Gresik, Petrominer – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyatakan optimis pembangunan pabrik pemurnian (smelter) PT Freeport Indonesia (PTFI) bisa selesai tepat waktu. Dengan begitu, smelter single line terbesar di dunia itu dapat beroperasi di bulan Mei 2024 sesuai yang sudah direncanakan untuk mengolah konsentrat produksi PTFI.
Hal itu disampaikan Ma’ruf usai mengunjungi lokasi pembangunan smelter PTFI di Kawasan Java Integrated Industrial Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Selasa (77/2). Pembangunan smelter ini merupakan bagian dari program hilirisasi yang dicanangkan Pemerintah sesuai dengan amanat dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
“Pemerintah dalam rangka mengembangkan industrinya melakukan hilirisasi dan dan pembangunan smelter itu merupakan pelaksanaan dari hilirisasi karena itu tadi saya meninjau smelter PT Freeport Indonesia,” ujar Wapres.
Pembangunan smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial And Ports Estate ini merupakan smelter kedua yang dibangun untuk mengolah dan memurnikan konsentrat setelah yang pertama PT Smelting di Kawasan PT Petrokimia Gresik.
Pembangunan smelter kedua PTFI ini merupakan kebanggaan bangsa Indonesia karena merupakan smelter terbesar di dunia yang mampu mengolah konsentrat hingga 1,7 juta ton produk dari PTFI. Sedangkan di PT Smelting (smelter pertama) hanya mengolah 1,3 juta ton.
“Secara keseluruhan dapat mengelola 3 juta ton konsentrat,” ungkap Ma’ruf.
Multiplier effect lainnya dari proyek tersebut adalah penyerapan sekitar 11.000 pekerja dengan komposisi 98 persen tenaga kerja Indonesia di mana 50 persen berasal dari tenaga kerja lokal Jawa Timur. Karena itulah, Pemerintah Daerah setempat diminta segera menyiapkan tenaga kerja trampil dan dengan melakukan pelatihan-pelatihan vocational training sesuai dengan tuntutan yang ada.
Proyek smelter ini target penyelesaian konstruksi bakal dicapai akhir Desember 2023, Commercial Operation Date (COD) dan mulai berproduksi di bulan Mei 2024.
Di tempat yang sama, Presiden Direktur PTFI Toni Wenas menjelaskan, selain memproses konsentrat menjadi katoda tembaga, smelter tersebut nantinya akan menghasilkan juga perak dan emas batangan, karena ada fasilitas precious metal refinery (PMR) serta nikel, almunium, lithum dan cobalt yang merupakan bagian dari ekosistem kendaraan listrik.
“Di smelter ini akan dihasilkan tembaga itu salah satu bahan utama untuk ekosistem kendaraan listrik disamping tentunya ada nikel, alumunium juga ada cobalt dan lithium. Jadi ini semua adalah unsur-unsur yang sangat penting untuk industri hilirisasi dan saya sudah yakin karena Presiden beberapa kali megatakan, ekosistem kendaraan listrik ini yang akan dibentuk di Indonesia,” ungkap Toni.
Dia berharap setelah smelter kedua PTFI berproduksi dapat menjadi stimulus bagi tumbuhnya industri hilir lainnya, khususnya berkaitan dengan ekosistem kendaraan listrik.
Saat ini, konsentrat hasil produksi PTFI 60 persen diekspor dan sisanya 40 persen diolah di dalam negeri di PT Smelting di Gresik Jawa Timur menjadi katoda tembaga. Meski begitu, lumpur anodanya yang mengandung emas dan perak itu masih diekspor oleh PT Smelting. Jika nantinya smelter ini beroperasi, pemurnian lumpur anoda 100 persen akan diolah dan dimurnikan di dalam negeri.








Tinggalkan Balasan