, ,

Melawan Kodrat Sumur Tua, Ini Strategi PHR Tahan Laju Penurunan

Posted by

Pekanbaru, Petrominer – Mengelola salah satu wilayah kerja minyak dan gas bumi tertua dan terbesar di Indonesia bukanlah tugas yang mudah. Memasuki usianya yang ke-70 tahun lebih, Wilayah Kerja (WK) Rokan menghadapi tantangan geologis yang tidak bisa dihindari oleh lapangan migas mana pun di dunia, yakni natural decline atau penurunan produksi alamiah.

Namun, ikhtiar operasional yang masif, penerapan teknologi tepat guna, serta keandalan sumber daya manusia di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mampu menahan laju penurunan tajam tersebut. Hasilnya, tingkat produksi berhasil dijaga stabil guna menopang ketahanan energi nasional.

“Ibarat kita berlari ke atas di eskalator yang bergerak turun dengan cepat. Jika kita diam atau hanya berjalan santai, kita akan terseret ke bawah. Pengeboran ratusan sumur baru setiap tahun adalah cara kami ‘berlari cepat’ untuk memastikan pasokan energi tetap andal dan produksi terjaga di kisaran 150.000 – 160.000 barel minyak per hari (BOPD),” ungkap Andre dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Selasa (7/4).

Dia menyebutkan pengeboran ratusan sumur setiap tahunnya menjadi strategi utama PHR dalam melawan kodrat natural decline demi mengamankan pasokan energi nasional. Malahan, aktivitas rig pengeboran terus berdenyut 24 jam. 

“Target pengeboran 400 hingga 500 sumur pada dasarnya adalah fondasi teknis yang krusial untuk menambal baseline produksi yang terus menyusut,” jelas Andre.

Dalam menjalankan operasi berskala raksasa ini, dia menekankan bahwa PHR terus berkoordinasi ketat dengan Pemerintah, melalui SKK Migas, untuk memastikan setiap program kerja dieksekusi dengan kehati-hatian. Setiap barel yang berhasil dipertahankan dari natural decline adalah wujud komitmen nyata PHR bagi negara. 

“Karena WK Rokan beroperasi dengan skema Gross Split, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola seluruh risiko operasional secara mandiri. Oleh karena itu, di tengah tantangan sumur tua, kami terus berupaya melakukan efisiensi operasional dan optimalisasi teknologi. Tujuannya agar setiap aktivitas pengeboran mampu memberikan dampak yang terukur bagi upaya menjaga urat nadi migas nasional,” ujar Andre.

Di tengah ritme operasi yang agresif serta komitmen kuat untuk memberdayakan pengusaha lokal Riau, revitalisasi aset warisan dan pengeboran masif akan terus dipacu beriringan dengan pembinaan mitra kerja lokal.

“Kami mewajibkan pemenuhan standar keselamatan tanpa pengecualian apa pun. Bagi kami, operasi yang masif wajib menjadi operasi yang selamat,” paparnya.

Program No Decline

SKK Migas mengapresiasi upaya maksimal yang dilakukan oleh PHM dalam menahan natural decline , yang berhasil menjaga sumbangan produksi minyak nasional tetap signifikan, yakni sekitar 24 persen dari total produksi nasional. Begitu pula dengan kontribusi PHR terhadap penerimaan negara setiap tahunnya.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, Migas mengakui bahwa kendala utama dalam menahan laju penurunan adalah fasilitas produksi dan lapangan yang sudah tua. Hal ini memerlukan investasi dan teknologi terkini.

“Secara keseluruhan, strategi SKK Migas bertumpu pada peningkatan investasi, pengeboran agresif, dan optimalisasi teknologi pada lapangan tua untuk meminimalisir penurunan,” ungkap Heru.

Dia menjelaskan SKK Migas telah menempatkan penahanan laju penurunan alamiah (natural decline rate) produksi migas sebagai fokus utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Salah satunya melalui pencanangan Program No Decline.

“SKK Migas secara aktif telah mencanangkan program no decline pada blok-blok migas untuk menahan laju penurunan alamiah, terutama pada lapangan-lapangan tua,” jelas Heru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *