, ,

Melawan Kodrat Sumur Tua, PHR Tahan Laju Penurunan

Posted by

Pekanbaru, Petrominer – Sumur-sumur tua punya satu hukum yang sulit dilawan: produksi akan terus menurun. Tekanan reservoir menyusut, cadangan berkurang, sementara setiap tahun baseline produksi semakin rendah.

Di Wilayah Kerja (WK) Rokan, salah satu wilayah kerja migas tertua dan terbesar di Indonesia, hukum alam itu datang dengan tekanan yang tidak ringan. Setelah lebih dari tujuh dekade berproduksi, lapangan ini menghadapi laju penurunan alamiah (natural decline) yang agresif. Tanpa intervensi, produksi bisa terjun tajam.

Namun, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan memilih tidak membiarkan penurunan itu berjalan sendiri. Ratusan rig terus bergerak. Sumur-sumur baru dibor, teknologi diterapkan, sumur lama dirawat, dan setiap peluang dari reservoir yang tersisa diburu.

Strategi tersebut menjadi cara Zona Rokan menjaga produksi WK Rokan tetap berada di kisaran 150.000–160.000 barel minyak per hari (BOPD).

General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menggambarkan perjuangan mempertahankan produksi di lapangan tua seperti berlari melawan eskalator yang terus bergerak turun.

Karena itu, pengeboran menjadi tulang punggung strategi PHR di Rokan. Target 400–500 sumur per tahun bukan sekadar angka operasional, melainkan upaya untuk menambal baseline produksi yang terus menyusut akibat natural decline.

Aktivitas rig pun berjalan nyaris tanpa henti. Setiap sumur baru diharapkan bukan hanya menghasilkan tambahan produksi, tetapi juga memperpanjang usia produktif lapangan.

Sejak alih kelola WK Rokan pada tahun 2021, PHR memang meningkatkan agresivitas pengeboran. Jumlah sumur yang dibor meningkat dari 413 sumur pada tahun 2022 menjadi 558 sumur di tahun 2025.

Teknologi dan Efisiensi

Pengeboran masif bukan satu-satunya senjata. PHR juga mengoptimalkan teknologi untuk mengambil sisa potensi dari lapangan yang telah berumur panjang.

Di lapangan Minas, misalnya, PHR Zona Rokan mulai menerapkan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) secara komersial sejak Desember 2025. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak dari reservoir yang masih menyimpan potensi.

“Setiap barel yang berhasil kita pertahankan dari natural decline adalah wujud komitmen nyata kami bagi negara,” tegas Andre.

Bagi PHR, agresivitas operasi juga tidak boleh mengorbankan keselamatan. Standar HSSE diterapkan sebagai syarat mutlak di tengah aktivitas pengeboran yang berlangsung masif.

“Kami mewajibkan pemenuhan standar keselamatan tanpa pengecualian apa pun. Bagi kami, operasi yang masif wajib menjadi operasi yang selamat,” tegasnya.

Tak Sekadar Menambal Produksi

Pertarungan melawan natural decline juga berlangsung di PHR Zona 4, yang mengelola tujuh wilayah kerja di Sumatera Selatan.

“Setiap pengeboran tidak hanya menghasilkan produksi, tetapi juga membuka peluang penemuan cadangan baru,” ujar General Manager PHR Zona 4, Djudjuwanto.

Pada tahun 2026, step out drilling direncanakan di Adera, Prabumulih, Ramba, dan Limau Field. Enam sumur yang dibor melalui metode ini ditargetkan memberikan tambahan 209 BOPD minyak dan 0,04 MMSCFD gas.

Strategi lain adalah dual completion. Metode ini memungkinkan dua reservoir diproduksikan melalui satu sumur sehingga perolehan hidrokarbon dapat dioptimalkan tanpa harus membuka sumur baru untuk setiap lapisan.

Empat sumur di Adera dan Prabumulih Field akan menggunakan metode tersebut. Target tambahannya mencapai 325 BOPD minyak dan 2,43 MMSCFD gas.

Secara keseluruhan, PHR Zona 4 menargetkan 100 rencana kerja pengeboran pengembangan pada 2026 dengan tambahan produksi minyak 4.479 BOPD.

Meski begitu, sumur lama tetap menjadi bagian penting dari strategi. PHR Zona 4 mengoptimalkan artificial lift, fasilitas permukaan, dan sarana produksi untuk menekan laju penurunan sumur eksisting. Strateginya menjadi jelas: produksi baru harus cukup untuk menambah pasokan, bukan sekadar menggantikan barel yang hilang akibat penurunan alamiah.

Di sinilah tantangan lapangan mature menjadi semakin kompleks. Pengeboran baru diperlukan untuk mengejar produksi, sementara sumur lama harus terus dirawat agar penurunannya tidak semakin tajam.

Dari Rokan ke Program No Decline

Upaya menahan natural decline tersebut sejalan dengan kebijakan SKK Migas yang menempatkan penurunan produksi alamiah sebagai salah satu tantangan utama industri hulu migas.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, mengatakan lapangan tua menghadapi persoalan fasilitas produksi dan reservoir yang membutuhkan investasi serta teknologi. Karena itu, pengeboran, workover, well service, dan optimalisasi teknologi harus berjalan beriringan.

“Secara keseluruhan, strategi SKK Migas bertumpu pada peningkatan investasi, pengeboran agresif, dan optimalisasi teknologi pada lapangan tua untuk meminimalisir penurunan,” ujar Heru.

Pertarungan PHR melawan natural decline pada akhirnya bukan sekadar persoalan berapa banyak sumur yang dibor.

Di Rokan, pengeboran masif menjadi cara mempertahankan produksi dari lapangan yang telah berusia puluhan tahun. Di Zona 4, pengeboran step out diarahkan sekaligus untuk mencari kesinambungan reservoir, sementara dual completion dan perawatan sumur eksisting digunakan untuk mengoptimalkan aset yang sudah tersedia.

Semua strategi itu bermuara pada satu persoalan: bagaimana menjaga agar produksi tidak jatuh lebih cepat ketimbang kemampuan industri menambah produksi baru.

Sebab di lapangan tua, mempertahankan satu barel minyak bukanlah pekerjaan pasif. Ada investasi, teknologi, manusia, keselamatan, dan keberanian mengambil risiko yang harus terus bergerak. Dan selama eskalator natural decline masih bergerak turun, PHR harus terus berlari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *