Direktur MegaProyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Rachmad Hardadi melakukan inspeksi ke fasilitas pengolahan minyak di Cilacap, Jawa Tengah.

Jakarta, Petrominer — Pembangunan mega proyek enam kilang minyak sudah dicanangkan. Dalam kurun waktu 6-7 tahun ke depan, kapasitas produksi bahan bakar minyak nasional (BBM) akan mencapai 2,2 juta barel per hari. Ini sesuai dengan kebutuhan BBM pada tahun 2025 mendatang.

Kapasitas produksi BBM tersebut merupakan target Pemerintah untuk Swasembada BBM. Target ini dicapai dengan cara melakukan pengembangan empat kilang minyak yang sudah ada, yakni Refinery Unit (RU) V Balikpapan, RU VI Balongan, RU IV Cilacap, dan RU III Dumai, serta pembangunan dua kilang minyak baru di Tuban dan Bontang.

Menurut Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Rachmad Hardadi, pekerjaan mulai dari FS (Feasibility Studies), BED (Basic Engineering Design), FEED (Front End Engineering Design) dan EPC (Engineering Procurement and Construction) dilakukan secara paralel.

“Strategi ini ditempuh agar terjadi percepatan pembangunan di keenam proyek tersebut,” jelas Rachmad, Selasa (18/4).

Biasanya, waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan seluruh tahapan tersebut berkisar antara 5 sampai 6 tahun. Karena itulah, ada tahapan yang dipercepat, misalnya dalam proses BED dan FEED.

“Proses ini biasanya dilakukan selama dua tahun. Namun untuk mencapai target, kami percepat menjadi satu tahun,” ujar Rachmad.

Begitu juga untuk proses-proses selanjutnya, seperti FEED, prakualifikasi dan kualifikasi EPC. Pertamina tidak akan menunggu sampai 100 persen selesai. Pada saat proses FEED sudah mencapai 60 persen, pra-kualifikasi dan kualifikasi EPC sudah bisa dimulai.

Dalam mempersiapkan ini semua, faktor sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting. Tidak seperti pekerjaan-pekerjaan pembangunan kilang minyak sebelumnya, yang menerapkan All in Contract atau lazim dikenal dengan Turn Key Project. Namun untuk pekerjaan Mega Proyek keenam kilang minyak ini, Pertamina melakukannya dengan pola yang berbeda.

Rachmad menegaskan, mega proyek ini merupakan kesempatan bagi Pertamina untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia. Jika masih tetap menggunakan pola yang lama, yaitu Turn Key Project, Pertamina tinggal menerima hasil pekerjaan dari kontraktor. Ini tidak ada nilai lebih bagi sumber daya manusia Pertamina.

Untuk pembangunan mega proyek ini, bekerja sama dengan Bechtel International, Pertamina telah menyiapkan sekitar 200 insinyur untuk terlibat dalam pembuatan BED dan FEED.

Dasar dari kerjasama itu adalah kesepakatan yang ditandatangani pada 6 Oktober 2015 lalu di Washington DC. Kerjasama itu (Master and Service Agreement, MSA) ditandatangan oleh Pertamina yang diwakili Rachmad, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pengolahan Pertamina dan Scott R Johnson, Senior Vice President Bechtel Inc. Acara penandatangan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Barrack Obama.

Melalui kerjasama ini, para insinyur dari Pertamina diberikan pelatihan dengan terlibat dalam pembuatan BED dan FEED di lokasi Engineering Company and Licensor di London, Houston dan India. Selama pelatihan, mereka didampingi tenaga ahli dari Bechtel Internasional. Pelatihan ini dilakukan secara bergelombang per dua bulan.

“Ini adalah the golden moment bagi Pertamina. Melalui mega proyek ini, kita bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas para insinyur kita,” tutup Rachmad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here