Mama Yane (55) memperlihatkan hasil kerajinan dari limbah tempurung kelapa yang dibuat bersama Kobek Millenial Papua.

Jayapura, Petrominer – Siapa sangka limbah tempurung kelapa bisa diolah menjadi kerajinan bernilai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Hal itulah yang dilakukan oleh kelompok usaha Kobek Millenial Papua di Jayapura, yang merupakan mitra binaan PT Pertamina (Persero).

Melalui program corporate social responsibility, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VIII mengembangkan kelompok yang beranggotakan warga lokal Kota Jayapura di sekitar Fuel Terminal Jayapura. Sejak tahun 2019, kelompok ini dilatih menjadi kelompok pengrajin limbah tempurung kelapa. Dan saat ini, mereka telah berhasil menjual puluhan hasil karya kerajinan dari daur ulangnya tersebut hingga beromzet puluhan juta rupiah.

Menurut Unit Manager Communication, Relations & CSR MOR VIII, Edi Mangun, program ini merupakan cara Pertamina untuk memunculkan potensi kemampuan kreativitas masyarakat asli Papua dalam membuat kerajinan.

“Dengan basis kreativitas dalam budaya kerajinan noken di Papua yang telah mendarahdaging, kami ingin mengembangkan jiwa kreativitas masyarakat asli Papua yang telah menjadi budaya itu untuk berkreasi memanfaatkan daur ulang limbah yang mempunyai nilai jual tinggi, yaitu limbah tempurung kelapa,” ungkap Edi, Jum’at (18/9).

Berawal dari Ketekunan

Dia menjelaskan, berawal dari hasil pemetaan sosial di sekitar wilayah operasi Fuel Terminal Jayapura, Pertamina menemukan sesosok inspiratif yang juga merupakan warga asli Papua yang telah lama menggeluti kerajinan daur ulang sampah. Dialah Yane Maria Nari (55).

Seorang mama asli Papua ini telah lebih dari 20 tahun menekuni kerajinan daur ulang sampah dari limbah kertas dan plastik. Dari sinilah, Pertamina melihat potensi dan bakat yang dimiliki oleh Mama Yane dan anggota kelompoknya dapat diberdayakan untuk membuat produk yang bernilai dari limbah tempurung kelapa.

“Kami kagum dengan potensi sekaligus konsistensi yang dimiliki Mama Yane dalam kerajinan daur ulang sampah. Sehingga kami kirim mama Yane ke Yogyakarta untuk magang dan belajar dengan pengrajin tempurung kelapa di sana pada Mei 2019,” papar Edi.

Dari hasil belajar dengan pengrajin di Yogyakarta, Mama Yane dan anggota kelompok Kobek Millenial Papua akhirnya dapat menghasilkan sejumlah kerajinan. Mulai dari lampu hias, peralatan makan dan minum, pernak pernik hiasan rumah tangga, hingga jepit rambut dan anting-anting.

“Satu minggu saya mempelajari seluk beluk tentang kerajinan tempurung kelapa dan setelah itu saya pulang hingga hari ini masih menggeluti kerajinan itu,” ungkap Mama Yane.

Pulang dari Yogyakarta, Pertamina juga membantu kelompok Kobek Millenial Papua yang diketuai Mama Yane dengan membuatkan rumah produksi yang dilengkapi dengan lima unit mesin untuk membuat kerajinan tempurung kelapa.

Nama kelompok Kobek Millenial Papua diusulkan oleh Mama Yane. Nama ini memiliki makna yang sangat berarti baginya. “Kobek itu artinya kelapa dalam bahasa Biak. Millenial Papua yang juga berarti era milenial saat ini kita harus lebih semangat dalam apapun,” jelas Mama Yane.

Para anggota Kobek Millenial Papua tampak sedang mengerjakan pesanan di rumah produksi yang dilengkapi dengan 5 unit mesin untuk membuat kerajinan tempurung kelapa.

Pesanan untuk PON XX

Dalam kelompok tersebut, Mama Yane dibantu oleh lima orang yang terdiri dari sanak keluarganya untuk memproduksi kerajinan tempurung kelapa sekaligus menjual hasil kerajinannya. Harga produk yang dipatok untuk setiap hasil kerajinannya, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 2 jutaan. Total omzet atau penjualan kelompok itu dari sejak didampingi Pertamina tahun 2019 hingga saat ini telah mencapai puluhan jutaan rupiah.

Penjualan kerajinan tempurung kelapa yang dikerjakan oleh Mama Yane dan kelompoknya ini kebanyakan mendapatkan pesanan melalui facebook “Kobek Millenial Papua”, yang dibantu juga pembuatan akunnya oleh Pertamina. Selain itu, Mama Yane juga menjajakan hasil kerajinannya di pinggir jalan raya perempatan Kelurahan Imbi, Kota Jayapura.

Selain membuatkan laman facebook, Pertamina juga membuatkan kartu nama sebagai sarana promosi. “Jadi siapa saja yang pernah melihat kerajinan yang kami buat ini pasti tak lupa saya sisipkan kartu nama, agar orang-orang itu bisa mengingat kerajinan yang kami buat,” ujar Mama Yane.

Dia menceritakan, kerajinan dari tempurung kelapa tidak membutuhkan modal yang besar. Bahkan, pembuatan kerajinan ini relatif mudah dan ramah lingkungan. Selama ini, limbah tempurung kelapa didapatkan dari penjual kelapa di Koya, salah satu daerah yang terkenal dengan sentra pertanian dan perkebunan di Kota Jayapura.

Tempurung kelapa dibeli seharga Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per buah. Dari bahan baku limbah tempurung kelapa tersebut, dihasilkan beberapa produk misalnya alat makan dan minum, yang dijual dengan harga mulai Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu per set.

Mama Yane juga memproduksi lampu hias dari tempurung kelapa seharga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, tergantung besar dan kecilnya lampu hias. Lampu-lampu hias ini per satu lampu dibuat dalam waktu dua hari.

Dengan semangat, Mama Yane terus mengajarkan pemanfaatan limbah sampah dan menghasilkan keuntungan bagi keberlangsungan hidup sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.

Hasil kerja keras Mama Yane akhirnya berbuah manis. Kelompok Kobek Milenial Papua telah mengantongi pemesanan cinderamata untuk kebutuhan PON XX yang rencananya diselenggarakan di Papua tahun 2021.

“Pelan-pelan pesanan ini akan kami kerjakan, agar para tamu bisa membawa cinderamata hasil karya anak asli Papua,” kata Mama Yane sambil tersenyum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here