Jakarta – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di dunia saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Pasalnya, harga minyak mentah dunia masih belum stabil. Hal ini sudah pasti akan berdampak terhadap kegiatan operasional hulu migas.
Untuk itu, harus ada komitmen nyata yang dibantu stakeholder untuk menyiasati tantangan tersebut. Salah satunya adalah strategi kegiataan pengadaan barang dan jasa dituntut untuk meningkatkan pola kandungan dalam negeri (TKDN). Kemudian, mengubah pola pemanfaatan barang atau jasa dari impor menjadi lokal.
Strategi tersebut tentunya dilakukan dengan komitmen memberdayakan pengusaha lokal. Salah satu konkretnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) mengadakan Vendor’s Day pada 27-28 Juli 2017 di Malang, Jawa Timur.
Kegiatan serupa juga digelar Area Jakarta pada 23 Agustus 2017 di kantor SKK Migas, Biasanya kegiatan ini dilakukan di masing-masing Kontraktor KKS. Namun, dalam rangka efisiensi, kegiatan ini dilaksanakan secara bersama di kantor SKK Migas.
Dalam kegiatan tersebut, penyedia barang jasa (mitra kerja) yang hadir mendapatkan informasi mengenai proses bisnis di Kontraktor KKS. Selain itu, penyedia barang dan jasa ini juga mendapatkan informasi tentang peraturan yang berlaku di industri hulu migas terkait kepabeanan, logistic, kapasitas nasional, dan standardisasi kesehatan keselamatan kerja dan lindungan lingkungan.
Dari kegiatan itulah, SKK Migas dan Kontraktor KKS berkomitmen menerapkan produk barang jasa dalam negeri. Namun yang terpenting, SKK Migas mengharapkan kerjasama aktif dari para pengusaha (mitra kerja) dalam menciptakan produk dalam negeri yang berkualitas, kompetitif, dan kemampuan pengiriman sesuai jadwal. Hal ini diharapkan bisa lebih mengoptimalkan efek berganda industri hulu migas terhadap perekonomian nasional.

“Salah satu contoh pengutamaan kandungan lokal adalah Proyek Masela, yang mengubah skema offshore menjadi onshore dalam rangka meningkatkan kemampuan lokal Maluku,” ujar Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas, Djoko Siswanto.
Vendor’s Day
Sebagai informasi, kegiatan Vendor’s Day dilakukan rutin tiap tahun. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan baru kepada mitra kerja Kontraktor KKS terkait pengadaan barang dan jasa hulu.
Utamanya terkait dengan regulasi yang berlaku dan memberikan pelatihan untuk pemenuhan regulasi tersebut. Selain itu, juga memberikan apresiasi kepada mitra kerja lokal yang telah memberikan unjuk kerja terbaik.
Peran perhatian SKK Migas dalam kegiatan tersebut mempunyai dua agenda penting. Pertama forum sharing informasi regulasi dan apresiasi. Setelahnya, diadakan pelatihan peningkatan kemampuan mitra kerja.
Pada tahun ini, SKK Migas memberikan arahan kepada mitra kerja dengan pemaparan umum mengenai Regulasi Pengadaan Barang dan Jasa Pedoman Tata Kerja SKK Migas (PTK) 007 Revisi 4, kebijakan TKDN, serta kepabeanan barang operasi perminyakan dan pusat logistik berikat. Kemudian, mitra kerja diberikan pelatihan pendaftaran centralized integrated vendor database (CIVD) dan pengisian TKDN dan berpartisipasi dalam e-procurement.
Regulasi PTK 007 revisi 4 itu konsepnya untuk percepatan proses tender, efisiensi rantai suplai dan kewajiban penggunaan produk dalam negeri. SKK Migas mendorong para pelaku pengadaan barang dan jasa untuk lebih efisien dan kompetitif. Dengan begitu, mereka dapat bertahan dalam kondisi sektor hulu migas seperti saat ini.
“Sehingga ada sinergi antara industri pendukung, Kontraktor KKS, dan SKK Migas dalam menjawab tantangan industri hulu migas,” ujar Kepala Divisi Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa, SKK Migas, Erwin Suryadi
Dengan konsep mengaet produk lokal terlibat dalam peningkatan kapasitas produksi migas Indonesia, Erwin menegaskan harus ada komitmen bersama dan uji produk. Sehingga Kontraktor KKS dan industri penunjang semakin yakin akan kemampuan produk dalam negeri untuk menunjang operasi hulu migas nasional. (Adv)









Tinggalkan Balasan