, sementara LPG masih turunan BBM, maka ke depan arah pengembangan harus bisa memanfaatkan gas alam yang cadangannya sangat melimpah di Indonesia. Jika bisa mengoptimalkan gas alam baik dalam bentuk CNG maupun LNG, saya yakin dua persoalan dapat diselesaikan sekaligus, yakni mengurangi beban subsidi, dan mengurangi polusi di darat maupun laut,” jelas Nasir.

Dia menyatakan akan segera bicara dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Energi (ESDM), Igantius Jonan, bagaimana ketersediaan CNG maupun LNG di daerah-daerah yang ada banyak kapal dan truk menggunakan konverter kit ini. Jika bisa direalisasikan, akan banyak penghematan. Para nelayan, pengusaha dan sopir truk pun akan senang menggunakan alat ini.

Selain dukungan teknologi, dukungan fasilitas pengisian gas pun sangat diperlukan. Fasilitas pengisian gas (CNG maupun LNG) harus banyak agar para pemilik kapal maupun truk bisa dengan mudah melakukan pengisian. Tentunya, ini dengan mengundang investor swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Fasilitas pengisian tersebut bisa bangun di pelabuhan-pelabuhan maupun pangkalan truk.

“Inilah pentingnya koordinasi semua kementerian dan pihak terkait. Saya Cuma berharap Mari kita cintai produk dalam negeri dan dukung produk dalam negeri. Tujuannya dari Indonesia untuk Indonesia. Kalo bisa kita tingkatkan dan malah bisa diekspor,” ujar Nasir.

Menurutnya, success story tersebut tentu akan terwujud dengan didukung juga oleh pemain kunci seperti Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPH Migas, Pertamina, PGN, serta perusahaan pengelola dan penyedia gas alam (LNG dan CNG). Dia pun mengajak semua pihak terkait untuk berkolaborasi dalam meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk transportasi, baik di darat maupun laut.

Apalagi, pemakaian CNG maupun LNG juga akan mendukung masalah climate change dan ramah lingkungan. Udara akan menjadi lebih bersih tidak ada polusi udara. Jika ini bisa dilakukan, di jalanan semua truk bisa menggunakan gas. Sementara di laut, semua kapal nelayan, kapal besar, kapal angkutan maupun penyeberangan bisa memakai CNG.

“Ini semua akan menekan biaya bahan bakar yang tinggi dan polusi udara akan terkontrol menjadi lebih baik,” kata Nasir.

Mesin truk pengangkut barang yang sudah dipasangi konverter kit DDF. Teknologi ini mampu mengurangi pemakaian solar 40-60 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here