Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Ignatius Talullembang.

Jakarta, Petrominer – Pandemi Covid-19 berdampak pada kinerja operasional dan keuangan perusahaan. Meski begitu, PT Pertamina (Persero) komitmen untuk terus melanjutkan pembangunan kilang. Pasalnya, proyek tersebut sangat strategis untuk masa depan pemenuhan energi nasional.

Direktur Megaproyek Pengolahan & Petrokimia, Ignatius Tallulembang, menjelaskan bahwa membangun kilang merupakan keharusan dan keniscayaan bagi suatu negara. Secara global, hampir semua negara dengan dengan populasi yang besar mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar domestik secara mandiri. Ini dilakukan dalam rangka menjamin ketersediaan energi atau security of supply.

“Langkah tersebut tidak bisa ditawar. Bahkan pada negara yang tidak menghasilkan crude sekalipun, mereka juga tetap memprioritaskan membangun kilang. Sehingga di negara maju, umumnya mereka untuk pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri menggunakan produksi dalam kilang sendiri dan telah zero import,” ujar Ignatius, Sabtu (6/6).

Menurutnya, Singapura dengan penduduk sebanyak 5 juta orang, memiliki kapasitas produksi kilang mencapai 1,5 juta barel per hari. Kapasitas ini lebih besar dari kapasitas produksi kilang Indonesia saat ini, yakni sekitar 1 juta barel per hari. Hal ini dapat dipahami, karena keberadaan kilang memiliki profitabiltas yang tinggi.

“Kami juga telah melakukan kajian dan evaluasi. Hasilnya, membangun kilang akan memberikan nilai tambah atau profitabilitas baik bagi perusahaan maupun negara,” ungkap Ignatius.

Mengenai arti strategis upgrading kilang eksisting atau Refinery Development Master Plan (RDMP), dan pembangunan kilang baru atau dan Grass Root Refinery (GRR) Pertamina, dia memaparkan bahwa proyek yang digagas sejak tahun 2014 lalu itu dilatarbelakangi sejumlah persoalan energi yang dihadapi Indonesia.

Untuk memenuhi kapasitas optimum kilang, crude yang diperlukan tidak cukup dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Sebagian besar crude impor merupakan sour crude dengan kandungan sulfur yang tinggi. Sementara kilang Pertamina dirancang untuk mengolah sweet crude, yaitu crude yang memiliki kandungan sulfur lebih rendah.

“Karenanya, kilang kita perlu penyesuaian agar lebih mudah dan efisien dalam mengolah crude dalam maupun luar negeri” tegas Ignatius.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa hal tersebut juga berhubungan dengan kondisi kilang Indonesia yang sebagian besar sudah tua dengan teknologi lama dan kompleksitas lebih rendah. Karena itulah, perlu segera dilakukan modifikasi untuk meningkatkan daya saingnya.

Tantangan lainnya, menyangkut supply and demand. Saat ini, Pertamina memiliki lima kilang yakni Balikpapan, Cilacap, Balongan, Dumai, Plaju dan satu kilang kecil di Sorong, dengan total produksi BBM sekitar 680 ribu barel per hari. Sementara konsumsi BBM nasional sejak tahun 2017 telah mencapai 1,4 juta barel per hari.

“Artinya ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM masih tinggi. Meski sejak kuartal pertama tahun 2019 Pertamina sudah berhasil tidak mengimpor Solar dan Avtur, namun impor produk lain masih diperlukan” jelas Ignatius.

Dan yang terakhir, perlunya segera Indonesia memaksimalkan jumlah produksi BBM dengan spesifikasi lebih tinggi dan lebih ramah lingkungan.

Hal inilah, tegasnya, yang mendorong Pertamina untuk menggenjot produksi BBM dengan standar yang lebih tinggi, yakni Euro 4 dan 5. Langkah ini pararel dengan upaya Pertamina untuk terus mendorong masyarakat menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan lebih ramah lingkungan seperti Pertamax dan Pertamax Turbo.

“Dengan keempat alasan strategis tersebut, pengembangan dan pembangunan kilang Indonesia menjadi sebuah keharusan dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi untuk Indonesia,” tegas Ignatius.

Pertamina diberikan penugasan oleh Pemerintah untuk pengembangan dan pembangunan kilang BBM dan petrokimia di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here