
Jakarta, Petrominer — Sepanjang kuartal I-2026, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat pertumbuhan produksi listrik sebesar 15,22 persen secara tahunan menjadi 1.370 gigawatt hour (GWh). Peningkatan ini menjadi pendorong utama kinerja positif pada awal tahun.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan kenaikan produksi pada periode ini mencerminkan optimalisasi aset dan efisiensi operasional yang semakin baik di berbagai area operasi. Tren positif ini mencerminkan kinerja operasional yang semakin optimal, seiring dengan terjaganya keandalan aset dan peningkatan efisiensi produksi.
“Kinerja tersebut juga ditopang oleh kontribusi dari sejumlah wilayah kerja utama, antara lain Kamojang (483 GWh), Lahendong (213 GWh), Ulubelu (408 GWh), Lumut Balai (240 GWh), dan Karaha (26 GWh). Peningkatan ini turut diperkuat oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) sejak pertengahan 2025,” ujar Andi dalam paparan Earnings Call kepada investor dan analis yang digelar, Selasa (5/5).
Seiring dengan pertumbuhan produksi, PGE membukukan pendapatan US$ 116,56 juta. Angka ini naik 14,82 persen dari US$ 101,51 juta pada periode yang sama tahun lalu. PGE juga berhasil mencatatkan laba bersih US$ 43,899 juta, meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yaitu US$ 31,352 juta.
Selain itu, PGE juga mencatat kenaikan capacity factor sebesar 5,03 persen menjadi 90,77 persen. Availability factor turut meningkat 0,27 persen menjadi 99,63 persen. Hal ini semakin menegaskan keandalan energi panas bumi sebagai tulang punggung energi nasional.
Proyek Strategis
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan optimalisasi pemanfaatan aset dan operasional di berbagai Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PGE.
“Tahun ini, PGE menargetkan peningkatan produksi listrik dan uap terkonsolidasi hingga mencapai 5.255 GWh pada tahun 2026,” ujar Ahmad Yani.
Untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, PGE terus mengakselerasi pengembangan berbagai proyek strategis, di antaranya PLTP Hululais Unit 1 & 2 berkapasitas 2×55 MW serta proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW. Seluruh proyek tersebut dipastikan berjalan sesuai rencana agar dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Ke depan, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034. PGE juga terus mengoptimalkan potensi 3 GW yang telah diidentifikasi.
Sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut antara lain Ulubelu Binary Unit (BU) berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi secara penuh (commercial operation date/COD) pada tahun 2027. PGE juga menargetkan sejumlah proyek lainnya untuk mulai beroperasi penuh pada tahun 2028, meliputi Kamojang Low Pressure (LP) (5 MW), Lahendong LP (15 MW), Lahendong BU Unit 1 (15 MW), Lumut Balai BU Unit 1 (10 MW), Sibayak BU (5 MW), serta Hululais BU Unit 1 (30 MW).
Selain proyek-proyek tersebut, PGE juga mempersiapkan pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW yang ditargetkan mencapai COD pada tahun 2030. Seluruh portofolio ini menjadi bagian dari upaya PGE untuk memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan energi nasional serta target Net Zero Emission 2060.
Dari sisi keberlanjutan, hingga 31 Maret 2026, PGE menunjukkan kinerja ESG yang kuat dan konsisten. PGE mencatat penghindaran emisi sebesar 1.167.992,70 ton CO2e dibandingkan emisi dari pembangkit listrik berbasis batubara.
Saat ini, PGE mengelola 15 WKP dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE serta 1.205 MW yang dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.







