Kiri ke kanan: Anang Aenal Yaqin (moderator), Fuadil Ulum (Kabem FISIP UI), Andy setya utama (Kabem Politeknik Negeri Jakarta), Liven Hopendy (Ka Dep Kastrat FTSP Trisakti).

Jakarta, Petrominer – Listrik salah satu energi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh wilayah di bumi ini membutuhkan energi untuk menggerakkan roda kehidupan.

Hal inilah yang membuat peranan listrik sangat diprioritaskan. Bahkan dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan sebuah negara.

Demikian kesimpulan dari acara diskusi mahasiswa bertitel “Energi dan Kita,” Senin (15/2). Tema yang diangkat dalam diskusi ini dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi PT PLN (Persero) sebagai penyedia listrik bagi hajat hidup orang banyak.

Diskusi menghadirkan para pembicara, Andy Setya Utama (Ketua BEM Politeknik Negri Jakarta), Fuadil Ulum (Ketua BEM FISIP Universitas Indonesia) dan Liven Hopendy (Kabiro Kastrat FTSP Trisakti). Dihadiri sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Diskusi ini diselenggarakan untuk mencari pokok permasalahan listrik nasional dan hubungannya dengan pihak lain, terutama yang terkait dengan tarif dasar listrik. Masalah pentingnya adalah meminta perhatian agar harga listrik terus berada dalam kondisi stabil, sehingga tidak menambah beban rakyat.

Saat ini, masalah tarif listrik sedang menjadi isu utama. Hal itu tak lain akibat melambungnya harga batubara, di mana PLN masih menggantungkan 60 persen pembangkit listriknya kepada produk tambang tersebut. Tiap kenaikan harga batubara otomatis akan mendongkrak biaya produksi listrik, dan ujung-ujungnya akan mempengaruhi tarif dasar listrik.

Sejatinya, batubara jangan semata-mata menjadi komoditas belaka. Produk ini adalah sumber energi yang sangat penting untuk menggerakkan perekonomian dengan segala multplier effect-nya.

Dalam kesempatan itu, Andy menyebutkan pentingnya pemanfaatan energi listrik yang dihasilkan oleh PLN. Dia juga menyebutkan bahwa 60 persen pembangkit listrik PLN masih menggunakan bahan bakar batubara.

Meski pengelolaannya dinilai sudah paling efisien, namun mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta ini menghimbau agar pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti energi surya dan tenaga air bisa lebih ditingkatkan.

Sementara Liven menyampaikan kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan listrik sebagai sumber energi. Apalagi, sumber energi ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Itu sebabnya kami mengharapkan agar tarif listrik tetap stabil,” jelas Mahasiswa Trisakti ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Fuadil. Malahan, Mahasiswa FISIP UI ini mengharapkan agar pengelolaan energi primer sebaiknya tidak ditawarkan lagi ke pihak swasta. Dia minta agar tetap dikelola oleh negara melalui PLN.

“Tujuannya agar negara memiliki kedaulatan di bidang energi, sehingga hak pengelolaan tersebut tetap dihormati oleh negara lain,” tegas Fuadil.

Ketiga pembicara juga sepakat untuk mendukung program program penyediaan listrik 35.000 megawatt (MW) yang telah dicanangkan Pemerintah. Apalagi, program yang diharapkan bisa dicapai tahun 2025 ini membutuhkan dana yang sangat besar.

“Langkah tersebut perlu dapat dukungan semua pihak, mengingat pentingnya pemerataan listrik di seluruh negeri, yang juga berperan menggerakkan perekonomian nasional,” papar mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here